This is post 3 of 9 in the series “Serial Aqidah”

  1. Pentingnya Aqidah dalam Kehidupan
  2. Pengertian Aqidah Islamiyah
  3. Aqidah Pondasi Kehidupan
  4. Pengaruh Tauhid dalam Kehidupan
  5. Tauhid Pohon Kehidupan
  6. 7 Alasan Manusia Harus Punya Aqidah Yang Benar
  7. Hakikat Keimanan Kepada Allah (Serial Akidah)
  8. Iman Itu Wajib Dijaga
  9. Merawat Iman Agar Tetap Istiqamah

Perkara terpenting yang harus difahami oleh kaum muslimin adalah aqidah/keimanan. Ibarat pohon ia merupakan akar yang harus menghunjam kuat kebumi, ia merupakan dasar tumbuh tegaknya nilai nilai islam. Maka jika akar kuat tumbuh ditempat yang subur, akan kuat dan suburlah pula islam, jika akarnya lemah jadilah islam yang lemah mudah goyah dan ambruk.

Sebagaimana digambarkan Alloh dalam Al Qur’an. (QS. Ibrahim: 24-25)

الَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS Ibrahim :24) 

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ  ثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ  وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ    وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahiim : 25)

Maka Rosululloh SAW dalam membimbing dan menempa para shohabatnya pertama adalah menempa aqidah, selama fase makiyah kurang lebih 13 tahun ia fokuskan pada nilai nilai aqidah, sehingga terbentuklah aqidah yang kuat dan kokoh. sehingga menumbuhkan islam yang kokoh dan indah. Berikut salah satu kisah kekuatan aqidah shohabat Nabi SAW. 

عنْ سُوَيْدِ بنِ الحَارِثِ قال: وَفَدْتُ سَابِعَ سَبْعَةٍ  مِنْ قَوْمِي عَلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا دَخَلْنَا عَلَيْهِ، وَكَلَّمْنَاهُ  أَعْجَبَهُ مَا رَأَى مِنْ سَمْتِنَا وَزِيِّنَا  فَقَالَ:  مَاأَنْتُمْ ؟ قُلْنَا : مُؤْمِنُونَ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ:  إِنَّ لِكُلِ قَوْلٍ حَقِيقَةً  فَمَا حَقِيقَةُ قَوْلِكُمْ وَإِيمَانِكُمُ ؟ قُلْنَا: خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً  خَمْسٌ مِنْهَا أَمَرْتَنَا بِهَا رُسُلُكَ أَنْ نُؤْمِنَ بِهَا، وَ خَمْسٌ أَمَرْتَنَا أَنْ نَعْمَلَ بِهَا، وَخَمْسٌ تَخَلَّقْنَا بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ  فَنَحْنُ عَلَيْهَا الآنَ، إِلا أَنْ تُكْرَهَ مِنْهَا شَيْئاً فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  وَمَا الخَمْسُ الَّتِي أَمَرْتْكُم بِهَا رُسُلي أَنْ تُؤْمِنُوا بِهَا ؟  قُلْنَا: أَمَرْتَنَا أَنْ نُؤْمِنْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسِلِهِ وَالبَعْثِ بَعْدَ المَوْتِ قَالَ:  وَمَا الخَمْسُ الَّتِي أَمَرْتُكُم أَنْ تَعْمَلُوا بِهَا ؟ قُلْنَا: أَمَرْتَنَا أَنْ نَقُوْلَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ، وَنُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَنُؤْتِيَ الزَّكَاةَ  وَنَصُوْمَ رَمَضَانَ ونَحُجَّ البَيْتَ الحَرَامِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً فَقَالَ:  وَمَا الخَمْسُ الَّتِي تَخَلَّقْتُم بِهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ ؟ قَالُوْا : الشُّكْرُ عِنْدَ الرَّخَاءِ وَ الصَّبْرُ عِنْدَ البَلاَءِ وَالرِّضَى بِمُرِّ القَضَاءِ وَالصِّدْقُ فِي موَاطنِ اللِّقَاءِ وَتَرْكُ الشَّمَاتَةِ بِالأَعْدَاءِ فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ كَادُوا مِنْ فِقههم أَنْ يَكُوْنُوا أَنْبِيَاءَ ثُمّ قَالَ: وَأَنَا أَزِيْدُكُم خَمْساً فَتَتِمُّ لَكُم عِشْرُوْنَ خَصْلَةً إِنْ كُنْتُمْ كَمَا تَقُوْلُوْنَ فَلا تَجَمَّعُوا مَا لا تَأْكُلُوْنَ وَلا تَبْنُوا مَا لا تَسْكُنُونَ وَلا تُنَافَسُوا فِي شَيْءٍ أَنْتُم عَنْهُ غَداً تَزُولُونَ وَاتَّقُوا اللهَ الذي إِلَيْهِ تُرْجِعُوْنَ  وَعَلَيْهِ تُعْرَضُون وَ ارْغَبُوا فِيمَا تَقْدمُونَ، وَفِيهِ تَخْلُدُونَ، فَانْصَرَفَ القَوْمُ مِنْ عِنْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحَفِظُوا وَصِيَّتَهُ عَمِلُوا بِهَا) . أَخْرَجَهَ أَبُو نُعَيْمٍ(

Dari suwaid bin harits berkata, kami ketujuh dari delegasi kaumku menghadap Rosululloh SAW. Ketika kami masuk kepadanya, kami mengungkapkan keinginan kami, beliau terheran melihat penampilan kami, lalu beliau bertanya kepada kami, Siapa kalian? kami menjawab, kami Orang-orang yang beriman, wahai Rasulullah. Nabi tersenyum lalu berkata, Sesungguhnya setiap ucapan itu ada buktinya, apa bukti iman kalian?

Kami menjawab, Lima belas sifat (sebagai buktinya). Lima di antaranya adalah yang diperintahkan oleh utusan-utusanmu untuk kami imani, lima yang engkau perintahkan kepada kami, dan lima yang sudah menjadi akhlak kami di masa jahiliah yang masih kami pertahankan kecuali bila ada yang tidak engkau suka.

Nabi SAW bertanya, Apa lima sifat yang telah diperintahkan oleh utusan-utusanku untuk kalian imani? Utusan-utusanmu memerintahkan kami untuk beriman kepada Allah, para malaikat, kitab suci, para rasul dan kepada hari berbangkit setelah kematian.

Lalu apa lima hal yang aku perintahkan untuk kalian kerjakan?  Mengucapkan Lailahaillallah Muhammadurrasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika mampu.

Kemudian apa lima hal yang sudah menjadi akhlak kalian di masa jahiliah?  Bersyukur ketika senang, sabar ketika musibah, ridha dengan pahitnya qadha (ketentuan Allah), ksatria di medan perang, dan tidak gembira dengan bencana yang menimpa musuh.

Nabi SAW berkata, kalian adalah orang-orang bijak dan cerdik cendekiawan. kalian hampir mencapai derajat para nabi karena kefaqihan kalian.

Nabi kemudian melanjutkan, Aku akan menambahkan lima hal lagi sehingga genap menjadi dua puluh sifat jika benar apa yang kalian katakan, Jangan kumpulkan apa yang tidak akan kalian makan, jangan bangun apa yang tidak akan kalian tempati, jangan mengejar sesuatu yang akan sirna dari kalian, takutlah kepada Allah yang kepada-Nya kalian dikembalikan, dan diperlihatkan amalan-amalan kalian serta kejarlah sesuatu yang pasti akan kalian jumpai dan di sana kalian akan kekal. kemudian berpalinglah delegasi tadi dari Rosululloh SAW, dan menjaga wasiyatnya tadi serta mengamalkannya. ( HR Abu Naim)

Rasulullah SAW telah meletakkan pondasi keimanan/aqidah di kalangangan para shohabatnya demikian kuat, dan tentu itu juga untuk kita sebagai umatnya.

Yang pertama dengan membangun dasar dasar iman dengan rukun rukunnya. kemudian membangun dasar dasar islam dengan rukun rukunnya yang lima. Lalu membangun dasar dasar akhlak yang indah dan mulia,  kemudian ia sempornakan dengan lima dasar nilai nailai social yang terpuji yaitu :

1) Jangan suka mengumpul kumpulkan makanan, yang kamu tidak akan memakannya ( serakah ). 

2. Jangan suka membangun bungunan yang kamu tidak akan menempati (perbuatan sia sia). 3. jangan mengejar kejar sesuatu yang akan kamu tinggalkan  (kemewahan dunia). 

4. Takutlah selalu kepada dzat yang kamu akan kembali kepadanya (kematian). 

5. Jangan kamu lupakan sesuatu yang pasti akan kamu jumpai dan kamu akan kekal disana (ahirat).

Larangan rosululloh lima yang terahir tadi merupakan perbuatan yang sia sia, hina, melampoi batas, dan menyebabkan kemarahan Alloh. Umat umat terdahulu dihancurkan oleh Alloh lantaran perbuatan ini, sebagaimana kaum tsamut, kaum aad, kaum bani israil dll. 

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ  فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ  وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ  

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di  waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. Huud : 100- 101)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ  إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ  الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ  وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ  الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ  فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ  فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ  إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ 

Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS. Al Fajr : 6 – 14)

Simak streaming kajian Aqidah Pondasi Kehidupan, jangan lupa sucscribe!


One response to “Aqidah Pondasi Kehidupan”

  1. […] kita menjadikan ibadah sebagai tujuan utama, segala aktivitas kita akan terasa lebih bermakna. Bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *