Nabi Zakaria risaunya bukan main. Karena usianya sudah tua fisiknya lemah tetapi belum juga punya anak. Beliau khawatir dengan kelangsungan dakwah yang telah puluhan tahun dijalani. Memang ada sanak dan saudara yang sudah beriman tetapi itu belum cukup jika tidak punya anak sendiri. Inilah rintihan ilahi yang beliau lantunkan sepanjang hari.
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
Ia (Zakaria) berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.”
Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap (akhlak dan agama) kerabat-kerabatku sepeninggalku, sedang istriku seorang yang mandul; maka anugerahkanlah kepadaku seorang anak dari sisi-Mu.Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. (QS. Maryam: 4-3)

Anak bukan pewaris harta benda, juga bukan pewaris tahta dan kuasa. Yang lebih penting dari itu semua adalah anak-anak kita menjadi pewaris tauhid yang hari ini kita pegangi. Pewaris islam yang hari ini kita peluk. Pewaris syari’ah yang saat ini kita jalankan dan pewaris perjuangan yang sekarang kita lakukan.
Itulah logika Islam terkait dengan keturunan.Karena itu, orang tua memiliki kewajiban besar untuk mewariskan iman, akidah, dan ibadah kepada anak-anaknya. Sebagaimana do’a nabi Ibrahim saat di tanah suci.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (٤٠)
Ya Rabbku, jadikanlah aku dan sebagian keturunanku orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)
Doa ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrāhīm tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga anak keturunannya, agar tetap menjaga tauhid dan shalat. Karena aspek itulah yang paling penting dari segala yang kita anggap penting.
Doa Nabi Ibrāhīm dan Nabi Zakariyā ini menjadi teladan bahwa orang tua seharusnya lebih memprioritaskan keselamatan iman anak-anaknya daripada sekadar urusan duniawi. Sementara hari ini, kita risau dengan nasib anak-anak kita. Mereka nanti kerja apa, mereka nanti makan apa, mereka nanti tinggal di mana dan seterusnya yang seratus persen kekhawatiran yang sifatnya dunia. Risaunya orang beriman terhadap anak-anak itu mestinya seperti risaunya nabi Ya’kub berikut ini.
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Adakah kamu hadir ketika Ya‘qub kedatangan maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (QS. Al Baqarah: 133)
Ya’kub adalah tipe orangtua yang sukses dalam mewariskan tauhid kepada anak-anaknya. Di tengah-tengah kemusyrikan masyarakatnya ia berhasil menanamkan akidah yang benar. Sehingga tatkala beliau meninggal, hatinya lega dan gembira berkat anak-anak yang komitmen dengan tauhid yang ia ajarkan.
Sukses story nabi Ya’kub tentu tidak datang begitu saja. Tetapi diihtiari dengan menanamkan akidah dan adab kepada anak-anaknya sejak dini. Sebagaimana firman Allah:
وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَٰهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ١٣٢
Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Al Baqarah: 132)
Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak
Kita sebagai umat Rasulullah ﷺ juga memiliki kewajiban mendidik anak-anak agar tauhidnya benar dan adabnya baik. Caranya adalah dengan mengajak mereka menjalankan shalat. Sebagaimana sejumlah hadis berikut:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
Dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sunan Abu Dawud: Juz 2, hal 167)
Shalat yang dijalankan anak-anak secara langsung telah menanamkan tauhid dan iman sejak dini. Karena mengajarkan bahwa hanya Allah yang disembah. Selain itu juga anak tumbuh dengan kesadaran bahwa ada Allah Yang Maha Mengawasi dan menjaga fitrah tauhid anak, sesuai hadis:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Bukhari No. 1358, Muslim No. 2658)
Di samping itu juga membentuk disiplin dan tanggung Jawab. Karena mengajarkan keteraturan hidup. Anak belajar menghargai waktu dan punya rasa tanggung jawab terhadap kewajiban. Membiasakan anak shalat sejak kecil membuatnya disiplin dalam hal lain (belajar, kebersihan, adab).
Juga dapat mendidik akhlak dan Kesabaran. Shalat melatih kesabaran, kekhusyukan, serta adab. Anak terbiasa dengan sikap rendah hati (sujud), ketenangan, dan kesopanan dalam gerakan.
Sebagaimana firman Allah ﷻ
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ٤٥
Bacalah Kitab (Al-Qur`ān) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuautan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabut: 45)
Pembiasaan shalat merupakan hak anak yang mesti ditunaikan orang tua. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ .
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ عَلِمْنَا حَقَّ الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ، فَمَا حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ؟ قَالَ: «أَنْ يُحَسِّنَ اسْمَهُ، وَيُحَسِّنَ أَدَبَهُ»
Dari Ibnu ‘Abbās ra., bahwa mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui hak orang tua atas anak, lalu apa hak anak atas orang tua?” Beliau menjawab: “(Hak anak adalah) orang tuanya memberikan nama yang baik, dan mendidiknya dengan baik.”
Akhirnya semoga kita semua dapat mewariskan agama ini kepada anak-anak. Sehingga iman mereka sama dengan iman kita, ibadah mereka sama dengan ibadah kita dan mereka menjadi pejuang agama sebagaimana kita melakukannya.


Tinggalkan Balasan