Kita hidup di zaman yang terobsesi dengan “lebih”. Lebih banyak harta, lebih tinggi jabatan, lebih luas tanah, lebih canggih gawai, dan lebih banyak pengikut di media sosial. Budaya modern mendiktekan bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan akumulasi materi. Setiap hari, mata kita disuguhi parade kemewahan; sebuah kompetisi tak tertulis tentang siapa yang paling sukses, siapa yang paling bahagia, dan siapa yang paling “memiliki”. Tanpa sadar, kita terseret dalam arus deras perlombaan ini, berlari kencang di atas hedonic treadmill (roda kepuasan) yang tidak memiliki garis finis.
Di tengah ingar-bingar pengejaran duniawi ini, Al-Qur’an memberikan sebuah “tamparan” halus namun mengguncang kesadaran. Sebuah teguran ilahiah yang terekam abadi dalam Surah At-Takatsur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat pertama:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur [102]: 1).
Ayat yang sangat pendek, namun memuat diagnosis psikologis dan spiritual yang sangat dalam tentang penyakit manusia modern. Mari kita selami maknanya lebih jauh, bukan sekadar membacanya, tetapi merenunginya sebagai cermin bagi jiwa kita yang mungkin telah lelah mengejar bayang-bayang.
Makna At-Takatsur: Kompetisi Tanpa Akhir
Secara bahasa, kata At-Takatsur berasal dari akar kata katsrah yang berarti “banyak”. Namun, pola kata (wazan) tafaa’ul dalam bahasa Arab menunjukkan makna saling berlomba atau berbanyak-banyakan. Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang manusia yang saling membanggakan harta, anak, dan kekuasaan, serta saling berlomba untuk memperbanyaknya bukan untuk ketaatan kepada Allah, melainkan untuk kepuasan nafsu dan gengsi sosial.
Ini adalah gambaran presisi tentang budaya “flexing” (pamer) yang mewabah hari ini. At-Takatsur bukan sekadar “memiliki banyak”, tetapi “ingin terlihat lebih banyak dari orang lain”. Sifat ini menciptakan rasa lapar yang tidak pernah kenyang. Jika tetangga merenovasi rumah, hati kita panas. Jika rekan kerja membeli mobil baru, kita gelisah. Standar kepuasan bukan lagi kebutuhan (needs), melainkan keinginan (wants) yang dipicu oleh rasa iri dan persaingan.
Lalu perhatikan kata pembukanya: Alhaakum. Kata ini berasal dari lahw yang berarti sesuatu yang melalaikan atau memalingkan hati dari hal yang lebih penting. Kesibukan menumpuk harta itu telah membius kita, membuat kita lupa pada tugas utama sebagai hamba Allah. Kita lalai dari shalat yang khusyuk, lalai dari mendidik anak dengan agama, lalai dari menyantuni fakir miskin, bahkan lalai mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang setelah kematian.
Batas Akhir yang Mengerikan: Liang Kubur
Sampai kapan perlombaan ini berlangsung? Apakah sampai kita menjadi orang terkaya di dunia? Al-Qur’an menjawab di ayat kedua dengan nada yang menyentak:
حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur [102]: 2).
Ayat ini menegaskan bahwa nafsu untuk berbanyak-banyakan tidak akan berhenti karena kepuasan, melainkan berhenti secara paksa karena kematian. Ketika napas berhenti dan tubuh terbujur kaku, barulah manusia sadar bahwa semua angka-angka yang ia kumpulkan—saldo rekening, jumlah aset, gelar kehormatan—sama sekali tidak bisa menolongnya di dalam tanah yang sempit itu.
Para ulama menyoroti penggunaan kata Zurtum (kalian berkunjung/ziarah). Allah menyebut kematian dan keberadaan di alam kubur sebagai “ziarah” atau kunjungan. Filosofi dari kata “berkunjung” adalah bahwa pelakunya tidak akan menetap selamanya. Kuburan, meskipun mengerikan dan lama durasinya, hanyalah tempat transit sementara (alam Barzakh) sebelum menuju pengadilan agung di Padang Mahsyar. Jika kuburan saja hanya tempat singgah, betapa lebih sementaranya dunia ini? Sungguh ironis jika kita menghabiskan seluruh energi untuk membangun “rumah transit” (dunia) dan melupakan “rumah masa depan” (akhirat).
Korelasi Ayat: Tahapan Tipuan Dunia
Tema tentang bahaya bermegah-megahan ini memiliki korelasi kuat dengan ayat lain yang membedah fase kehidupan manusia. Dalam Surah Al-Hadid ayat 20, Allah merinci bagaimana dunia menipu manusia secara bertahap:
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ…
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al-Hadid [57]: 20).
Ayat ini menempatkan takatsur (berbanyak-banyakan) sebagai puncak dari ilusi dunia. Dimulai dari permainan (la’ib) di masa kecil, hiburan (lahw) di masa remaja, perhiasan/gaya hidup (zinah) di masa muda, hingga akhirnya di masa dewasa dan tua, manusia terjebak dalam tafakhur (saling sombong) dan takatsur (saling memperbanyak aset). Ini adalah siklus yang melalaikan, ibarat petani yang kagum pada tanamannya yang hijau, namun kemudian tanaman itu menjadi kuning, kering, dan hancur diterpa angin.
Peringatan Nabawi: Bahaya Foya-Foya dan Cinta Dunia
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok yang paling paham tentang hakikat kehidupan, jauh-jauh hari telah memperingatkan umatnya tentang bahaya mentalitas ini. Beliau tidak khawatir umatnya miskin, melainkan khawatir jika umatnya dibukakan pintu dunia lalu berlomba-lomba mengejarnya.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan dua lembah. Dan tidak ada yang bisa memuaskan mulutnya (hawa nafsunya) kecuali tanah (kematian). Dan Allah menerima tobat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048).
Hadits ini mengonfirmasi sifat dasar manusia yang tamak. Satu lembah emas sudah cukup untuk hidup tujuh turunan, namun nafsu takatsur tidak mengenal kata “cukup”. Ia selalu meminta “lagi”. Inilah sumber dari gaya hidup foya-foya (hedonisme) dan pemborosan (tabdzir).
Islam tidak melarang menjadi kaya. Sahabat nabi seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah konglomerat pada zamannya. Namun, perbedaan mereka dengan penganut takatsur terletak pada letak hartanya. Bagi orang beriman, harta ada di tangan untuk didermakan, bukan di hati untuk dibanggakan.
Orang yang terjebak foya-foya lupa bahwa setiap sen hartanya memiliki konsekuensi audit yang berat di akhirat. Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat di sisi Tuhannya, hingga ia ditanya tentang lima perkara: Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa yang ia amalkan dari ilmunya.” (HR. Tirmidzi no. 2416).
Perhatikan bahwa untuk harta, pertanyaannya ada dua pintu: “Dari mana didapat?” (apakah halal/haram) dan “Untuk apa dibelanjakan?” (apakah untuk kebaikan atau foya-foya). Semakin banyak harta yang kita tumpuk dan kita pamerkan, semakin panjang pula proses hisab (perhitungan) kita di hadapan Allah kelak.
Menemukan Penawar: Qana’ah dan Zikruli Maut
Jika penyakit At-Takatsur begitu berbahaya, apa obatnya?
Pertama, menanamkan sifat Qana’ah (merasa cukup). Qana’ah adalah kekayaan yang sesungguhnya. Ia adalah benteng jiwa yang melindungi kita dari godaan iklan dan tekanan sosial. Ketika kita merasa cukup dengan rezeki Allah, kita tidak akan tergiur untuk berkompetisi dengan tetangga atau teman. Kita menyadari bahwa rezeki telah tertakar dan tidak akan tertukar. Kita belajar membedakan antara kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan gaya hidup yang tak ada habisnya.
Kedua, memperbanyak Zikruli Maut (mengingat mati). Sebagaimana akhir Surah At-Takatsur mengingatkan tentang kubur dan pertanyaan tentang nikmat (La tus’alunna yaumaidzin ‘anin na’im), mengingat kematian adalah pemutus kelezatan dunia yang semu. Mengingat bahwa kain kafan tidak memiliki saku, dan rumah masa depan kita hanyalah lubang 1×2 meter, akan meredam ambisi liar untuk menumpuk kekayaan yang tidak perlu.
Kita perlu merenung: Apakah barang-barang mewah yang kita kumpulkan hari ini akan menjadi teman di alam kubur, atau justru menjadi beban yang memberatkan? Apakah waktu yang kita habiskan untuk mengejar karier hingga melalaikan shalat sebanding dengan siksa yang menanti?
Penutup
Saudaraku, artikel ini bukanlah seruan untuk meninggalkan dunia atau hidup dalam kemiskinan. Islam mencintai mukmin yang kuat dan mandiri secara ekonomi. Namun, ini adalah peringatan agar kita tidak menjadikan dunia sebagai berhala. Jangan biarkan At-Takatsur membajak hati kita hingga kita melupakan Allah.
Dunia adalah ladang (mazra’ah), bukan tempat tinggal abadi. Gunakanlah harta untuk membangun istana di surga melalui sedekah, wakaf, dan menyantuni sesama, bukan sekadar menumpuk bata dan semen di dunia yang pasti akan hancur.
Mari kita sudahi perlombaan yang melelahkan dan melalaikan ini. Mari kita beralih ke perlombaan yang sesungguhnya, yaitu Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa menghadap Allah bukanlah seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa berkah yang kita amalkan.
“Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami. Lindungilah kami dari fitnah harta dan sifat bermegah-megahan yang melalaikan. Wafatkanlah kami dalam keadaan mengingat-Mu, bukan dalam keadaan terpedaya oleh dunia.” Aamiin.


Tinggalkan Balasan