Di era modern yang didominasi oleh kemajuan sains dan teknologi, seringkali muncul perdebatan yang membenturkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Banyak yang menganggap keduanya berjalan di jalur yang terpisah, bahkan bertentangan. Namun bagi seorang Muslim, Al-Quran merupakan petunjuk spiritual sekaligus samudra ilmu untuk umatnya untuk berpikir, meneliti, dan mengamati alam semesta.
Dalam sebuah perbincangan santai di laman YouTube “Di Atas Jam 12”, Habib Husein Ja’far Al Hadar mengupas tuntas hubungan harmonis antara Islam dan sains. Beliau mengingatkan bahwa ada dua jenis “ayat” atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT: Ayat Qauliyah (ayat-ayat yang tertulis dalam Al-Quran) dan Ayat Kauniyah (ayat-ayat yang terhampar di alam semesta). Keduanya berasal dari sumber yang sama, yakni Allah SWT, sehingga mustahil bagi keduanya untuk saling bertentangan. Membaca alam semesta dengan kacamata ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah juga membaca ayat-ayat Tuhan.
Sebelum melangkah lebih jauh, Habib Ja’far memberikan sebuah peringatan penting mengenai pendekatan yang keliru dalam menghubungkan Al-Quran dan sains, yaitu “cocoklogi” atau pseudosains. Pseudosains adalah upaya mencocok-cocokkan secara paksa sebuah penemuan ilmiah dengan ayat Al-Quran. Praktik pseudosains berbahaya karena sifat ilmu pengetahuan (sains) adalah dinamis. Sebuah teori bisa jadi terbantahkan oleh teori baru di masa depan.
Misalnya, ketika ilmuwan menemukan bahwa atom adalah partikel terkecil, beberapa orang terburu-buru mengklaim bahwa inilah yang dimaksud dengan dzarrah dalam Al-Quran. Namun, belakangan sains menemukan partikel yang lebih kecil lagi seperti proton, neutron, dan elektron. Jika mengikat makna ayat Al-Quran yang absolut dan abadi dengan teori ilmiah yang bersifat sementara, maka ketika sebuah teori itu terpatahkan, seolah-olah Al-Quran ikut menjadi salah. “Ini bisa menjadi bumerang bagi dakwah itu sendiri,” tegas Habib Ja’far. Oleh karena itu, memandang Al-Quran sebagai sumber inspirasi jauh lebih bijak daripada memaksanya menjadi buku sains.
Al-Quran: Lautan Inspirasi bagi Para Ilmuwan

Pendekatan yang benar adalah menjadikan Al-Quran sebagai pendorong untuk melakukan penelitian. Sejarah telah membuktikan hal ini. Abdus Salam, seorang fisikawan Muslim asal Pakistan dan pemenang Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1979, secara terbuka mengakui bahwa banyak penemuannya, termasuk yang berkaitan dengan partikel fisika, terinspirasi setelah ia membaca dan merenungkan Al-Quran. Dalam bukunya ‘Faith and Science’, ia menegaskan bahwa konsep sains modern tidak bertabrakan dengan metafisika dalam pemahaman agama.
Al-Quran berulang kali memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya. Perintah seperti “Afala ta’qilun” (Apakah kamu tidak berpikir?) atau “Afala tatafakkarun” (Apakah kamu tidak merenung?) tersebar di banyak surat. Allah SWT secara eksplisit menantang kita untuk mengamati ciptaan-Nya:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. (QS. Fussilat: 53)
Ayat ini merupakan undangan terbuka dari Sang Pencipta bagi manusia untuk meneliti alam semesta, baik di bidang kosmologi (segenap penjuru) maupun biologi dan psikologi (pada diri mereka sendiri). Sebuah contoh menarik datang dari Jurnal Integrasi Sains dan Qur’an (JISQU) yang dikelola oleh SMA Trensains Muhammadiyah Sragen. Dalam salah satu edisinya, dipublikasikan penelitian berjudul “Modification of Catfish Feed with the Addition of Microbacteria from Banana Peel Fermentation”.
Sekilas, ini adalah penelitian bioteknologi sederhana. Namun, jika kita telusuri, semangat di baliknya sangatlah Qur’ani. Para siswa mengembagkan sebuah inovasi nyata untuk menyelesaikan sebuah masalah yang berada pada lingkungan yaitu pemanfaatan limbah kulit pisang yang melimpah dan terbuang sia-sia. Al-Quran secara tegas melarang perbuatan boros atau tabdzir. Allah berfirman:
…وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31)
Berangkat dari inspirasi ayat Al-Quran, mereka melakukan riset untuk mengubah sesuatu yang dianggap sampah menjadi produk bernilai, yaitu pakan ikan lele yang lebih efisien dan bergizi. Inilah bukti konkret bagaimana ajaran Al-Quran mampu mendorong lahirnya inovasi yang solutif dan berkelanjutan, menjawab tantangan zaman seperti ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan.
Al-Quran menginspirasi dari hal-hal yang dekat dengan keseharian, hingga ke misteri penciptaan alam semesta yang maha luas. Contohnya adalah teori Big Bang. Al-Quran menyebutkan dalam Surat Al-Anbiya ayat 30:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (QS. Al Anbya: 30)
Deskripsi “menyatu kemudian dipisahkan” (ratqan fa fataqnaahumaa) ini sangat selaras dengan konsep ledakan dahsyat dari satu titik tunggal yang menjadi cikal bakal alam semesta. Al-Quran tidak memberikan secara spesifik rumus fisika, tetapi memberikan isyarat kebenaran yang memantik rasa ingin tahu untuk menelitinya lebih dalam.
Al-Quran dan sains adalah dua sisi mata uang yang sama, keduanya merupakan ayat-ayat Allah yang saling melengkapi. Sains tanpa agama akan kehilangan arah moral dan bisa menjadi buta, sementara agama tanpa sains bisa terjebak dalam mitos dan takhayul yang pincang. Sebagaimana dikatakan Albert Einstein, “Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta.”
Tugas kita sebagai umat Islam adalah menggali inspirasi dari Al-Quran untuk terus meneliti ayat-ayat kauniyah-Nya, sambil senantiasa menjaga hati agar tidak terpedaya oleh kemilau dunia yang fana. Dengan begitu, ilmu yang kita peroleh tidak hanya akan membawa kemajuan material, tetapi juga meninggikan derajat spiritual kita di hadapan Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
- Risyad & Son. KONSPIRASI ISLAM & AL-QUR’AN FT HABIB JAFAR. 26 Juli 2025. https://www.youtube.com/watch?v=D6oDiecnH0k
- Frida, N. S., Syafiqoh, K. N., Rahmah, S., Utami, M. H., Zulfaa, N., & Widayoko, A. (2022). Modification of Catfish Feed with the Addition of Microbacteria from Banana Peel Fermentation. Jurnal Integrasi Sains dan Qur’an (JISQu), 1(1), 1-4.


Tinggalkan Balasan