*MUHASABAH*

*_MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?_*

Saudaraku,
Kata yang paling sulit kita ucapkan barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua Anggota Dewan merasa gajinya seratus lima puluh juta perbulan belum sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target. Pejabat menganggap bahwa masa jabatannya masih kurang, sehingga berupaya untuk melanggengkan jabatannya dengan menghalalkan segala cara…

Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup? “Cukup” bukanlah soal berapa jumlahnya. “Cukup” adalah persoalan kepuasan hati. “Cukup” hanya bisa diucapkan oleh orang yang mampu bersyukur…

Saudaraku,
Tak perlu takut berkata “cukup”. Mengucapkan kata “cukup” bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, atau merasa pesimis, atau kecewa atau mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata “cukup“ membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan…

Jangan biarkan kerakusan, ketamakan membuat kita sulit berkata “cukup” hingga akhirnya terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini dan seterusnya, dengan begitu kita menjadi orang yang pandai bersyukur…

Saudaraku,
Seringkali kita berkeluh kesah atas segala ketetapan dan pemberian Allah Azza wa Jalla, sedikit sekali yang bersyukur. Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

(QS. As-Sajdah: 9)

Saudaraku,
Demikianlah tabiat manusia, sedikit sekali yang bersyukur. Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahman, mengulang ulang kalimat mulia ini hampir 31 kali dalam Al Qur’an Surat Ar Rahman, tidakkah kita merasa diingatkan dengan itu, artinya dengan segala apapun yang terjadi wajibnya untuk menghindari kufur nikmat. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

(QS. Ar-Rahman: 77)

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu datangnya dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

(QS. An-Nahl: 53)

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. An-Nahl: 18)

Saudaraku,
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingatkan kita betapa penting dan wajibnya mensyukuri nikmat itu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

(HR Bukhari, No. 5933)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

“Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.”

(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits No. 5933)

Saudaraku,
Nikmat itu akan datang bila kita mengikatnya dengan rasa syukur. Bersyukur dalam segala hal, kita akan bahagia dalam setiap keadaan. Syukur adalah cara yang paling bijak untuk merasa lebih meski dalam serba kekurangan dan serba keterbatasan. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, kita tak akan pernah khawatir dengan apa yang belum kita miliki. Dalam kondisi apapun, Allah Azza wa Jalla akan menghadirkan kenikmatan dan kebahagiaan…

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bersyukur atas setiap ketetapan dan pemberian Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.

_Wallahua’lam bishawab_


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *