Syukur alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala kenyamanan dan luasnya kesempatan untuk melakukan apa saja yang kita inginkan di bumi Indonesia ini. Sementara, bagi saudara-saudara kita di belahan bumi lain, seperti Palestine yang dirundung teror 24 jam, rasa nyaman dan kesempatan beraktivitas merupakan sebuah kemewahan, it’s the luxury they can’t have anymore.

Beberapa pekan yang lalu, kita melewati pergantian tahun 2023 menuju 2024, momen ini bagi banyak orang sering dijadikan satu saat untuk refleksi demi menemukan sebuah motivasi.

Resolusi Tahun Baru sesuai dengan Sunah Rasulullah

Refleksi tentang apa yang telah dicapai setahun ke belakang, masihkah ada yang kurang dari target pada tahun sebelumnya? Kemudian tak lupa untuk membuat rencana dan target untuk dicapai setahun ke depan yang biasa disebut dengan resolusi.

Apakah Membuat Resolusi Budaya Kafir?

Mungkin jarang sekali kita dengar ceramah ustaz atau guru tentang membuat resolusi hidup ini dan penulis sendiri lebih sering menemukan tulisan terkait topik ini di kalangan orang-orang yang tidak nampak religius. Tapi nggak ada salahnya kalau kita mencoba mencari korelasinya dengan ajaran Rasulullah SAW kan?

Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ»

Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang (celaka) (HR Al-Hakim).

Dengan mengevaluasi pencapaian setahun yang lalu dan kemudian membuat sebuah resolusi maka kita akan memiliki sebuah framework untuk berkembang menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Berangkat dari kesalahan dan kekurangan sebelumnya kemudian menuliskan daftar yang ingin dicapai setahun ke depan juga akan membantu kita stay on track. Dengannya kita tidak merugi, atau bahkan mengalami kemunduran sehingga termasuk mereka yang celaka, dan menuliskan resolusi berarti satu langkah menuju keberuntungan.

Walau jarang dibahas dalam kajian, ternyata membuat resolusi jika kita niatkan untuk meneladani Rasulullah SAW seperti di atas pastinya juga bernilai pahala.

Resolusi Sering Gagal

Sebelum melanjutkan, penulis mau membuat pengakuan bahwa penulis membuat resolusi itu sudah cukup lama. Dan jujur saja, resolusi yang pernah ditulis tersebut banyak tidak terwujudnya sehingga lama-lama merasa percuma saja membuat dan memperbarui resolusi. Kemudian tidak membuat resolusi lagi.

Small Things Matter

Belakangan baru penulis renungi dan pahami, bahwa ada kesalahan fatal sebelum menuliskan sebuah resolusi yang penulis lakukan dan sepertinya menjadi fenomena umum. Kurang jujurnya dalam mengevaluasi diri setahun sebelumnya, diperlukan keterbukaan untuk menerima kekurangan diri dalam hal ini. Kesalahan kedua karena saat evaluasi sudah tidak jujur, maka resolusi terbaru yang dibuat terlalu muluk-muluk.

Resolusi yang berbasis dari evaluasi pencapaian dan kegagalan tahun sebelumnya akan berisi target-target yang rasional dan memiliki risiko kegagalan yang relatif manageable. Dengan target yang lebih rasional, sangat mungkin untuk memecahnya lagi ke dalam milestone-milestone yang lebih kecil dan lebih terbayang apa saja yang harus dilakukan untuk mencapainya.

Jadi, resolusi tidaklah dituntut untuk terdengar keren dan ambisius, justru dengan langkah-langkah kecil yang konsisten, maka peluang untuk berhasilnya lebih besar. Langkah-langkah kecil lah yang kita perlukan untuk menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, menjadikan kita termasuk orang yang beruntung. Small things actually matter.

Semua Bermula dari Kecil

Kalau kita mau menelisik nama-nama besar yang ada di sekitar kita saat ini, akan kita temui bahwa mereka juga awalnya bukan siapa-siapa. Ambil contoh di ranah perusahaan teknologi global yang amat erat mencengkeram kehidupan sehari-hari kita; Google, Facebook, Apple, dan Amazon banyak dikisahkan diawali dari garasi-garasi kecil perumahan sederhana di Amerika sana. Di Korea Selatan ada LG dan Samsung, sedang di Indonesia ada Tokopedia, Gojek dan Bukalapak juga berangkat dari sebuah humble beginning.

Di dunia otomotif, perusahaan-perusahaan raksasa asal Jepang yang kita akrab seperti Honda, Toyota, dan Yamaha awalnya juga perusahaan kecil. Sedang di belahan bumi Eropa ada Koenigsegg, Ferarri hingga Pagani juga dilahirkan oleh tokoh-tokoh yang awalnya bukan siapa-siapa.

Yang menjadikan mereka menjadi besar seperti sekarang adalah semangat pembaruan dan konsistensi dalam menjadikan pencapaian mereka lebih baik lagi, make things better, with every small steps.

Semangat Pembaruan Muhammadiyah

Di depan mata kita, kita juga menjadi bagian di dalamnya adalah Muhammadiyah yang juga berangkat dari sebuah humble beginning. Siapa sangka organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan ini akan menjadi sebuah organisasi yang membawa pembaruan besar dalam dakwah Islam. Berawal dari Yogjakarta, siapa sangka bisa berperan hingga memajukan Indonesia, bahkan mencerahkan semesta seperti sekarang dengan berdirinya 30 PCIM di berbagai benua.

Dengan awal yang sederhana, perjuangan dan kosistensi pimpinan dan warga Muhammadiyah selama 111 tahun menjadikannya memiliki aset yang dapat membantu membangun Indonesia dengan 5.345 sekolah dan 440 pesantren, tak kurang dari 172 perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, 122 rumah sakit dan 231 klinik hingga 1.012 amal usaha sosial seperti panti asuhan.

Penutup

Tidak berlebihanlah kiranya penulis menyimpulkan di sini bahwa dengan langkah-langkah kecil yang bagi setiap individu diwujudkan dalam sebuah resolusi tahunan; dengan ketulusan kemauan untuk berubah; konsistensi dan presistensi maka mengubah setiap aspek menjadi lebih baik adalah hal yang mungkin saja tercapai.

Setiap kita harusnya selalu termotivasi untuk meningkatkan kompetensi diri pribadi, terlebih para santri, untuk mempersiapkan masa depan yang masih jauh, untuk menjadi ilmuwan-ilmuwan muslim di masa depan.

Dan bagi pembaca secara umum termasuk penulis sendiri; mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik bagi yang belum dipertemukan; mencukupi aneka kebutuhan hidup seperti tempat tinggal dan biaya pendidikan anak.

Dan jangan lupa untuk bersiap pulang ke kampung halaman, pulang ke negeri akhirat. Jangan lupa tunaikan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf Anda di Lazismu Trensans! 🙂

Artikel pertama kali terbit pada majalah Spectrum edisi 26 yang dikelola oleh IPM Trensains.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *