Kisah Inspiratif Abdurrahman bin Auf: Doa untuk Kemiskinan, Rezeki Melimpah dari Allah

Oleh : Afifah Sholihati

Peserta Sekolah Tabligh PDM Sragen 2025

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali membuat kita terjebak dalam kegelisahan soal harta, ada sebuah kisah dari masa lalu yang begitu menyentuh hati. Kisah itu milik seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai salah satu dari sepuluh orang yang dijamin surga oleh Rasulullah, yaitu Abdurrahman bin Auf. Bukan karena petualangannya di medan perang atau kebijaksanaannya dalam memimpin umat, tapi justru karena hubungannya yang unik dengan kekayaan. Ia pernah berdoa agar Allah menjadikannya miskin, agar lebih fokus beribadah tanpa distraksi duniawi. Namun, ironisnya, Allah SWT justru melipatgandakan rezekinya hingga menjadi salah satu orang terkaya di zamannya. Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, tapi pelajaran abadi tentang bagaimana rezeki datang dari Allah, dan bagaimana kita harus menyikapinya.

Bayangkan: di era di mana kekayaan sering dianggap musuh ibadah, Abdurrahman bin Auf membuktikan sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa harta bukan kutukan jika dikelola dengan iman yang kuat. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami perjalanan hidupnya, dari seorang pemuda Quraisy yang hijrah ke Madinah dengan tangan hampa, hingga menjadi filantropis besar yang hartanya habis untuk jalan Allah. Melalui kisahnya, kita belajar bahwa doa kita mungkin tidak selalu dijawab seperti yang kita inginkan, tapi selalu yang terbaik menurut hikmah-Nya. Mari kita mulai dari awal.

Latar Belakang: Dari Mekah yang Kaya Menuju Hijrah yang Penuh Ketidakpastian

Abdurrahman bin Auf lahir di Mekah sekitar tahun 580 M, dari keluarga Zuhrah yang terpandang di kalangan Quraisy. Ayahnya, Auf bin Abd Auf, adalah seorang pedagang sukses, dan keluarganya dikenal sebagai pemilik karavan dagang yang melintasi rute-rute penting di Jazirah Arab. Sejak muda, Abdurrahman sudah terbiasa dengan dunia perdagangan. Ia pintar bernegosiasi, jujur dalam urusan bisnis, dan memiliki insting tajam untuk peluang. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika ia mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. Pada usia sekitar 30 tahun, ia memeluk Islam secara diam-diam, karena saat itu umat Islam masih minoritas dan sering dianiaya.

Islam bukan hanya agama baginya, tapi panggilan jiwa. Meski keluarganya kaya, Abdurrahman rela meninggalkan segalanya demi keyakinannya. Ia menjadi salah satu sahabat awal yang ikut Nabi dalam dakwah rahasia di Darul Arqam. Ketika penganiayaan semakin parah, ia termasuk dalam gelombang hijrah pertama ke Habasyah (Ethiopia) untuk menghindari siksaan Quraisy. Di sana, ia belajar ketabahan, hidup sederhana di negeri asing, tapi imannya semakin kokoh.

Dalil Al-Qur’an tentang Ketabahan dalam Hijrah:

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
(QS. Al-Ma’idah: 25)
Artinya: “Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku, maka pisahkanlah kami dari kaum yang fasik itu.’”
Dalil ini mencerminkan semangat hijrah Abdurrahman, yang memisahkan diri dari kaum Quraisy yang menolak Islam demi menjaga imannya.

Kembali ke Mekah, Abdurrahman terus mendampingi Nabi. Ia ikut dalam Perang Badar tahun 624 M, salah satu pertempuran krusial yang menentukan nasib Islam. Di Badar, ia bertarung dengan gagah berani, meski usianya sudah memasuki kepala empat. Kemenangan itu membawa harapan baru, tapi juga ancaman balasan dari Quraisy. Akhirnya, hijrah besar-besaran ke Madinah terjadi pada 622 M. Saat itu, Abdurrahman tiba di Madinah sendirian, tanpa harta, tanpa keluarga, hanya dengan keyakinan pada Allah dan Rasul-Nya.

Madinah saat itu adalah kota oasis yang subur tapi miskin secara ekonomi dibanding Mekah. Penduduknya, para Anshar, ramah tapi juga sedang berjuang membangun kehidupan baru. Nabi SAW, dengan kebijaksanaannya, memasangkan setiap Muhajirin (pendatang dari Mekah) dengan saudara Anshar untuk berbagi segalanya. Saat giliran Abdurrahman, Nabi menawarkan padanya untuk berpasangan dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ bin Abdu Adz, seorang pemimpin Anshar yang kaya raya. Sa’ad berkata, “Wahai saudaraku, Allah telah memberikaniku dua kebun kurma, dua istri cantik, dan harta melimpah. Ambillah setengahnya, dan jadilah saudaraku sepenuhnya.”

