Arti Aqidah. Aqidah adalah sesuatu yang mengikat hati seseorang, yaitu iman (keyakinan) yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.
– Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.
– Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat syahnya semua amal ibadah manusia. Tanpa aqidah yang benar dan lurus maka amal ibadah manusia tidak diterima oleh Alloh. Perbuatan yang paling merusak aqidah adalah syirik, yaitu mensejajarkan Alloh dengan makhluk atau benda ciptaanNya. Allah berfirman
وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Dan Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah) niscaya akan gugurlah amalmu dan sungguh engkau akan menjai orang-orang yang rugi. (QS. Az-Zumar: 65).
– Begitu pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga ajaran aqidah adalah merupakan dakwah yang pertama-tama dilakukan para Rasul Rosul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan syariahnya. Alloh berfirman
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu (QS. An-Nahl : 36)
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْ اِلَيْهِ اَنَّه لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنَا فَاعْبُدُوْنِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku (QS. Al-Anbiya: 25)
Maka ilmu aqidah merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin selamat agamanya. Tanpa aqidah yang benar dan lurus seseorang akan terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka (tahayul) yang salah.
SEBAB SEBAB TIMBULNYA PENYIMPANGAN DALAM AQIDAH
1. Jahalah, (Kebodohan) ini disebabkan tidak adanya kemauan untuk mempelajarinya, sehingga ia tidak bisa mengenal mana yang benar mana yang salah menurut aqidah Islam.
سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ
Pada akhir zaman nanti akan keluar suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh pikirannya. Mereka berkata dengan sebaik-baik perkataan makhluk, mereka membaca al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka melesat menembus agama ini sebagaimana anak panah menembus sasarannya (HR. Muslim)
2. Ta’ashub. (Fanatik) fanatik kepada sesuatu yang diwarisi orang tua atau nenek moyang kita (tradisi), sekalipun hal itu bathil,
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَا اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَا اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ١٧٠
Apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami. Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk (QS. Al Baqoroh: 170)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (QS.Ali Imran: 100)
Sehingga para penyeru kesesatan dan tokoh-tokoh kekafiran memandang remeh terhadap kaum Muslimin. Mereka memecah belah kaum muslimin menjadi golongan-golongan dan partai-partai serta berbangga bangga dengan golongan dan partainya masing masing.
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Ar-Rûm: 32)
3. Taqlit (mengikuti secara buta) yaitu mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui ilmunya. Hal seperti ini tidak boleh dalam islam.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ
Apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka) (QS. Luqmân : 21)
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Isrâ’: 36)
4. Ghuluw (berlebih lebihan) dalam mencintai para wali atau orang-orang shalih, para kiyai dengan berlebihan. mengikuti ajaran seorang shaleh panutannya sambil menolak atau meremehkan ajaran dari orang sholeh lainnya.
قُلْ يَٰأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ ٱلسَّبِيلِ
Katakanlah: Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Qs. Al Ma’dah: 77)
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.
Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. (HR Ahmad)
5. Ghaflah (lalai) yaitu lalai terhadap kebesaran dan sifat-sifat Allah baik kauniyahnya maupun qouliyahnya, Mereka lebih kagum pada hasil karya manusia, teknologi, seni dan kebudayaan manusia. Bahkan mereka menganggap keunggulan dan keindahan karya manusia itu murni hasil kreasi manusia semata tanpa campur tangan Allah. Ingatlah firman Allah,
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu. (As-Shaffat: 96)
6. Usrotun (Rumah tangga/keluarga) keluarga yang hampa dari ajaran Islam, yaitu para orang tua yang tidak peduli terhadap pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya.
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani. (HR Bukhari dan Muslim).
7. Bii’ah. (lingkungan) lingkungan sangat besar pengaruhnya dlm mewarnai aqidah seseorang. orang arab bilang “Aljaaru qobla daar” (pastikan lingkungan yang baik sebelum membangun rumah)
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS.ath-Thûr:21).


Tinggalkan Balasan