Perilaku dan sikap baik dalam Islam disebut husnul khuluq/akhlak mulia, atau sering disebut akhlakul karimah, akhlak yang bagus. Akhlak yang baik merupakan bagian dari kepribadian muslim yang asasi, artinya setiap muslim dituntut untuk benar-benar berkebribadian yang mulia. Karena husnul khuluq sebagai hiasan diri sekaligus menyenangkan orang lain.
Kemuliaan akhlak akan terwujud dengan membersihkan jiwa dari sifat-sifat rendah lagi tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Salah satu bentuk kemuliaan adalah: kamu tetap menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberikan kebaikan kepada orang yang tidak mau berbuat baik kepadamu, dan memaafkan kesalahan orang lain yang menzalimi dirimu.

Akhlak yang mulia memiliki berbagai keutamaan. Ia merupakan bentuk pelaksanaan perintah Allah dan RasulNya. Dengan akhlak yang mulia juga, seorang akan terbebas dari pengaruh negatif tindakan jelek orang lain. Dengan akhlak mulia pula seorang akan memperoleh ketinggian derajat. Oleh sebab itu islam sangat menekankan umatnya agar berakhlaq mulia karena husnul khuluq memiliki kedudukan yang sangat tinggi antara lain:
Akhlak mulia tanda kesempurnaan Iman
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً ، أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً ، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
Yang paling sempurna keimanan seseorang mu’min adalah yang paling bagus akhlaqnya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya (HR. At-Tirmidzi).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ. (روه البخاري ومسلم(
Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: La ilaha illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman. (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقاً ، وَإِنَّ خُلُقَ اْلإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ
Sesungguhnya bagi setiap dien memiliki akhlaq, dan akhlaq Islam adalah malu. (HR. Ibnu Majah)
Akhlak mulia pengangkat derajat seorang muslim, setelah takwa.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا, وَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ. )احمد(
Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, ‘Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka dan orang yang paling baik di antara kalian ialah orang yang paling baik terhadap istrinya. (HR. Ahmad)
وعن أبي هُريرة رضيَ اللَّه عنه قال: سُئِلَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَنْ أَكثرِ مَا يُدْخلُ النَّاس الجَنَّةَ ؟ قال: تَقْوى اللَّهِ وَحُسنُ الخُلُق (أخرجه الترمذ ى(
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat rasulullah pernah ditanya tentang amal yang paling banyak membuat orang masuk surga. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik. (HR.Tirmidzi)
عن عائشة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الرجل ليدرك بحسن خلقه درجة القائم بالليل الظامئ بالهواجر )أخرجه الطبراني (
Aisyah mengabarkan bahwa Nabi SAW.bersabda, Dengan akhlak yang baik maka seseorang akan bisa mencapai derajat orang yang selalu shalat malam dan lapar di waktu siang. (HR.Thabrani)
Akhlak mulia akan mendekatkan seseorang dengan Rasulullah di akhirat kelak
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فون وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. (روه الترمذى(
Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun (orang yang banyak bicara), mutasyaddiqun (orang yang berpura-pura fasih) dan mutafaihiqun. Sahabat berkata, Ya Rasulullah kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun? Beliau menjawab, Orang yang sombong (ujub). (HR. Tirmidzi)
Akhlak mulia pemberat timbangan kebaikan di akhirat
وَعَنْ أَبِي اَلدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ شَيْءٍ فِي اَلْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ اَلْخُلُقِ )أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ (
Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Tidak ada suatu amal perbuatan pun dalam timbangan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. (Riwayat Abu Dawud)
Akhlak mulia misi utama diutusnya Rasulullah ﷺ
إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاق
Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Al Haakim)
Akhlak mulia sangat berkait dengan semua bentuk ibadah.
Maka setiap kali Allah memerintahkan suatu ibadah, Dia juga mengingatkan pada tujuan akhlaknya dan pengaruhnya bagi jiwa dan masyarakat, contoh:
- Shalat: Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. (Al‘Ankabut: 45)
- Zakat: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. (At-Taubah: 103) Walaupun hakikat zakat adalah berbuat kebaikan bagi manusia tetapi tujuan lainnya adalah mendidik jiwa dan membersihkannya dari akhlak yang buruk.
- Puasa: Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah: 183) Jadi tujuan dari puasa adalah agar bertakwa kepada Allah, Karena itu Nabi Muhammad bersabda, Barangsiapa yang puasanya tidak mengubah akhlaknya terhadap manusia maka berarti puasanya belum mencapai target yang sesungguhnya.
Akhlak mulia merupakan sebab utama untuk masuk surga
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ . وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab,Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan. (HR. Tirmidzi)
Akhlak mulia akan berada di tempat paling tinggi dalam surga
أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبَيْتٍ فِي وَسْطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحاً ، وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقَهُ
Aku penjamin suatu rumah di surga yang paling bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar. Dan aku penjamin suatu rumah di surga bagian tengah bagi orang yang meninggalkan berdusta walaupun bercanda. Dan aku penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang bagus akhlaqnya. (HR. Abu Dawud.)
Berakhlaq mulia adalah sebaik-baiknya manusia.
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً
Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling bagus akhlaqnya. (Muttafaqun‘alaihi).


Tinggalkan Balasan