Ini adalah momen krusial. Banyak Muhajirin lain menerima tawaran itu dengan senang hati, karena mereka datang dengan tangan kosong. Tapi Abdurrahman bin Auf menolak. Dengan sopan, ia berkata, “Barangsiapa yang Allah beri rezeki, maka jagalah. Aku bersyukur atas apa yang Allah berikan padaku nanti. Tunjukkan saja padaku pasar di mana orang-orang berdagang.” Nabi tersenyum, mengagumi sikap mandiri sahabatnya itu. Abdurrahman percaya bahwa rezeki datang dari usaha, tapi di bawah kuasa Allah. Ia tidak ingin bergantung pada belas kasihan, meski itu dari saudara seiman.

Dalil Hadits tentang Kemandirian:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَأْخُذْ ثَالِثًا، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ أَرْبَعَةٍ فَلْيَأْخُذْ خَامِسًا أَوْ سَادِسًا»
(HR. Muslim, no. 2059)
Artinya: Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memiliki makanan untuk dua orang, hendaklah ia mengambil orang ketiga, dan barang siapa yang memiliki makanan untuk empat orang, hendaklah ia mengambil orang kelima atau keenam.”
Hadits ini menunjukkan semangat berbagi di kalangan sahabat, tapi juga sikap Abdurrahman yang memilih bekerja keras ketimbang menerima pemberian.

Keputusan itu membuka babak baru dalam hidupnya. Di pasar Madinah, ia mulai dari nol. Ia menjual apa yang ada: sepotong kurma atau kain sisa. Hari demi hari, ia belajar ritme pasar baru, berinteraksi dengan pedagang Yahudi dan Arab. Tak butuh waktu lama, insting dagangnya yang terasah di Mekah mulai berbuah. Dalam waktu singkat, ia membeli seekor kambing betina, memeliharanya hingga bunting, lalu menjual anaknya untuk modal lebih besar. Bisnisnya berkembang pesat: dari perdagangan kurma, rempah, hingga karavan ke Syam (Suriah). Kekayaannya bertambah, tapi hatinya tetap rendah hati.

Perjuangan dan Kesuksesan: Dari Pedagang Kecil Menjadi Kaya Raya

Hidup di Madinah bukanlah dongeng bahagia. Abdurrahman menghadapi tantangan besar: iklim politik yang tegang, perang-perang bertubi-tubi, dan tekanan ekonomi. Setelah Badar, ada Uhud (625 M) di mana umat Islam kalah telak. Abdurrahman ikut bertempur, terluka parah, tapi selamat. Ia juga hadir di Khandaq (627 M), menggali parit untuk pertahanan kota. Di sela-sela itu, ia tetap berdagang. Kekayaannya bukan datang tiba-tiba, tapi dari kerja keras dan keberkahan doa.

Suatu hari, saat karavannya kembali dari Syam, ia membawa untung besar. Ia investasikan lagi, beli tanah subur di pinggir sungai, tanam kurma. Kebunnya menjadi sumber pendapatan pasif. Tak lama, ia menikah dengan seorang wanita Madinah, membangun keluarga. Tapi yang membuatnya istimewa adalah prioritasnya: segala harta untuk Islam. Ia pernah menyumbang 400.000 dirham untuk perang Tabuk, setara miliaran rupiah hari ini. Saat itu, ia berkata, “Aku ingin hartaku menebus dosa-dosaku.”

Dalil Al-Qur’an tentang Infak di Jalan Allah:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
(QS. Al-Baqarah: 261)
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Ayat ini mencerminkan semangat Abdurrahman dalam menyumbangkan hartanya untuk jihad, yang membawa keberkahan berlipat.

Kekayaan Abdurrahman mencapai puncaknya di akhir hayat Nabi. Ia memiliki empat istri, anak-anak yang shaleh, dan harta yang bisa membeli setengah kota Madinah. Namun, di balik gemerlap itu, ada pergulatan batin. Ia sering merenung: apakah kekayaan ini akan menjauhkannya dari Allah? Apakah ia bisa menjaga hati agar tidak sombong? Inilah yang membawa kita ke inti kisah: doanya untuk kemiskinan.

Doa yang Tak Terduga: Menginginkan Miskin, Diberi Rezeki Berlimpah

Suatu malam, setelah shalat Tahajud, Abdurrahman bin Auf berdoa dengan khusyuk. Ia telah merasakan manisnya dunia: karavan yang sukses, kebun yang berlimpah, kehormatan di mata sahabat. Tapi ia juga melihat sahabat lain seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali yang hidup sederhana, fokus pada ibadah. “Ya Allah,” gumamnya, “jika kekayaan ini akan menghalangiku mendekat kepada-Mu, jadikanlah aku miskin. Biarlah aku seperti orang-orang yang tak punya beban dunia, agar aku bisa beribadah sepenuh hati.” Doa itu tulus, lahir dari kekhawatiran seorang mukmin yang tak ingin harta menjadi fitnah.

Malam itu, Abdurrahman tertidur. Dalam mimpi, ia melihat cahaya terang dan mendengar suara lembut yang seolah dari langit: “Wahai Abdurrahman, sesungguhnya Allah telah memilihmu untuk ujian kekayaan. Jika kau gunakan hartamu di jalan-Ku, ia akan menjadi pahala abadi. Jangan khawatir, rezekimu akan bertambah, tapi hatimu tetap milik-Ku.” Bangun dari mimpi, ia menangis haru. Ia sadar, itu bukan mimpi biasa, tapi isyarat dari Allah. Sejak itu, kekayaannya memang melimpah ruah. Karavan demi karavan datang membawa untung berlipat. Tapi yang lebih penting, ia belajar bahwa rezeki adalah amanah.

Dalil Hadits tentang Kekayaan sebagai Ujian:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ»
(HR. Tirmidzi, no. 2336)
Artinya: Rasulullah SAW bersabda, “Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta.”
Hadits ini menegaskan bahwa kekayaan Abdurrahman adalah ujian, yang ia lalui dengan menjadikan hartanya sebagai sarana ibadah.

Kisah ini diceritakan dalam riwayat-riwayat hadis, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Nabi SAW sendiri memuji Abdurrahman: “Aku melihat surga membuka pintunya untuk Abdurrahman bin Auf.” Bukan karena kaya, tapi karena bagaimana ia menyikapi kekayaan itu. Doanya tak dijawab secara harfiah, tapi Allah memberikan yang lebih baik: kekayaan yang memberkahi, bukan membebani.

Bayangkan betapa relevannya kisah ini hari ini. Banyak orang berdoa untuk kaya agar bisa bahagia, tapi Abdurrahman justru sebaliknya. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan di harta, tapi di ridha Allah. Ketika rezeki datang, jangan takut; gunakanlah dengan benar. Jika datang kemiskinan, itu juga ujian. Seperti firman Allah:

Dalil Al-Qur’an tentang Ujian Rezeki:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(QS. Al-Baqarah: 155)
Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat ini mengingatkan bahwa baik kekayaan maupun kemiskinan adalah ujian, yang harus dihadapi dengan kesabaran dan syukur.

Penggunaan Kekayaan: Dari Harta Dunia ke Pahala Akhirat

Abdurrahman bin Auf tak pernah pelit. Kekayaannya seperti sungai yang mengalir untuk kebaikan. Ia infakkan hartanya untuk fakir miskin, membangun masjid, dan mendukung jihad. Saat Perang Hunain, ia menyumbang 100 unta dengan peralatannya. Di Tabuk, seperti disebutkan, 400.000 dirham—jumlah yang membuat Khalifah Umar bin Khattab terkejut. “Bagaimana kau bisa sebesar itu?” tanya Umar. Abdurrahman jawab, “Dari perdagangan yang halal, dan doa Nabi.”

Ia juga bijak dalam keluarga. Meski kaya, ia ajarkan anak-anaknya untuk mandiri. Saat wafat tahun 652 M di usia 72 tahun, hartanya mencapai 70.000.000 dirham, tapi ia wasiatkan semuanya untuk amal. Tak ada yang diwariskan kecuali sedikit untuk istri-istrinya. Itu sebabnya, ia disebut “sahabat yang paling zuhud dalam harta” meski paling kaya.

Dalil Hadits tentang Keutamaan Infak:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ»
(HR. Muslim, no. 2588)
Artinya: Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
Hadits ini menegaskan bahwa infak Abdurrahman tidak pernah membuatnya miskin, melainkan justru mendatangkan keberkahan.

Pelajaran dari sini jelas: kekayaan bukan dosa, tapi bagaimana kita mengelolanya. Abdurrahman membuktikan bahwa orang kaya bisa masuk surga jika hatinya ikhlas. Seperti hadis Nabi: “Dua golongan yang aku waspadai: pemilik harta yang pelit, dan pemilik ilmu yang sombong.” Ia hindari keduanya.

Kesimpulan: Hikmah untuk Generasi Kita

Kisah Abdurrahman bin Auf adalah pengingat bahwa rezeki dari Allah selalu tepat. Doanya untuk miskin tak terkabul seperti maunya, tapi diganti dengan kekayaan yang memberkahi. Hari ini, di tengah godaan kapitalisme, mari tiru sikapnya: kerja keras, tapi tawakal; kaya tapi zuhud; infak tanpa pamrih. Seperti kata pepatah Arab, “Harta seperti garam di laut: banyak, tapi tak diminum.” Gunakanlah untuk kebaikan, agar jadi jalan menuju surga.

Kisah ini menginspirasi jutaan orang. Jika Abdurrahman bisa, kita pun bisa. Berdoalah, berusaha, dan serahkan hasilnya pada Allah. Siapa tahu, “kemiskinan” yang kita inginkan justru datang dalam bentuk berkah tak terduga.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *