Kita hidup di zaman yang paradoksal, kemajuan material dan teknologi menawarkan kenyamanan yang belum pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya, namun di saat yang sama, banyak jiwa merasakan kekosongan yang dalam. Rasa cemas, ketidakpuasan, dan perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang—meski semua kebutuhan fisik terpenuhi—telah menjadi epidemi senyap di masyarakat modern. Manusia mengejar kebahagiaan dalam karier, harta, dan pengakuan sosial, namun sering kali mendapati diri mereka terdampar dalam sebuah kondisi yang bisa dideskripsikan sebagai “kerugian eksistensial”.

Jauh sebelum para filsuf eksistensialis dan psikolog modern mengidentifikasi kondisi ini, Al-Qur’an, dalam sebuah pernyataan yang tegas dan mencakup, telah memberikan diagnosisnya. Setelah bersumpah demi waktu pada ayat pertama, Allah SWT langsung menyingkap sebuah kebenaran universal yang menohok pada ayat kedua Surah Al-‘Ashr. Artikel ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya. Serta secara spesifik akan menyelami makna di balik diagnosis ilahi Surah Al-‘Ashr, Ayat 2, meninjaunya melalui kacamata tafsir klasik Ibnu Katsir, spirit gerakan KH. Ahmad Dahlan, hadits-hadits Nabi yang relevan, serta keterkaitannya dengan konsep “kehidupan yang tidak otentik” dalam psikologi humanistik.

Diagnosis Universal: “Sesungguhnya Manusia Itu Benar-benar dalam Kerugian”

Setelah membangun panggung dengan sumpah “Demi masa”, Allah SWT menyampaikan isi sumpahnya:

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. (QS. Al-‘Ashr 103: 2)

Kalimat ini singkat, namun strukturnya dalam bahasa Arab menunjukkan penekanan yang berlapis. Penggunaan kata “إِنَّ” (inna – sesungguhnya) di awal dan huruf “لَ” (la – benar-benar) pada kata “لَفِى” (lafī) adalah alat penegas yang sangat kuat. Ini bukan sekadar pernyataan biasa, melainkan sebuah deklarasi definitif. Manusia, pada dasarnya, berada dalam kondisi merugi.

Tafsir Imam Ibnu Katsir: Kerugian yang Menyeluruh

Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa kata Al-Insān (manusia) merujuk pada jenis atau genus manusia secara keseluruhan. Artinya, diagnosis kata Al-Insān berlaku untuk setiap manusia, tanpa memandang ras, status, atau zaman. Ini adalah kondisi asal (default state) umat manusia.

Kata khusr (kerugian) tidak hanya berarti rugi secara materi seperti dalam perniagaan. Khusr mencakup makna yang lebih dalam: kebinasaan, kehancuran, dan kehilangan. Manusia merugi karena modal utamanya yaitu umur dan waktu terus berkurang setiap detiknya, sementara manusia tidak mengisinya dengan sesuatu yang dapat memberinya keuntungan abadi di akhirat. Setiap napas yang berlalu tanpa nilai di sisi Allah SWT adalah bentuk kerugian. Lebih jauh, frasa “فِى خُسْرٍ” (fī khusrin – di dalam kerugian) memberikan gambaran bahwa manusia tidak hanya “mengalami” kerugian, tetapi ia “tenggelam di dalam” sebuah kondisi kerugian yang meliputinya.

Spirit KH. Ahmad Dahlan: Kerugian sebagai Kepasifan Sosial

Menurut pandangan KH. Ahmad Dahlan, Surat Al-‘Ashr: ayat (2) adalah cambuk kesadaran. Beliau tidak hanya memahaminya sebagai sebuah konsep teologis untuk akhirat, tetapi sebagai diagnosis kondisi umat pada zamannya. “Kerugian” yang dimaksud KH. Ahmad Dahlan adalah keadaan pasif, jumud (stagnan), dan individualistis.

Dalam pengajarannya KH. Ahmad Dahlan, menjelaskan bahwa “kerugian” adalah ketika iman seseorang tidak mampu menggerakkannya untuk melakukan perubahan positif di sekitarnya. Rugi adalah ketika seorang Muslim melihat kebodohan dan kemiskinan di masyarakatnya, namun ia diam seribu bahasa. Ia mengaitkan teologi Al-‘Ashr ini dengan teologi Al-Ma’un, di mana Allah SWT mengecam orang yang salat tetapi lalai dari esensi salatnya, yaitu kepedulian sosial terhadap anak yatim dan fakir miskin. Maka, khusr dalam pandangan KH. Ahmad Dahlan adalah kerugian sosial dan peradaban yang bermula dari iman yang tidak produktif. Manusia yang hanya memikirkan keselamatan ritualnya sendiri tanpa peduli sesama adalah manusia yang sesungguhnya sedang tenggelam dalam kerugian.

Gema Kenabian: Hadits-hadits tentang Aset yang Terbuang

Diagnosis dalam Al-‘Ashr ayat 2 ini diperkuat dan dirinci lebih lanjut oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadits shahih. Beliau menunjuk secara spesifik modal-modal yang sering disia-siakan manusia, yang pada akhirnya menjerumuskan mereka ke dalam khusr.

