Islam mengajarkan umatnya agar mengadopsi pola hidup sederhana. Dengan hidup sederhana manusia akan selalu merasa cukup, bahagia, dan bersyukur kepada Allah. Sebaliknya islam melarang umatnya untuk hidup bermegah megahan, dan berlebih lebihan, karena bermegah megahan akan melalaikan kamu sampai kamu masuk kedalam kubur (QS At-Takatsur)

Allah menyebut orang-orang yang boros dan menghamburkan harta untuk kepentingan pribadi secara berlebihan sebagai “saudara setan” karena orang yang bermegah megahan biasanya akan berlaku zalim. Meski pendapatan besar, dia akan selalu merasa kurang.
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al Isro’ :26-27)
Al Qur`ân menegaskan bahwa tipologi manusia suka menghamburkan uang dan berfoya-foya saat berada dalam kondisi berada, menjauhi gaya kesederhanaan dan keseimbangan. Allah berfirman :
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui keadaan hamba-hambaNya lagi Maha melihat. (QS.asy-Syûra :27).
اْلعَقْــــــلُ آفَـتُهُ الْإِعْجَابُ وَالْغَضَــبُ وَالْمَالُ آفَـتُهُ التَّــبْذِيْرُ وَالنَّــهْبُ
Kelemahan akal itu bangga diri dan emosi, Dan penyakit harta itu pemborosan dan perampokan. (Ali bin Abi Tholib)
Prinsip-prinsip Pembelanjaan Harta dalam Pola Hidup Sederhana
Agar penggunaan harta dengan baik dan sesuai petunjuk Allâh, diperlukan kiat kiat yang baik diantaranya:
1. Menentukan Prioritas Pemanfaatan Harta
Islam mengajarkan pemanfaatan harta untuk memenuhi Lima kemashlahatan: yang meliputi 1) hifdzudien (menjaga agama), 2) hifdzu nafs (menjaga jiwa/hidup), 3) hifdzu nasl (menjaga keluarga/keturunan), 4) hifdzul mâl (harta/kekayaan), dan 5) hifdzul aql (menjaga intelektual/akal). Kelima hal ini dikenal dengan Dharuriyatul Khams.
Untuk memelihara ke-5 perkara ini, para Ulama menjelaskan adanya 3 Maslahat yaitu 1) dharuriyyat (suatu keharusan). 2) hajiat (Suatu yang diperlukan) dan 3) tahsiniyat ( suatu yang membawa kebaikan)
2. Prinsip Halal dan Thayyib Dalam Konsumsi
Islam mengharuskan penggunaan harta harus dengan cara halal dan baik serta bermanfaat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqoroh: 168)
3.Menghindari Tabdzir dan Isyraf serta Tidak Kikir
Ajaran Islam membolehkan umatnya menikmati kebaikan duniawi selama tidak tabdzîr dan Isyrâf. Tabdzîr artinya menghambur-hamburkan harta tanpa ada kemaslahatan. begitu juga islam melarang sikap pelit dan bahil.
وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya. (QS Al-Isrâ’ :26-27)
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal . (QS. Al-Isrâ’: 29)
4.Pemanfaatan Harta Untuk Masa Depan Akhirot
Sisi lain dari anjuran pola hidup sederhana, Islam menganjurkan untuk lebih memperhatikan kepentingan hidupan akhirat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allâh, sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat tersebut printah agar dalam pemanfaatan harta untuk tujuan akhirat, seperti:
- Berinfaq di Jalan Allâh Azza wa Jalla
وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (dijalan Allâh) maka sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 273)
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Allâh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allâh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqarah: 276)
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقَّةِ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ شِقَّةَ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma, siapa yang tidak mendapatkan separuh buah kurma maka dengan kata-kata yang baik. (HR. Al-Bukhari)
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَلِ
Siapa yang bersedekah dengan separuh buah kurma dari usaha yang bagus dan Allâh Azza wa Jalla tidak menerima kecuali yang bagus. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menerimanya dengan tangan kanan-Nya kemudian melipatgandakannya untuk pemiliknya sebagaimana seorang dari kalian mengembangbiakkan anak kudanya hingga menjadi seperti gunung. (HR. Al-Bukhari)
- Berjihad dengan Harta
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allâh dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, (QS.Ash-Shaff:10 )
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَهُ فِي أَهْلِهِ فَقَدْ غَزَا
Siapa yang mencukupi kebutuhan tentara yang berperang dijalan Allâh Azza wa Jalla maka telah berperang dan siapa yang menanggung kebutuhan keluarga tentara tersebut maka dia telah berperang juga. (HR. Al-Bukhâri)


Tinggalkan Balasan