Dunia. Satu kata yang merujuk pada panggung sandiwara besar tempat kita semua memainkan peran. Panggung ini dihiasi dengan berbagai pernak-pernik yang memukau mata, menawarkan aneka ragam kenikmatan yang seolah tiada habisnya. Gemerlap harta, pesona lawan jenis, kebanggaan akan keturunan, dan gengsi jabatan menjadi magnet kuat yang menarik manusia ke dalam pusarannya. Namun, di balik segala keindahannya, tersimpan sebuah hakikat yang seringkali terlupakan: kefanaan.
Allah SWT, Sang Pencipta panggung sandiwara ini, telah berulang kali mengingatkan kita melalui firman-firman-Nya agar tidak terpedaya. Dunia, dengan segala isinya, hanyalah kesenangan yang sementara dan menipu. Artikel ini akan mengajak kita untuk merenungi kembali hakikat kehidupan dunia dengan bertitik tumpu pada surat Ali Imran ayat 14-15 dan surat Al-Hadid ayat 20, serta diperkaya dengan hadits Rasulullah SAW sebagai penuntun jalan.
Identifikasi Kenikmatan Duniawi yang Melenakan
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT dengan sangat rinci memaparkan apa saja yang menjadi objek kecintaan manusia di dunia, yang berpotensi melalaikan mereka dari tujuan hidup yang sebenarnya. Hal ini tergambar jelas dalam Surat Ali Imran ayat 14:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَـٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَـٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ ١٤
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Ayat ini tidak sedang mengharamkan fitrah. Mencintai pasangan, menyayangi anak, dan memiliki harta adalah naluri alamiah yang Allah tanamkan. Namun, kata kunci dalam ayat ini adalah “zuyyina linnas” (dijadikan indah bagi manusia), yang mengisyaratkan bahwa keindahan tersebut bersifat artifisial dan berpotensi menjadi ujian.
Mari kita bedah satu per satu:
- Perempuan-perempuan (pasangan) dan anak-anak: Mereka adalah sumber kebahagiaan, penyejuk mata, dan penerus generasi. Namun, kecintaan berlebih dapat membuat seseorang lalai dari kewajibannya kepada Allah atau bahkan menempuh jalan yang haram demi membahagiakan mereka.
- Harta benda dari emas dan perak: Ini adalah simbol kekayaan dan kemewahan yang paling umum. Pengejaran tiada henti terhadap materi seringkali membuat manusia lupa waktu, lupa ibadah, dan bahkan lupa pada hak orang lain di dalam hartanya.
- Kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang: Di masa kini, ini dapat dianalogikan dengan kendaraan mewah, aset bisnis, dan properti. Semua ini adalah simbol status sosial dan sumber kebanggaan yang dapat menjerumuskan ke dalam kesombongan.
Penting untuk digarisbawahi, Allah menutup ayat ini dengan kalimat penyeimbang yang dahsyat: “Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Ini adalah pengingat tegas bahwa semua yang disebutkan tadi hanyalah mata’ul hayatid dunya, perbekalan hidup dunia yang bersifat temporer dan terbatas. Ada destinasi akhir yang jauh lebih baik dan kekal.
Tawaran Abadi yang Jauh Lebih Baik
Setelah memaparkan segala kenikmatan duniawi yang memukau namun fana, Allah SWT tidak membiarkan kita kebingungan. Pada ayat berikutnya, Dia langsung menawarkan alternatif yang jauh lebih mulia dan abadi. Ini adalah sebuah retorika yang sangat indah, mengajak akal dan nurani kita untuk berpikir dan memilih.
Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 15:
۞ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍۢ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتٌۭ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَٰجٌۭ مُّطَهَّرَةٌۭ وَرِضْوَٰنٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ ١٥
“Katakanlah (Muhammad), ‘Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta keridaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 15).
Inilah perbandingan yang sesungguhnya. Jika dunia menawarkan kenikmatan yang terputus-putus dan seringkali diiringi kekecewaan, maka akhirat menawarkan:
- Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai: Sebuah kenikmatan hakiki yang tak terbayangkan.
- Kekal di dalamnya: Berbeda dengan kesenangan dunia yang pasti berakhir, kenikmatan surga bersifat abadi.
- Pasangan-pasangan yang suci: Pasangan yang bersih dari segala kekurangan fisik maupun moral.
- Keridaan dari Allah (Ridwanum minallah): Inilah puncak dari segala kenikmatan.[1] Mendapatkan rida Allah adalah anugerah terbesar yang mengalahkan semua keindahan surga itu sendiri.
Tawaran ini secara khusus ditujukan “lilladzinattaqau” (bagi orang-orang yang bertakwa). Ini menunjukkan bahwa jalan untuk meraih kebaikan hakiki tersebut adalah dengan takwa, yaitu menjaga diri dari larangan Allah dan menjalankan perintah-Nya, termasuk dalam menyikapi pesona dunia.
Perumpamaan Siklus Kehidupan Dunia
Untuk lebih menegaskan betapa singkat dan menipunya kehidupan dunia, Allah SWT memberikan sebuah perumpamaan yang sangat mengena dalam Surat Al-Hadid ayat 20. Ayat ini melukiskan tahapan-tahapan kehidupan dunia yang dilalui manusia, yang pada akhirnya akan sirna tak berbekas.
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ٢٠
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. (Perumpamaannya) seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20).
Ayat ini membagi siklus kehidupan dunia menjadi lima fase:
- La’ib (Permainan): Masa kanak-kanak yang penuh permainan tanpa tujuan.
- Lahw (Senda Gurau/Kelengahan): Masa remaja yang mulai mencari hiburan dan kesenangan.
- Zinah (Perhiasan): Masa dewasa awal yang sibuk memperindah penampilan dan tampilan luar.
- Tafakhur (Saling Berbangga): Fase kemapanan di mana manusia mulai membanggakan status dan pencapaian.
- Takatsur (Berlomba Memperbanyak): Puncak ambisi duniawi, yaitu berlomba-lomba mengumpulkan harta dan keturunan.
Kemudian, Allah menganalogikan semua fase ini dengan siklus tanaman yang diairi hujan. Awalnya tumbuh subur dan hijau, mengagumkan para petani (pelaku dunia). Namun, tak lama kemudian ia akan mengering, menguning, layu, dan akhirnya hancur menjadi serpihan tak berharga. Begitulah kehidupan dunia. Seindah dan semegah apa pun pencapaiannya, ia akan berakhir dengan kepunahan. Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa di akhirat hanya ada dua pilihan: azab yang pedih atau ampunan dan rida Allah, seraya kembali melabeli dunia sebagai “mata’ul ghurur” (kesenangan yang memperdaya).
Nasihat Profetik: Hiduplah Bagaikan Seorang Musafir
Pemahaman tentang hakikat dunia ini telah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW dan diwasiatkan kepada para sahabatnya. Beliau tidak mengajarkan untuk membenci dunia, melainkan menempatkannya pada proporsi yang tepat: sebagai sarana, bukan tujuan.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari).
Hadits ini memberikan dua pilihan sikap bagi seorang mukmin. Menjadi gharib (orang asing) yang sadar bahwa ini bukan kampung halamannya, sehingga ia tidak terlalu terikat dan selalu rindu untuk pulang ke negeri asal (akhirat). Atau, menjadi ‘abir sabil (musafir), seorang pejalan yang hanya singgah sebentar.
Seorang musafir tidak akan sibuk membangun rumah permanen yang megah di tempat peristirahatan (rest area). Ia hanya akan beristirahat sejenak, mengisi bekal, lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuannya yang sesungguhnya. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW lebih menegaskan lagi:
“Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, dinilai shahih).
Pandangan inilah yang seharusnya terpatri dalam diri setiap muslim. Dunia bukanlah tujuan akhir. Ia adalah ladang untuk menanam amal saleh, jembatan untuk menyeberang menuju keabadian, dan tempat untuk mengumpulkan bekal takwa.
Kesimpulan: Menjadi Tuan, Bukan Hamba Dunia
Merenungi ayat-ayat dan hadits di atas bukan berarti kita harus meninggalkan dunia, hidup dalam kemiskinan, dan mengasingkan diri. Islam adalah agama yang seimbang. Pesannya adalah tentang prioritas dan orientasi hati. Silakan bekerja, berbisnis, berkeluarga, dan menikmati karunia Allah yang halal. Namun, jangan biarkan semua itu menguasai hati dan melalaikan kita dari Allah.
Jadikan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Gunakan harta untuk berzakat dan bersedekah. Manfaatkan jabatan untuk menebar keadilan dan kemaslahatan. Didiklah anak-anak untuk menjadi generasi yang saleh dan salihah. Dengan demikian, kenikmatan dunia yang fana itu justru berubah menjadi investasi abadi untuk akhirat.
Marilah kita senantiasa waspada agar tidak terpedaya oleh gemerlapnya panggung dunia ini. Semoga kita mampu menjadi musafir-musafir cerdas yang pandai mengumpulkan bekal, sehingga kelak dapat kembali ke kampung halaman abadi dan meraih anugerah tertinggi: keridaan Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Note: Naskah ditulis dengan bantuan Google AI Studio dengan topik yang telah ditentukan oleh KH. Qowam Karim, BA selaku pengisi kajian ahad pagi 03 Agustus 2025. Prompt by Ayah Zatta.


Tinggalkan Balasan