Salah satu hadits yang paling terkenal diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (merugi) padanya: kesehatan dan waktu luang. (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini adalah penjelasan profetik yang sempurna untuk “innal-insāna lafī khusr”. Kata maghbūn memiliki akar kata yang sama dengan ghabn, yang berarti kerugian dalam jual beli karena tertipu. Rasulullah SAW mengibaratkan kesehatan dan waktu luang sebagai modal berharga. Manusia disebut merugi karena “menjual” dua modal ini dengan “harga” yang sangat murah—yaitu dengan kesia-siaan, kemalasan, dan maksiat—padahal ia bisa menginvestasikannya untuk meraih keuntungan surga.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap detik dari modal umur ini akan dimintai pertanggungjawaban:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.

Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang (empat perkara): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan dengannya. (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Hadits ini mengkonfirmasi bahwa “kerugian” adalah konsekuensi langsung dari kegagalan dalam mengelola aset-aset utama kehidupan: umur, masa muda, harta, dan ilmu.

Perspektif Psikologi Humanistik: “Kerugian” sebagai Potensi yang Tidak Teraktualisasi

Menariknya, gema dari diagnosis ilahiah ini dapat kita temukan dalam diskursus psikologi modern, khususnya aliran humanistik. Psikologi humanistik, yang dipelopori oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, memandang manusia sebagai individu yang memiliki dorongan dalam diri untuk bertumbuh dan mencapai potensi maksimalnya, sebuah kondisi yang disebut aktualisasi diri.

Dari sudut pandang ini, “kerugian” dapat dimaknai sebagai kegagalan seseorang untuk bergerak menuju aktualisasi diri. Ini terjadi ketika seseorang:

  1. Hidup secara Tidak Otentik: Carl Rogers berpendapat bahwa banyak penderitaan psikologis muncul dari kesenjangan antara “diri yang sebenarnya” (real self) dan “diri yang ideal” (ideal self) yang dibentuk oleh tuntutan dan ekspektasi orang lain. Hidup untuk menyenangkan orang lain sambil mengabaikan panggilan hati dan nilai-nilai otentik diri adalah sebuah bentuk “kerugian” psikologis.
  2. Stagnasi dalam Kebutuhan Dasar: Abraham Maslow dengan “Hierarki Kebutuhan”nya menjelaskan bahwa manusia tidak akan bisa mencapai aktualisasi diri jika masih terjebak dan terpaku pada pemenuhan kebutuhan tingkat rendah (fisiologis, rasa aman, cinta, dan harga diri). Orang yang seluruh hidupnya hanya dihabiskan untuk menumpuk harta (kebutuhan rasa aman) atau mencari pujian (kebutuhan harga diri) tanpa pernah bergerak menuju pemenuhan potensi uniknya, pada hakikatnya sedang menjalani hidup yang “merugi”.
  3. Menolak Tanggung Jawab dan Pertumbuhan: Humanisme menekankan kehendak bebas dan tanggung jawab pribadi. “Kerugian” adalah ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar menolak untuk mengambil tanggung jawab atas hidupnya, menyalahkan keadaan atau orang lain, dan memilih untuk tetap berada di zona nyaman yang stagnan daripada menghadapi tantangan pertumbuhan.

Jika kita sandingkan, “kerugian” (khusr) dalam Al-Qur’an adalah kondisi spiritual di mana manusia gagal memenuhi tujuan penciptaannya sebagai hamba dan khalifah Allah. Sementara “kerugian” dalam psikologi humanistik adalah kondisi psikologis di mana manusia gagal memenuhi potensi bawaannya untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Keduanya menunjuk pada sebuah tragedi yang sama: sebuah kehidupan yang tidak dijalani secara penuh dan bermakna.

Kesimpulan: Dari Diagnosis Menuju Terapi Ilahi

Ayat kedua Surah Al-‘Ashr adalah sebuah cermin besar yang diletakkan di hadapan seluruh umat manusia. Ayat kedua Surah Al-‘Ashr bukanlah vonis yang dimaksudkan untuk membuat kita putus asa, melainkan sebuah diagnosis yang akurat agar manusia segera mencari obatnya. Tafsir Ibnu Katsir menyadarkan manusia akan universalitas dan kedalaman kondisi ini, sementara spirit KH. Ahmad Dahlan menantang umatnya untuk melihat manifestasi “kerugian” itu dalam realitas sosial. Diperkuat oleh hadits-hadits Nabi, kita menjadi paham bahwa kerugian ini bukanlah konsep abstrak, melainkan akibat nyata dari menyia-nyiakan nikmat kesehatan dan waktu.

Psikologi humanistik, dengan bahasanya sendiri, mengafirmasi diagnosis ini, mengingatkan manusia bahwa hidup yang tidak bertumbuh dan tidak otentik adalah hidup yang merugi. Namun, Islam tidak berhenti pada diagnosis. Jika ayat kedua Surah Al-‘Ashr adalah diagnosis, maka ayat ketiga dan keempat Surah Al-‘Ashr adalah resep atau terapi ilahinya. Di sanalah letak pengecualiannya: “…kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Maka, setelah merenungi diagnosis yang tegas ini, langkah selanjutnya bagi setiap kita adalah bertanya: Apakah saya sedang tenggelam dalam khusr? Dan jika ya, sudahkah saya mengambil resep yang ditawarkan oleh Sang Pencipta untuk keluar dari kerugian ini? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan nilai dari sisa modal waktu yang kita miliki.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *