Gema visi “Indonesia Emas 2045” semakin lantang terdengar di seantero negeri. Sebuah cita-cita besar untuk menyambut satu abad kemerdekaan Indonesia dengan status sebagai negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur. Ini adalah sebuah mimpi kolektif yang patut kita perjuangkan bersama. Visi ini membayangkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, dengan sumber daya manusia yang unggul, infrastruktur yang merata, dan tata kelola pemerintahan yang kokoh.

Namun, di tengah gemerlapnya proyeksi masa depan kita, ada satu pertanyaan mendasar yang harus terus menggema dalam sanubari setiap Muslim di negeri ini: di manakah Palestina dalam peta jalan kita menuju Indonesia Emas? Ketika kita sibuk memoles “emas” peradaban kita, apakah kita membiarkan saudara-saudara kita di tanah para nabi terus-menerus terbenam dalam nestapa, darah, dan air mata?

Jangan Lupakan Palestina
Jangan lupakan Palestina, source: Reuters

Ironisnya, saat kita berbicara tentang kemajuan dan kesejahteraan, di belahan bumi lain, saudara seiman kita tengah berjuang hanya untuk sekadar bertahan hidup di tengah konflik berkepanjangan yang telah merenggut puluhan ribu nyawa.

Artikel ini bukanlah sebuah penolakan terhadap cita-cita besar bangsa, sebaliknya ini adalah sebuah pengingat, sebuah muhasabah kolektif, agar “emas” yang kita tuju bukanlah emas yang hampa dari nilai-nilai keimanan, keadilan, dan kemanusiaan.

Sebab, kemajuan sejati dalam timbangan Islam tidak pernah diukur semata-mata dari tingginya gedung pencakar langit atau pesatnya angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari tingginya kepedulian dan keberpihakan kita kepada mereka yang tertindas. Sehebat apapun kondisi negeri ini ke depan, jangan lupakan Palestina yang kita berhutang budi karena merekalah bangsa yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia.

Makna Sejati “Emas” dalam Timbangan Iman

Visi Indonesia Emas 2045 sejatinya sangat selaras dengan amanat konstitusi kita. Di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, secara tegas dinyatakan bahwa salah satu tujuan negara adalah “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Selain itu, alinea pertama dengan lantang menyuarakan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, oleh karena itu, bukanlah sekadar isu luar negeri, melainkan pengejawantahan dari jati diri bangsa dan pelaksanaan amanat konstitusi yang suci. Ini adalah hutang sejarah dan moral yang harus terus kita tunaikan.

Dari sudut pandang akidah, setiap nikmat kemajuan dan cita-cita kemakmuran adalah ujian dari Allah SWT. Apakah bertambahnya kekuatan dan kesejahteraan akan membuat kita semakin bersyukur dan peduli, atau justru membuat kita semakin lalai dan egois? Allah SWT mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia yang seringkali menipu dalam firman-Nya:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ٢٠

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. (Semua itu) seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan engkau melihatnya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini merupakan tamparan keras bagi siapa saja yang menjadikan kemewahan dunia sebagai tujuan akhir. Cita-cita “Indonesia Emas” bisa jatuh menjadi sekadar “perlombaan dalam kekayaan” jika kita melupakan substansinya, yaitu membangun peradaban yang berlandaskan takwa. Peradaban emas yang sesungguhnya adalah peradaban yang menjadikan kekuatannya sebagai alat untuk menolong yang lemah dan menegakkan keadilan, bukan untuk berbangga diri sementara saudaranya menderita.

Panggilan Ukhuwah yang Melintasi Batas

Jangan Lupakan Palestina Saudara Kita
Jangan lupakan Palestina, saudara seiman kita. Source Reuters.

Ikatan yang paling fundamental antara kita dengan rakyat Palestina adalah ikatan akidah, sebuah persaudaraan suci yang diresmikan langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ١٠

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10)

Kata “bersaudara” dalam ayat ini bukanlah kiasan. Ia melahirkan hak dan kewajiban. Rasulullah SAW mengibaratkan ikatan ini laksana satu tubuh. Dalam sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur. (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Jika kita benar-benar meresapi hadits ini, mustahil kita bisa tidur nyenyak di atas kasur yang empuk sementara saudara kita di Gaza dan Tepi Barat tidak bisa memejamkan mata karena dentuman bom dan ketakutan. Mustahil kita bisa menikmati hidangan lezat di meja makan sementara mereka kesulitan mencari sepotong roti untuk mengganjal perut. Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.

Kepedulian ini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban yang akan dipertanggungjawabkan. Allah SWT bahkan menegur dengan keras orang-orang yang diam seribu bahasa melihat penindasan.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هَـٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّۭا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا ٧٥

Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu’. (QS. An-Nisa: 75)

“Berperang” dalam konteks kekinian tidak selalu bermakna mengangkat senjata secara fisik. Ia bisa dimaknai sebagai perjuangan (jihad) dengan segala potensi yang kita miliki. Jihad dengan harta melalui donasi dan bantuan kemanusiaan. Jihad dengan lisan dan tulisan melalui media untuk menyuarakan kebenaran dan melawan propaganda. Jihad dengan kekuatan diplomasi bagi para pemangku kebijakan. Dan yang paling utama, jihad dengan doa yang tak pernah putus di sepertiga malam terakhir. Diam saat mampu berbuat adalah sebuah kezaliman pasif.

Waspada Jebakan Kemewahan Dunia: Jangan Lupakan Palestina

Salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan menuju Indonesia Emas adalah jebakan hubb ad-dunya (cinta dunia) dan kemewahan yang menipu. Semakin sejahtera sebuah masyarakat, semakin besar pula godaan untuk hidup hedonis, individualistis, dan melupakan penderitaan orang lain. Di sinilah relevansi ajaran Islam tentang kesederhanaan dan kewaspadaan terhadap dunia menjadi sangat penting.

Rasulullah SAW, sang teladan utama, telah memperingatkan umatnya agar tidak terlena oleh kemilau dunia. Beliau bersabda:

فأبْشِرُوا وأَمِّلُوا ما يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ ما الفَقْرَ أخْشَى علَيْكُم، ولَكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كما بُسِطَتْ علَى مَن كانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كما تَنَافَسُوهَا، وتُهْلِكَكُمْ كما أهْلَكَتْهُمْ

“Bergembiralah dan berharaplah apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian tetapi aku khawatir jika dunia (kekayaan) dibentangkan (diluaskan) atas kalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian berlomba-lomba memperoleh kekayaan itu. Seperti yang mereka lakukan dan akhirnya kekayaan itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka”  (HR. al-Bukhari no. 3158, 4015, 6425 dan Muslim no. 2961, dari ‘Amr bin ‘Auf al-Anshari radhiyallahu ‘anhu).

Hadits ini adalah peringatan yang sangat jelas. Kemajuan dan kemakmuran yang menjadi target “Indonesia Emas” bukanlah sesuatu yang tercela, namun bisa menjadi sumber kebinasaan jika membuat kita lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya. Mengejar kemajuan harus diimbangi dengan kekuatan spiritual agar kita tidak menjadi hamba dunia, melainkan hamba Allah yang memanfaatkan dunia untuk meraih akhirat.

Kewaspadaan ini diperkuat dengan hadits lain tentang gaya hidup sederhana. Diriwayatkan dari Abu Umamah bin Tsa’labah al-Anshari, ia berkata, para sahabat Rasulullah SAW pada suatu hari berbincang tentang dunia di sisi beliau. Lalu Rasulullah SAW bersabda:

أَلَا تَسْمَعُونَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنْ الْإِيمَانِ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنْ الْإِيمَانِ

Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan (al-badzadzah) adalah bagian dari iman. Sesungguhnya kesederhanaan adalah bagian dari iman. (HR. Abu Dawud, Hadits No. 3630)

Al-Badzadzah di sini bermakna meninggalkan kemewahan dan berlebih-lebihan dalam berpakaian serta berhias, meskipun mampu melakukannya. Ini bukan berarti anjuran untuk hidup kumuh, melainkan ajakan untuk memiliki gaya hidup yang tidak silau oleh kemewahan, yang membuat hati senantiasa terhubung dengan realitas penderitaan umat di tempat lain.

Penutup: Emas Sejati Adalah Keadilan dan Kepedulian

Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 adalah maraton panjang yang membutuhkan kerja keras, inovasi, dan persatuan. Namun, di sepanjang perjalanan itu, jangan sampai nurani kita tumpul. Jangan sampai telinga kita tuli dari jeritan saudara-saudara kita di Palestina.

Menjadikan Palestina sebagai bagian dari agenda besar kita tidak akan memperlambat langkah kita. Justru sebaliknya, ia akan mendatangkan keberkahan dan pertolongan dari Allah. Karena menolong agama Allah dan membela mereka yang tertindas adalah salah satu kunci untuk mengundang datangnya kemenangan dan kemuliaan. Sebagaimana janji-Nya, “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”.

Mari kita bangun Indonesia Emas dengan dua tangan. Satu tangan untuk membangun kecerdasan, teknologi, dan ekonomi bangsa. Dan satu tangan lagi untuk senantiasa terulur, merangkul, dan menolong Palestina. Biarlah dunia menyaksikan bahwa “emas” peradaban Indonesia adalah emas yang bercahaya karena keadilan, berharga karena kepedulian, dan mulia karena keberpihakannya pada kemanusiaan. Itulah esensi dari negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang baik dan berada dalam ampunan Allah SWT


One response to “Indonesia Emas Jangan Lupakan Palestina”

  1. […] kita inginkan di bumi Indonesia ini. Sementara, bagi saudara-saudara kita di belahan bumi lain, seperti Palestine yang dirundung teror 24 jam, rasa nyaman dan kesempatan beraktivitas merupakan sebuah kemewahan, […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *