Secara etimologi, tauhid berarti keesaan. Tauhid memiliki makna mengesakan Allah SWT. Dalam surah Ibrahim ayat 24-26, tauhid digambarkan seperti sebuah pohon.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (QS Ibrahim 24- 26)
Dari ayat di atas, dapat ditafsirkan pohon sebagai manusia. Akar merupakan sumber dari hidupnya pohon menggambarkan tauhid terhadap Sang Pencipta. Akar yang menjadikan sebuah pohon menjulang keatas dengan kokohnya. Sehingga tumbuhlah batang, ranting, daun dan buah. Apabila akarnya tumbuh dengan baik, maka akan menghasilkan dahan, ranting, daun hingga buah yang baik. Begitu juga sebaliknya. Begitu juga dengan tauhid. Seseorang bertauhid dengn baik akan menjadi pribadi yang baik.
Hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhannya dipastikan hubungannya dengan sesama mahkluk Tuhan akan baik pula. begitu sebaliknya. Akidah seseorang yang lemah imannya akan berdampak pada perilakunya tidak baik terhadap sesama
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS Ar Rum :30 )
Kalimat tauhid “La ilaha illallah” adalah tiket surga Allah. Setiap orang yang meninggal dalam bertauhid yang benar jaminannya surga.
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaha illallah, maka dia akan masuk surga (HR. Abu Daud)
Maka seorang yang tidak memiliki aqidah yang benar sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan pemikiran, dan ahirnya mudah keluar dari ajaran agama Islam.
Tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan aqidah.
Pertama, kurangnya Tafaquh fiddiin,
Kurangnya mengkaji ilmu agama Islam, orang tidak paham terhadap islam sangat mudah terbius berbagai faham yang jauh dari nilai islam.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah : 122)
Kedua, Ta’ashshub.
Fanatik terhadap golongan dan warisan nenek moyang, meskipun nenek moyang mereka jauh dari nilai nilai islam
وَاِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا اَنزَلَ اللّٰهُ قَالُوا بَل نَـتَّبِعُ مَا اَلفَينَا عَلَيهِ اٰبَاءَنَا اَوَلَو كَانَ اٰبَاؤُهُم لَا يَعقِلُونَ شَيـًٔـا وَّلَا يَهتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab, (Tidak) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk. (QS Al Baqoroh: 170)
Ketiga, At-Takliid.
Mengikuti tanpa landasan dalil. Ini akibat dari tidak mau bertafaquh fiddin dan ahirnya hanya ikut ikutan dalam beragama.
فَاسْأَلُوا أَهْل الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Tanyakanlah kepada ahli ilmu apabila kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl : 43)
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Mereka berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. (QS. Az Zukhruf: 22).
Keempat, Alghulu. (berlebih lebihan)
Banyak umat Islam yang berlebihan dalam menghormati para wali dan orang-orang saleh. Mereka mengangkatnya melebihi kedudukannya sebagai manusia.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ
Katakanlah Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang Telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka Telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (HR. al-Mā’idah: 77)
Kelima, Alghoflah (lalai)
Mmanusia lalai dalam merenungkan ayat-ayat Allah baik dari ayat kauniyah maupun qur’aniyah. manusia terlalu mengagumi materi dan tehnologi dan ahirnya lupa akan keagungan dan kedahsatan Alloh.
يٰۤاَيُّهَا الاِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الكَرِيمِ
Wahai manusia Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia. (QS Al infithor. 6)
Keenam, Kurangnya qudwah hasanah dari orang tua.
Hilangnya bimbingan agama yang benar dari orang tua. Padahal peranan orang tua sebagai pembina putra-putrinya sangatlah besar. Sebagaimana diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW.
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani. (HR Bukhari dan Muslim).
Ketujuh, Gencarnya makar kafir dalam merusak aqidah.
Terjadinya penyimpangan aqidah melalui media yang sedimikian masif didunia informasi sehingga sulit dikontrol oleh lembaga apapun, sehingga menjadi perusak generasi umat Islam yang sangat fatal.
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَاءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al Baqoroh 120)


Tinggalkan Balasan