Salah satu pondasi ajaran Islam adalah tauhid (Aqidah). Aqidah adalah tali ajaran islam yang akan mengendalikan seorang Muslim agar tidak berjalan tanpa arah yang jelas. Aqidah ajaran yang akan mengarahkan seorang Muslim menuju satu tujuan yang dicita-citakan. Terminal dari aqidah adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka aqidah tidak hanya ajaran yang bersifat normatif, tetapi akidah akan memberikan efek positif dalam kehidupan seorang Muslim, efek itu antara lain :
1. Membebaskan Manusia dari Pengabdian kepada Selain Allah.
Tauhid adalah pengabdian manusia kepada sang Penciptanya, yaitu Allah Yang Maha Esa. Sedangkan kemusyrikan adalah pengabdian kepada makhluk sesamanya yang tidak memiliki kekuatan untuk membahayakan atau memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.
Tauhid merupakan pembebasan akal manusia dari khurafat. Pembebasan hati dan jiwa dari penguasaan syetan dan hal-hal yang menganggap dirinya sebagai tuhan.
2. Menekankan Keseimbangan Antara Perilaku dan Perbuatan.
Semua gerak yang dilakukan oleh seorang muslim dalam setiap aktifitasnya adalah dalam rangka memperoleh ridha Allah Dalam segala kondisi. Karena keyakinan seorang mu’min tidak dapat dibagi-bagi antara beberapa tuhan di mana ia harus berupaya memberikan kepuasan kepada semuanya. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا
Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya. (Az-Zumar: 29)
قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Dia berkata: Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS:Al-An’am: 80-82)
3. Mewujudkan Jiwa yang Aman, Damai dan Tangguh
وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81) الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka, manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-An’am: 81-82)
Orang yang beriman selalu bertawakkal kepada Allah dan selalu berlindung kepadaNya. Ia tahu bahwa Allah adalah yang memiliki semua kekuasaan. Sikap seperti ini akan memberikan rasa aman dalam dirinya, percaya penuh kepada Allah, selalu berserah diri kepada-Nya, dan hatinya selalu merasa tentram dengannya. Karena Hanya Allah sajalah yang memiliki kekuasaan yang mutlak. Seperti ucapan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya:
يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآَيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ
Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. Yunus: 71)
Nabi Hud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya:
فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Oleh sebab itu, lakukanlah tipu dayamu semuanya kepadaku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (Hud: 55-56)
Begitulah jiwa para nabi itu telah memiliki rasa percaya, tentram dan aman, karena ia mengetahui kekuasaan Allah dan keagunganNya. Ia mengetahui kehinaan sifat makhluk dan mengetahui bahwa makhluk itu tidak mempunyai kekuasaan apapun.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS:An-Nuur : 55)
4. Menanamkan Prinsip Persaudaraan dan Persamaan
Islam adalah agama tauhid, Islam menjadikan manusia tunduk kepada Tuhan mereka. Tidak dibenarkan seseorang mempertuhankan selain Allah. Dan tidak dibenarkan pula seseorang memperhambakan yang lain. Karena manusia semuanya sama dalam hal kemanusiaannya, dan sebagai makhluk biologis. Dan semua orang yang mengesakan Allah sama kewajibannya Tidak ada keistimewaan dalam Islam karena warna kulit, kebangsaan, pekerjaan dan lain-lainnya kecuali ketaqwaannya. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu semua menurut Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. (Al-Hujurat: 13)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS:An-Nahl : 97)
Simak Streaming Kajian Serial Akidah ke-4 melalui link berikut;


Tinggalkan Balasan