Kehidupan modern yang menuntut kecepatan dan efisiensi, menjadikan manusia merasa seperti tergulung oleh arus waktu yang tak pernah berhenti. Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, dan tanpa terasa tahun pun berlalu.

Di sela-sela kesibukan itu, tak jarang muncul pertanyaan reflektif: Untuk apa semua ini? Sudahkah waktu yang berlalu ini telah digunakan dengan optimal?

Memaknai Wal Ashr dari Tinjauan Psikologi Humanistik

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah sekadar kegelisahan eksistensial, melainkan sebuah sinyal fitrah manusia yang mendambakan makna dan pertumbuhan.

Al-Qur’an telah mengabadikan urgensi waktu dalam sebuah Surah Al-‘Ashr. Surah Al-‘Ashr dibuka dengan sumpah yang agung dan menggugah, sebuah pernyataan yang menjadi fondasi bagi seluruh pesan yang mengikutinya.

Artikel ini secara khusus akan menyelami kedalaman ayat pertama surah Al-‘Ashr “وَالْعَصْرِ” (Demi masa), dengan menggunakan dua sudut pandang. Pertama tafsir para ulama terkemuka seperti Ibnu Katsir dan pemikiran KH. Ahmad Dahlan, serta kedua relevansinya dengan aliran psikologi humanistik.

Psikologi humanistik berpandangan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk bertumbuh, menjadi lebih baik, dan mencapai kedudukan tertingginya sebagai khalifah di muka bumi.

Sumpah Allah SWT Atas Nama Waktu: Tinjauan Tafsir

Al-Qur’an sering kali menggunakan gaya bahasa sumpah (qasam) untuk menarik perhatian pembaca atau pendengar terhadap sebuah isu yang sangat penting. Ketika Allah SWT bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, hal itu menunjukkan betapa besar dan signifikannya makhluk tersebut dalam pandangan-Nya, serta betapa krusialnya pesan yang akan disampaikan setelah sumpah itu.

وَالْعَصْرِ

“Demi masa.” (QS. Al-‘Ashr: 1)

Dalam kitab tafsirnya Imam Ibnu Katsir yang monumental, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, menjelaskan bahwa Allah SWT bersumpah dengan Ad-Dahr (waktu atau masa). Waktu adalah panggung tempat terjadinya berbagai peristiwa, baik maupun buruk, dan merupakan wadah bagi seluruh perbuatan anak Adam. Sumpah ini berfungsi sebagai peringatan keras bahwa waktu adalah saksi atas segala kerugian dan keuntungan yang dialami manusia.

Ibnu Katsir juga mengutip berbagai pendapat ulama mengenai makna spesifik dari “Al-‘Ashr”. Sebagian menafsirkannya sebagai “waktu sore” atau “penghujung hari”, sebuah metafora untuk penghujung usia manusia atau bahkan akhir zaman. Waktu sore adalah saat matahari mulai terbenam, menandakan berakhirnya satu hari aktivitas, di mana seorang pedagang akan menghitung untung-ruginya. Demikian pula manusia, pada akhir hidupnya, akan melihat apakah ia termasuk golongan yang beruntung atau merugi.

Namun, pendapat yang lebih kuat, menurut banyak mufasir yang dikutip Ibnu Katsir, adalah bahwa “Al-‘Ashr” merujuk pada waktu secara keseluruhan. Janji Allah SWT dalam surat Al-‘Ashr menegaskan bahwa seluruh lini masa kehidupan manusia adalah arena pertaruhan yang sangat menentukan nasibnya di akhirat, sebagaimana akan dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya.

Pemaknaan Wal Ashr oleh KH. Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, tidak secara khusus meninggalkan sebuah kitab tafsir formal. Namun, pemikirannya tentang Surah Al-‘Ashr tertanam begitu dalam hingga menjadi salah satu spirit utama gerakan Muhammadiyah. Dikisahkan bahwa beliau mengajarkan surah Al-‘Ashr kepada murid-muridnya selama berbulan-bulan, bukan agar mereka sekadar hafal, melainkan agar mereka menghayati dan mengamalkannya hingga menjadi darah daging.

Bagi KH. Ahmad Dahlan, “Wal-‘Ashr” bukanlah sekadar sumpah, melainkan sebuah panggilan untuk sadar. Waktu adalah modal utama yang diberikan Allah kepada setiap insan. Pengajaran surah Al-‘Ashr melahirkan apa yang sering disebut sebagai “Teologi Al-‘Ashr”, sebuah teologi yang sangat menekankan pada amal dan tindakan nyata (praxis).

Beliau memahami bahwa sumpah “Demi masa” adalah pengingat bahwa iman tidak cukup hanya tersimpan di dalam hati; iman harus dibuktikan melalui amal saleh yang terukur dan bermanfaat, yang dilakukan dalam rentang waktu yang telah dianugerahkan.

Waktu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau sekadar dibiarkan berlalu, melainkan sebuah kanvas yang harus diisi dengan karya-karya terbaik sebagai manifestasi keimanan. Inilah fondasi etos kerja dan gerakan sosial yang diwariskan Muhammadiyah hingga hari ini.

Waktu, Potensi, dan Aktualisasi Diri: Perspektif Psikologi Humanistik

Pada pertengahan abad ke-20, muncul sebuah “kekuatan ketiga” dalam dunia psikologi yang menentang pandangan pesimistis psikoanalisis Freud dan pandangan mekanistik behaviorisme. Aliran ini, yang dikenal sebagai psikologi humanistik, menawarkan pandangan yang lebih cerah dan penuh harapan terhadap kodrat manusia. Tokoh-tokoh utamanya seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers meyakini bahwa setiap individu memiliki dorongan bawaan untuk bertumbuh, menjadi lebih baik, dan mencapai potensi tertingginya—sebuah proses yang disebut aktualisasi diri.

Psikologi humanistik menekankan beberapa konsep kunci yang, secara menakjubkan, beresonansi kuat dengan pesan di balik “وَالْعَصْرِ“:

  1. Fokus pada Pertumbuhan dan Potensi: Humanisme meyakini bahwa manusia bukan hanya korban dari masa lalu atau lingkungan. Manusia memiliki kehendak bebas (free will) dan kemampuan untuk memilih jalan hidupnya. Tujuan utama kehidupan, menurut Maslow, adalah mencapai puncak “Hierarki Kebutuhan”, yaitu aktualisasi diri: menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
  2. Tanggung Jawab Pribadi: Dengan adanya kehendak bebas, datang pula tanggung jawab pribadi. Manusia bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang dibuatnya dan arah hidup yang ditempuhnya. Kegagalan untuk bertumbuh sering kali bukan karena faktor eksternal semata, tetapi karena kegagalan individu untuk mengambil tanggung jawab atas potensi dirinya.
  3. Pentingnya “Di Sini dan Sekarang” (Here and Now): Psikologi humanistik sangat menekankan pentingnya kesadaran pada momen saat ini. Masa lalu tidak dapat diubah dan masa depan belum tentu terjadi. Satu-satunya realitas yang kita miliki adalah saat ini. Oleh karena itu, pertumbuhan dan perubahan hanya bisa terjadi dengan memanfaatkan momen “di sini dan sekarang”.

Titik Temu: “Demi Masa” Sebagai Panggilan untuk Aktualisasi Diri Insani

Ketika kita meletakkan pemahaman tafsir “وَالْعَصْرِ” berdampingan dengan prinsip-prinsip psikologi humanistik, kita akan menemukan sebuah jembatan konseptual yang kokoh dan mencerahkan.

Pertama, Nilai Waktu sebagai Arena Aktualisasi. Sumpah Allah “Demi masa” adalah penegasan ilahiah atas apa yang ditekankan oleh psikologi humanistik: waktu adalah aset paling berharga. Ia adalah panggung di mana potensi manusia dapat diaktualisasikan. Tafsir Ibnu Katsir yang memaknai waktu sebagai wadah amal perbuatan selaras dengan pandangan humanistik bahwa momen “di sini dan sekarang” adalah satu-satunya kesempatan untuk bertumbuh. Menyia-nyiakan waktu, dalam kedua perspektif ini, adalah bentuk kerugian terbesar. Dalam Islam, kerugian ini bersifat spiritual dan ukhrawi (khusr), sementara dalam humanisme, ia adalah kegagalan untuk mencapai pemenuhan psikologis.

Kedua, Tanggung Jawab Manusia atas “Modal” Waktu. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang memandang waktu sebagai modal adalah cerminan langsung dari prinsip tanggung jawab pribadi dalam psikologi humanistik. Allah SWT telah memberikan modal yang sama kepada setiap manusia: rentang waktu. Bagaimana modal itu dikelola sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu. Apakah ia akan diinvestasikan pada “iman dan amal saleh” untuk meraih keuntungan abadi, atau dibiarkan menguap begitu saja hingga berujung pada kebangkrutan? Pilihan ada di tangan kita. Ini menempatkan manusia sebagai agen aktif dalam takdirnya, bukan sebagai objek pasif yang terombang-ambing oleh nasib.

Ketiga, Aktualisasi Diri sebagai Tujuan. Tujuan akhir dari eksistensi manusia menurut psikologi humanistik adalah aktualisasi diri. Dalam Islam, tujuan ini terdefinisi dengan lebih luhur: menjadi hamba Allah yang sejati (‘abdullah) dan khalifah-Nya di muka bumi (khalifatullah fil ardh). Proses untuk mencapai maqam ini adalah dengan mengisi waktu melalui empat pilar yang disebutkan dalam Surah Al-‘Ashr: beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Aktualisasi diri seorang Muslim bukanlah proses yang egois dan berpusat pada diri sendiri, melainkan sebuah proses yang terintegrasi secara vertikal (kepada Allah) dan horizontal (kepada sesama manusia). Inilah puncak pemenuhan potensi insani yang sesungguhnya.

Penutup: Refleksi di Penghujung Hari

Ayat “وَالْعَصْرِ“ lebih dari sekadar penanda waktu. Ia adalah sebuah ketukan lembut sekaligus peringatan keras dari Sang Pencipta Waktu itu sendiri. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan kita dan merenung, sebagaimana seorang pedagang di waktu ‘Ashar (sore hari) yang mengevaluasi hasil usahanya.

Melalui lensa tafsir klasik Ibnu Katsir, kita memahami betapa sakralnya setiap detik yang kita lalui. Melalui semangat KH. Ahmad Dahlan, kita diajak untuk mengubah kesadaran akan waktu menjadi sebuah gerakan amal yang nyata. Dan melalui psikologi humanistik, kita diberi perangkat untuk memahami dorongan internal untuk bertumbuh dan bertanggung jawab atas potensi diri yang luar biasa.

Pada akhirnya, “Demi masa” adalah panggilan universal. Panggilan untuk tidak hanya sekadar “ada”, tetapi “menjadi”. Menjadi hamba yang beriman, insan yang beramal, anggota masyarakat yang peduli, dan individu yang sabar dalam menapaki perjalanan menuju versi terbaik dari diri kita di hadapan Tuhan. Semoga kita tidak termasuk golongan yang merugi, yang membiarkan modal waktu habis tanpa makna.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *