Mukadimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Dzat yang menggenggam setiap hati, yang membolak-balikkan antara jari-jemari-Nya, yang memberikan cahaya petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan membiarkan dalam kesesatan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita, sang pembawa risalah petunjuk, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang istiqomah di atas jalan Hidayah hingga akhir zaman.

Jamaah sekalian, kehidupan di dunia ini adalah sebuah perjalanan. Sebuah safar yang singkat menuju keabadian. Dalam perjalanan ini, setiap manusia dihadapkan pada dua persimpangan jalan yang fundamental: jalan Hidayah (petunjuk) dan jalan Dholalah (kesesatan). Dua jalan ini adalah realitas yang akan terus ada, sebuah pertarungan abadi yang panggungnya adalah hati dan jiwa setiap insan. Memahami hakikat keduanya, sebab-sebabnya, dan bagaimana cara meraih yang satu serta menghindari yang lain, adalah sebuah keniscayaan bagi siapa saja yang merindukan keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

BAGIAN 1: MEMAHAMI HAKIKAT HIDAYAH (PETUNJUK)

Secara bahasa, hidayah berarti petunjuk atau bimbingan. Namun dalam terminologi syar’i, para ulama membagi hidayah menjadi beberapa tingkatan. Secara umum, ada dua jenis hidayah yang sangat penting untuk kita pahami:

Hidayah Al-Irsyad wal Bayan (Hidayah berupa Penjelasan dan Bimbingan)

Ini adalah hidayah yang bersifat umum. Allah, dengan kasih sayang-Nya, tidak membiarkan manusia hidup tanpa arah. Dia mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab suci, dan membentangkan ayat-ayat-Nya di alam semesta (ayat kauniyah) dan dalam Al-Qur’an (ayat qauliyah). Hidayah jenis ini diberikan kepada seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kafir. Tujuannya adalah untuk menjelaskan mana jalan yang lurus dan mana jalan yang bengkok.

Al-Qur’an adalah puncak dari Hidayah al-Irsyad ini. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Hidayah At-Taufiq wal Ilham (Hidayah berupa Taufik untuk Mengikuti dan Kemauan)

Inilah hidayah yang paling krusial. Tidak semua orang yang mendapatkan Hidayah al-Irsyad (penjelasan) akan mendapatkan Hidayah at-Taufiq. Hidayah jenis ini adalah anugerah khusus dari Allah yang Dia tanamkan di dalam hati seorang hamba, sehingga hamba tersebut bukan hanya tahu mana yang benar, tetapi juga mau, cinta, dan dimampukan untuk mengikuti kebenaran tersebut. Inilah hidayah yang mutlak berada di tangan Allah.

Bahkan Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tidak memiliki kuasa untuk memberikan hidayah taufik ini. Allah menegaskan hal ini kepada Nabi-Nya ketika beliau sangat bersedih karena pamannya, Abu Thalib, tidak mau beriman hingga akhir hayatnya.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas: 56)

Karena hidayah taufik ini begitu mahal dan sepenuhnya milik Allah, maka kita diperintahkan untuk memintanya setiap saat. Inilah rahasia mengapa dalam setiap rakaat shalat, kita wajib membaca doa teragung dalam surat Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Permintaan ini bukan hanya permintaan untuk ditunjukkan jalannya, tapi permohonan agar kita diberi taufik untuk meniti jalan itu dan istiqomah di atasnya hingga bertemu dengan-Nya.

BAGIAN 2: MENGENAL DHOLALAH (KESESATAN) DAN AKAR PENYEBABNYA

Jika hidayah adalah cahaya, maka dholalah adalah kegelapan. Dholalah adalah kondisi di mana seseorang menyimpang dari jalan yang lurus (Ash-Shirathal Mustaqim). Kesesatan ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat dari sebab-sebab yang seringkali diremehkan oleh manusia. Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Kesesatan seringkali merupakan pilihan atau akibat dari perbuatan hamba itu sendiri.

Di antara akar-akar penyebab kesesatan adalah:

1. Al-Jahl (Kebodohan)

Kebodohan terhadap agama adalah pintu gerbang terbesar menuju kesesatan. Orang yang tidak mau belajar tentang siapa Tuhannya, siapa Nabinya, dan apa agamanya, akan sangat mudah diombang-ambingkan oleh syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat (hawa nafsu).

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dari hadits ini adalah, barangsiapa yang tidak Allah kehendaki kebaikan baginya, Dia akan membiarkannya jahil (bodoh) terhadap agamanya, dan ini adalah awal dari dholalah.

2. Ittiba’ul Hawa (Mengikuti Hawa Nafsu)

Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang disenanginya. Ketika hawa nafsu ini tidak dikendalikan oleh iman dan ilmu, ia akan menjadi tuhan yang ditaati. Kebenaran akan ditolak jika tidak sesuai dengan seleranya, dan kebatilan akan diikuti jika terasa nikmat baginya. Allah SWT berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jathiyah: 23)

3. Al-Kibr (Kesombongan)

Kesombongan adalah penyakit paling mematikan. Ia adalah dosa pertama yang dilakukan oleh Iblis ketika ia menolak untuk sujud kepada Adam. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Orang yang sombong, hatinya tertutup dari menerima nasihat. Ia merasa dirinya paling benar, paling hebat, sehingga petunjuk Allah pun ia tolak mentah-mentah.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Kesombongan inilah yang menghalangi Firaun, Abu Jahal, dan para pembesar Quraisy lainnya dari menerima hidayah.

4. Waswasah Asy-Syaithan (Bisikan Setan)

Setan telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan anak cucu Adam. Ia adalah musuh yang nyata. Ia akan mendatangi manusia dari segala penjuru, menghiasi kebatilan agar tampak indah, dan menanamkan keraguan terhadap kebenaran.

Allah mengingatkan kita:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir: 6)

BAGIAN 3: IKHTIAR MANUSIA DALAM MENJEMPUT HIDAYAH

Hadirin yang mulia,
Meskipun Hidayah at-Taufiq adalah hak prerogatif Allah, bukan berarti kita hanya pasrah menunggu tanpa usaha. Allah Maha Adil. Dia akan memberikan hidayah kepada hamba-hamba yang menunjukkan kesungguhan dalam mencarinya. Inilah yang disebut “menjemput hidayah”. Apa saja ikhtiar yang harus kita lakukan?

1. Doa yang Tulus dan Berkesinambungan

Senjata utama seorang mukmin adalah doa. Mintalah hidayah kepada Allah dengan penuh kerendahan hati dan rasa butuh, terutama di waktu-waktu mustajab. Rasulullah SAW sendiri, yang sudah dijamin surga dan ma’shum, tidak pernah berhenti berdoa memohon keteguhan hati. Di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

2. Mengkaji Al-Qur’an dengan Tadabbur

Al-Qur’an adalah sumber hidayah. Namun, ia tidak akan memberikan cahayanya kepada orang yang hanya membacanya tanpa merenungi maknanya (tadabbur). Jadikan Al-Qur’an sebagai teman setia, bacalah terjemahannya, pelajari tafsirnya, dan berusahalah untuk mengamalkannya.

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

3. Bergaul dengan Orang-Orang Shalih (Lingkungan yang Baik)

Manusia sangat mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Berteman dengan orang shalih akan senantiasa mengingatkan kita pada kebaikan, menasihati saat kita salah, dan memotivasi kita untuk taat. Sebaliknya, berteman dengan ahli maksiat akan menyeret kita ke dalam jurang kesesatan. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ…

Artinya: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi…” (HR. Bukhari & Muslim)

Penjual minyak wangi akan memberimu wewangian, atau setidaknya engkau akan mencium bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa jadi akan membakar pakaianmu, atau setidaknya engkau akan mencium bau busuk darinya.

4. Menghadiri Majelis-Majelis Ilmu

Majelis ilmu adalah taman-taman surga di dunia. Di dalamnya, dibacakan ayat-ayat Allah, dijelaskan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, dan diturunkan sakinah (ketenangan) serta rahmat dari Allah. Menghadiri majelis ilmu adalah cara paling efektif untuk melawan kebodohan dan membuka pintu hidayah.

PENUTUP: BUAH MANIS HIDAYAH DAN PAHITNYA DHOLALAH

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pilihan ada di tangan kita. Jalan hidayah akan berbuah manis, tidak hanya di akhirat kelak, tetapi juga di dunia. Buah termanisnya adalah Thuma’ninatul Qalb, ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan harta dunia. Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Sebaliknya, jalan dholalah akan berujung pada kepahitan dan penyesalan abadi. Di dunia, hidupnya akan terasa sempit, gelisah, dan hampa, meskipun bergelimang harta. Allah mengancam:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْשُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Marilah kita bermuhasabah. Di manakah posisi kita saat ini? Apakah kita sedang berjalan di atas rel hidayah, ataukah kaki kita mulai tergelincir ke jurang dholalah? Jangan pernah merasa aman dari kesesatan, dan jangan pernah putus asa dari memohon hidayah.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, melapangkan dada kita untuk menerima kebenaran, meneguhkan hati kita di atas agama-Nya, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah di atas jalan hidayah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *