Rezeki merupakan salah satu konsep sentral dalam ajaran Islam yang kerap menjadi pembahasan, baik dalam ranah teologi maupun praktik kehidupan sehari-hari. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki pandangan yang jelas dan terstruktur mengenai rezeki, yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti apa kiranya pemahaman rezeki menurut Muhammadiyah ini, mari simak sampai tuntas artikel ini!

Konsep Rezeki Menurut Muhammadiyah

Pengertian Rezeki Menurut Muhammadiyah

Secara etimologi, kata “rezeki” berasal dari bahasa Arab rizq (رزق) yang berarti pemberian, anugerah, atau karunia. Dalam terminologi Islam, rezeki didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menopang kehidupan, baik berupa materi (harta, makanan, minuman) maupun non-materi (kesehatan, ilmu, ketenangan jiwa, anak keturunan).

Muhammadiyah memahami rezeki sebagai anugerah Allah yang bersifat luas dan tidak terbatas hanya pada harta benda. Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendefinisikan rezeki sebagai segala karunia yang diberikan Allah, termasuk oksigen yang kita hirup, waktu luang, akal sehat, dan iman.

Dalil-Dalil tentang Rezeki

Muhammadiyah mendasarkan pandangannya mengenai rezeki pada beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Berikut adalah beberapa dalil utama yang sering dijadikan rujukan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-Dzariyat:56-58)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk mencari rezeki semata. Namun, Allah meyakinkan bahwa Dia adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Rezeki tidak datang dari manusia lain, melainkan dari Allah semata. Ini menumbuhkan keyakinan bahwa selama manusia beribadah dan bertawakal, Allah akan menjamin rezekinya.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Hud: 6)

Ayat ini memperkuat keyakinan bahwa rezeki setiap makhluk, bahkan yang paling kecil sekalipun, sudah dijamin oleh Allah. Ayat ini mengajarkan tawakal (berserah diri) setelah melakukan ikhtiar (usaha). Rezeki bukanlah sesuatu yang harus dicemaskan secara berlebihan, karena ketentuannya sudah ada di sisi Allah.

…وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Talaq: 2-3)

Ayat ini merupakan salah satu landasan utama dalam pandangan Muhammadiyah tentang hubungan antara takwa, tawakal, dan rezeki. Seseorang yang bertakwa (menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya) akan diberikan jalan keluar dari setiap masalah, termasuk dalam urusan rezeki. Rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka menunjukkan bahwa pertolongan Allah bisa datang dari mana saja. Ayat ini menekankan bahwa tawakal adalah kunci untuk meraih kecukupan.

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung. Mereka keluar pagi dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore dalam keadaan kenyang. (HR. Tirmidzi)

Hadis ini sering digunakan untuk menjelaskan konsep tawakal yang benar. Tawakal bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan kombinasi antara usaha (burung yang keluar mencari makan) dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah atas hasil dari usaha tersebut. Muhammadiyah sangat menekankan pentingnya etos kerja keras dan profesionalisme dalam berikhtiar, yang kemudian dibarengi dengan tawakal.

Penjelasan Pandangan Rezeki Menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah memandang rezeki tidak hanya sebagai takdir yang harus diterima begitu saja, tetapi juga sebagai hasil dari sinergi antara iman, ikhtiar, dan tawakal.

  1. Iman sebagai Fondasi: Muhammadiyah meletakkan iman sebagai fondasi utama. Keyakinan kepada Allah sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) adalah sumber ketenangan dan motivasi. Iman yang kuat menghilangkan kekhawatiran berlebihan akan masa depan dan membebaskan seseorang dari sifat tamak serta iri hati.
  2. Ikhtiar (Usaha) sebagai Kewajiban: Muhammadiyah menolak pandangan fatalisme yang menganggap rezeki akan datang dengan sendirinya tanpa usaha. Sebaliknya, Muhammadiyah mendorong umatnya untuk bekerja keras, profesional, dan inovatif. Ikhtiar dalam pandangan Muhammadiyah tidak hanya sebatas bekerja di sektor formal, tetapi juga dalam bentuk menuntut ilmu, berorganisasi, dan berkontribusi positif kepada masyarakat. Etos kerja Muhammadiyah tercermin dalam semangat kemandirian dan produktivitas.
  3. Tawakal (Berserah Diri) sebagai Penutup: Tawakal adalah puncak dari ikhtiar. Setelah berusaha maksimal, seorang Muslim harus menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tawakal yang benar akan melahirkan sikap qana’ah (merasa cukup) dan menjauhkan dari sifat serakah. Muhammadiyah mengajarkan bahwa tawakal bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang menempatkan hasil akhir di tangan Allah yang Maha Menentukan.

Kesimpulan

Pandangan Muhammadiyah tentang rezeki adalah pandangan yang holistik dan seimbang. Rezeki dianggap sebagai anugerah Allah yang luas, yang datang dari sinergi antara iman, ikhtiar, dan tawakal. Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis menjadi landasan kuat untuk menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki, namun pada saat yang sama, manusia dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin.

Muhammadiyah mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif, mandiri, dan berakhlak mulia. Dengan menggabungkan etos kerja yang tinggi (ikhtiar) dengan keyakinan yang kokoh kepada Allah (iman dan tawakal), seorang Muslim akan mampu menjalani hidup dengan tenang, penuh berkah, dan jauh dari kekhawatiran yang berlebihan. Rezeki dalam pandangan Muhammadiyah adalah bukti kasih sayang Allah yang harus disyukuri, dinikmati, dan dipergunakan di jalan yang benar.

rezeki menurut muhammadiyah

One response to “Bukan Sekadar Uang: Pandangan Rezeki Menurut Muhammadiyah”

  1. […] apa yang terjadi setelah do’a Rasulullah ﷺ dikabulkan dan ia mendapatkan kelapangan rezeki? Setelah harta itu datang, janji suci itu mulai pudar. Harta yang seharusnya menjadi sarana […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *