Waktu terus bergulir tanpa henti. Detik berganti menit, menit menjadi jam, dan hari-hari berlalu seakan tanpa terasa. Seringkali kita terlena, menganggap waktu adalah sesuatu yang selalu tersedia. Padahal, waktu adalah modal paling berharga yang Allah ﷻ anugerahkan kepada manusia. Ia adalah modal yang unik, karena tidak dapat diulang, dibeli, atau ditambahkan. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari jatah usia kita yang berkurang.

Demi Masa, Jangan Termasuk Umat yang Merugi
Demi Masa, Jangan Termasuk Umat yang Merugi

Allah ﷻ memberikan penekanan luar biasa akan pentingnya waktu hingga bersumpah dengannya dalam salah satu surat terpendek di dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Al-‘Ashr. Sumpah dari Zat Yang Maha Agung ini menunjukkan betapa krusialnya persoalan waktu bagi kehidupan manusia.

Allah ﷻ berfirman:

وَٱلْعَصْرِ ١ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ ٣

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Ayat kedua dalam surat ini memberikan sebuah pernyataan yang tegas: pada dasarnya, semua manusia berada dalam kondisi merugi (khusr). Kerugian di sini bukan sekadar kerugian materi, tetapi kerugian hakiki yang akan dirasakan di akhirat kelak. Kerugian karena modal usia yang diberikan habis begitu saja tanpa menghasilkan “laba” berupa pahala dan keridhaan Allah. Kita sering menukar waktu yang berharga dengan hal-hal yang sia-sia, hiburan yang melalaikan, atau bahkan perbuatan maksiat.

Namun, Allah Yang Maha Pengasih memberikan jalan keluar dari kerugian tersebut pada ayat ketiga. Ada empat kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang hamba agar waktunya menjadi berkah dan ia terhindar dari kerugian:

Beriman (الَّذِينَ آمَنُوا)

Iman adalah fondasi. Tanpa iman yang benar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar, seluruh amal akan sia-sia. Iman memberikan arah dan tujuan hidup, sehingga setiap detik yang dihabiskan memiliki nilai di hadapan Allah

Beramal Saleh (وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ)

Iman harus dibuktikan dengan perbuatan nyata. Amal saleh adalah segala bentuk aktivitas, mulai dari ibadah ritual seperti shalat dan puasa, hingga perbuatan baik dalam kehidupan sosial seperti menolong sesama, jujur dalam bekerja, dan menjaga lingkungan, yang semuanya dilakukan karena mengharap ridha Allah.

Saling Menasihati dalam Kebenaran (وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ)

Keselamatan bukanlah proyek individual semata. Seorang mukmin memiliki tanggung jawab sosial untuk mengajak dan mengingatkan orang lain kepada jalan kebenaran (Al-Haq), yaitu Islam. Ini adalah wujud kepedulian agar komunitas di sekitarnya juga selamat dari kerugian.

Saling Menasihati dalam Kesabaran (وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)

Jalan kebenaran tidaklah mulus. Dibutuhkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran dalam menjauhi larangan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah. Saling menguatkan dalam kesabaran adalah bekal untuk tetap istiqamah.

Peringatan untuk tidak menyia-nyiakan waktu juga ditegaskan dalam ayat lain, di mana Allah mengingatkan bahwa hidup ini bukanlah permainan tanpa tujuan.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَـٰكُمْ عَبَثًۭا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ١١٥

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al-Mu’minun: 115).

Ayat ini menyadarkan kita bahwa setiap detik dari hidup kita akan dipertanggungjawabkan. Rasulullah SAW pun secara khusus mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang sangat populer:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari)

Hadits ini menjadi cermin bagi kita. Betapa seringnya kita baru menyadari nilai sehat saat sakit tiba, dan baru menyesali waktu luang ketika kesibukan mendera.

Oleh karena itu, marilah kita bermuhasabah. Sudahkah kita menggunakan modal waktu ini untuk meraih keuntungan akhirat? Mari penuhi hari-hari kita dengan empat kriteria penyelamat dari Surat Al-‘Ashr. Gunakanlah sisa usia untuk memperteguh iman, memperbanyak amal saleh, serta menjadi bagian dari komunitas yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. Amin.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *