Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ الّذي خلق الإنسانَ من نُطفةٍ ثمّ سوّاه وعدّله، وألهمه فجورَه وتقواه، ليبلوه أيُّهُم أحسن عملًا.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّدًا عبدُه ورسولُه، صلّى الله عليه وعلى آله وصحبِه وسلّم تسليمًا كثيرًا.
Amma ba’du,
Wahai jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, hidup kita akan terarah, hati menjadi tenang, dan amal kita bernilai di sisi Allah.
🌿 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullāh,
Salah satu tanda orang beriman adalah mampu mencermati kekurangan dirinya sendiri.
Sementara tanda orang lalai ialah sibuk menilai orang lain, namun lupa menilai dirinya sendiri.
Padahal Allah ﷻ telah memperingatkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al-Ḥasyr [59]: 18)
Ayat ini adalah seruan muhasabah, agar setiap kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia, lalu menilai:
Bagaimana shalatku selama ini?
Bagaimana hatiku dalam beribadah?
Apakah aku sudah jujur kepada Allah dalam amal-amalku?
🌿 Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang agung:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِيَّ
“Orang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap Allah.”
(HR. Tirmidzi no. 2459, hasan)
Hadis ini mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan pada akal dan kepintaran, tetapi pada kemampuan seseorang menundukkan hawa nafsu dan memperbaiki kekurangannya.
🌿 Wahai hamba Allah,
Banyak di antara kita yang mudah berkata tentang kekurangan orang lain, tetapi sulit mengakui kelemahannya sendiri.
Kita pandai menilai amal orang lain tidak ikhlas, namun lupa bertanya apakah amal kita diterima.
Allah ﷻ mengingatkan dalam firman-Nya:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS An-Naǧm [53]: 32)
Seorang ulama salaf berkata:
“Barang siapa sibuk dengan kekurangan dirinya, maka ia tidak sempat melihat kekurangan orang lain.”
Inilah sifat orang beriman. Ia selalu memeriksa dirinya, takut amalnya tertolak, takut hatinya berpenyakit, dan takut hari esok tiba tanpa persiapan.
Lihatlah bagaimana Allah menggambarkan sifat orang-orang beriman yang sejati:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (beramal), dengan hati yang takut karena mereka yakin akan kembali kepada Tuhannya.”
(QS Al-Mu’minūn [23]: 60)
🌿 Mereka beramal banyak, tapi hatinya tetap takut amal itu tidak diterima.
Sedangkan kita, sedikit amal namun sudah merasa cukup, seolah sudah aman dari hisab.
Padahal hakikat muhasabah bukan untuk menakut-nakuti diri, tapi untuk memperbaiki diri.
Agar setiap kesalahan di masa lalu menjadi jalan taubat di masa depan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
“Beruntunglah orang yang kesibukannya memperbaiki aib dirinya menghalanginya dari mencela aib orang lain.”
(HR. al-Bazzār no. 845, hasan)
Maka wahai jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita merenungi, berapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk melihat kekurangan orang lain, dan berapa sedikit waktu kita untuk menilai diri sendiri.
Betapa sering lisan kita cepat mengomentari, tetapi lambat untuk beristighfar.
Kini saatnya kita menundukkan kepala dan berkata:
“Ya Allah, bukan orang lain yang salah, tetapi aku yang kurang bersyukur.
Bukan orang lain yang buruk, tetapi aku yang banyak kekhilafan.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang jujur dalam menilai diri, lembut hatinya untuk memperbaiki kekurangan, dan tekun memperbanyak amal sebelum ajal menjemput.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، حمدًا كثيرًا طيّبًا مباركًا فيه، كما يحبُّ ربُّنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحدَه لا شريكَ له، وأشهد أنَّ محمّدًا عبدُه ورسولُه.
اللهم اغفر لنا ذنوبنا كلها، دِقّها وجِلَّها، أوّلها وآخرها، علانيتها وسرّها.
اللهم أصلح قلوبنا، وزكِّ نفوسنا، واغفر زلّاتنا، واهدنا لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت.
اللهم اجعلنا من الذين إذا ذُكّروا تذكّروا، وإذا أخطأوا استغفروا، وإذا أذنبوا تابوا إليك توبةً نصوحًا.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات، برحمتك يا أرحم الراحمين.
عباد الله،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ.
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Tinggalkan Balasan