Saudaraku yang dirahmati Allah,
Sering kali kita menyempitkan makna rezeki hanya pada gaji, keuntungan bisnis, atau hasil kerja keras. Padahal, Islam mengajarkan bahwa rezeki adalah pemberian Allah ﷻ, bukan semata hasil usaha manusia.
Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا ….
Dan tidak ada suatu makhluk pun yang bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya. (QS. Hud: 6)
Rezeki bukan sekadar apa yang kita miliki, tapi apa yang benar-benar kita nikmati dan berkah di dalamnya. Bahkan, sesuatu yang haram pun bisa menjadi rezeki, namun tidak akan membawa keberkahan dan akan dihisab kelak.
Ada dua kesalahan besar dalam memahami rezeki:
- Menganggap rezeki sepenuhnya hasil usaha manusia.
- Menganggap usaha tidak penting karena rezeki sudah ditentukan.
Keduanya keliru. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal. Kita diperintahkan untuk bekerja, berusaha, dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh, namun tetap meyakini bahwa hasilnya adalah ketetapan Allah ﷻ.
Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru tawakkal sejati adalah ketika kita telah berikhtiar maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keimanan.
عَنْ عُمرَ بن الخطَّابِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : (( لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً )) رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَابْنُ حِبَّانَ فِي ” صَحِيْحِهِ ” وَالحَاكِمُ ، وَقَالَ التِّرمِذِيُّ : حَسَنٌ صَحِيْحٌ .
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang. (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya, dan Al-Hakim. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).
Maka, jangan pernah merasa putus asa jika usaha belum membuahkan hasil. Jangan pula tergoda untuk menempuh jalan haram demi mendapatkan rezeki. Karena yang halal, walau sedikit, lebih berkah dan menenangkan hati.
Rezeki bukan hanya soal materi. Kesehatan, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, waktu luang, dan iman yang teguh—semuanya adalah rezeki yang tak ternilai.
Mari kita perbaiki cara pandang kita terhadap rezeki. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, ikuti syariat, dan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah. Karena Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki.
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ ٥٨
Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang memiliki kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 58)
Semoga Allah melapangkan rezeki kita, memberkahinya, dan menjadikannya jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.


Tinggalkan Balasan