Al-Qur’an adalah kalam Allah ﷻ yang sarat dengan pembelajaran untuk manusia, setiap ayat adalah permata yang memancarkan hikmah. Di dalamnya ada pula kisah-kisah yang mengajarkan kita tentang keimanan, ada ayat yang mengingatkan kita tentang kerapuhan manusiawi.

Salah satu yang paling tajam adalah kisah yang terkandung dalam Surat At-Taubah ayat 75 dan 76. Kisah ini bukan hanya sekadar narasi masa lalu, melainkan cermin abadi bagi setiap kita yang diuji dengan godaan dunia, khususnya harta.
Janji yang Terlupa dan Sumpah yang Ternoda
Ayat ini menceritakan tentang seseorang yang datang kepada Rasulullah ﷺ yang mengeluhkan kemiskinannya dan memohon dengan sungguh-sungguh agar didoakan oleh Beliau ﷺ.
۞ وَمِنْهُم مَّنْ عَـٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنْ ءَاتَىٰنَا مِن فَضْلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ ٧٥
Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang salih.” (QS. At-Taubah: 75)
Namun, apa yang terjadi setelah do’a Rasulullah ﷺ dikabulkan dan ia mendapatkan kelapangan rezeki? Setelah harta itu datang, janji suci itu mulai pudar. Harta yang seharusnya menjadi sarana kebaikan, justru menjadi tembok yang memisahkan dirinya dari kewajiban. Ia mulai enggan bersedekah. Ia mulai melupakan janji-janji luhurnya.
فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضْلِهِۦ بَخِلُوا۟ بِهِۦ وَتَوَلَّوا۟ وَّهُم مُّعْرِضُونَ ٧٦
Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran). (QS. At-Taubah: 76)
Kisah ini adalah potret nyata tentang bagaimana ujian harta dapat mengubah karakter seseorang. Dari yang awalnya penuh harapan dan janji, berubah menjadi kikir dan berpaling dari Allah. Harta, yang sejatinya adalah amanah, justru dipegang erat-erat seolah-olah ia adalah tujuan akhir.
Penjelasan dari Hadis yang Shohih: Identitas di Balik Kisah
Siapakah sosok di balik kisah ini? Sebagian besar mufasir sepakat bahwa orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Tsa’labah bin Hathib Al-Anshari. Kisah ini terekam dalam beberapa hadis yang shohih dan hasan, meskipun ada perbedaan pendapat ulama mengenai keshahihannya.
Salah satu riwayat yang paling terkenal adalah yang dicatat oleh Imam At-Thabrani dan lainnya. Kisah ini diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili:
“Tsa’labah bin Hathib datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, ‘Ya Rasulullah, do’akanlah aku agar Allah memberiku harta.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai Tsa’labah, sedikit harta yang kamu syukuri lebih baik daripada banyak harta yang tidak kamu mampu mensyukurinya.’ Tsa’labah kembali dan datang lagi, ‘Do’akanlah aku, Ya Rasulullah.’ Maka Rasulullah ﷺ berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah harta kepada Tsa’labah.’
Maka Allah memberinya harta berupa kambing. Kambingnya beranak pinak dengan cepat, hingga lembah-lembah di Madinah tidak mampu menampungnya. Tsa’labah pun menjauh dari Madinah ke pedalaman untuk mengurus kambing-kambingnya. Ia hanya datang untuk shalat Jumat, kemudian shalat jama’ah pun ia tinggalkan, hingga akhirnya ia hanya datang pada hari-hari tertentu saja. Hingga suatu hari Rasulullah ﷺ mengutus amil zakat, dan Tsa’labah menolak untuk memberikannya. Tsa’labah berkata, ‘Ini adalah jizyah (pajak), bukan zakat.’ Maka turunlah ayat ini.”
Hadis ini, meski ada perdebatan tentang derajatnya, memberikan gambaran yang sangat kuat tentang realitas yang terjadi. Tsa’labah bin Hathib bukanlah orang munafik pada awalnya, namun ia adalah contoh sempurna tentang bagaimana godaan harta bisa menggeser prioritas keagamaan seseorang.
Pelajaran dari kisah ini tidak hanya berhenti pada penolakan zakat. Setelah Tsa’labah mengetahui ayat Al-Qur’an ini turun, ia datang kembali kepada Rasulullah ﷺ membawa zakatnya, namun Rasulullah ﷺ menolaknya. Bahkan, setelah Rasulullah wafat, ia datang kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, namun semuanya menolak zakatnya. Hal ini menunjukkan bahwa penolakan zakat pertama kali yang dilakukan Tsa’labah adalah sebuah kesalahan fatal yang berakibat penyesalan seumur hidup.
Pelajaran Penting untuk Kita Hari Ini
Kisah Tsa’labah dan ayat ini adalah peringatan keras bagi kita semua:
- Harta adalah ujian. Banyak orang yang tahan diuji dengan kemiskinan, namun runtuh diuji dengan kekayaan. Kekayaan bisa melenakan, membuat kita lupa dari mana harta itu berasal, dan lupa bahwa ada hak orang lain di dalamnya.
- Janji kepada Allah harus ditepati. Ketika kita berdoa dan bernazar, sesungguhnya kita sedang membuat kesepakatan dengan Tuhan. Melupakannya adalah bentuk pengkhianatan spiritual.
- Kekikiran (bakhil) adalah penyakit hati. Penyakit ini membuat seseorang menahan apa yang seharusnya ia berikan. Zakat, sedekah, dan infak adalah cara Allah menyucikan harta kita dan hati kita dari penyakit ini.
Marilah kita jadikan kisah ini sebagai pengingat. Harta yang kita miliki adalah titipan. Ia tidak akan pernah abadi. Yang akan abadi adalah amal kebaikan yang kita lakukan darinya. Jangan sampai harta yang kita kejar di dunia, justru menjadi alasan kita terhalang dari surga.

Tinggalkan Balasan