Ketahanan pangan bukan sekadar isu ekonomi atau politik global, melainkan isu kemanusiaan yang sangat krusial dalam Islam. Pangan adalah kebutuhan asasi yang menentukan keberlangsungan hidup manusia agar dapat beribadah kepada Allah dengan tenang. Islam telah memberikan panduan komprehensif mengenai bagaimana mengelola sumber daya alam, bercocok tanam, hingga strategi menghadapi krisis pangan yang melanda.
Belajar dari Manajemen Krisis Nabi Yusuf AS
Al-Qur’an mengabadikan salah satu strategi ketahanan pangan terbaik sepanjang sejarah manusia melalui kisah Nabi Yusuf AS. Saat menafsirkan mimpi Raja Mesir tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan tujuh ekor sapi kurus, Nabi Yusuf memberikan solusi manajemen pangan yang sangat akurat.
Allah SWT berfirman:
قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ
“Yusuf berkata: ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan’.” (QS. Yusuf: 47)
Ayat ini mengajarkan dua prinsip utama ketahanan pangan: Produksi massal yang berkelanjutan dan Penyimpanan yang tepat (konservasi). Nabi Yusuf menyarankan agar hasil panen disimpan bersama tangkainya agar tidak mudah busuk, serta menekankan pentingnya berhemat (tidak konsumtif) demi mempersiapkan masa paceklik.
Dorongan untuk Menghijaukan Bumi (Pertanian)
Islam sangat mendorong umatnya untuk aktif dalam sektor pertanian sebagai tulang punggung ketahanan pangan. Rasulullah SAW menganggap aktivitas menanam pohon atau bercocok tanam sebagai bentuk sedekah jariyah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu pohon/tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan ia akan mendapatkan pahala sedekah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Bahkan, dalam situasi darurat sekalipun, semangat untuk berproduksi tidak boleh padam. Beliau bersabda: “Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat berdiri, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga eksistensi sumber pangan hingga detik terakhir.
Larangan Mubazir dan Pentingnya Distribusi
Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan (supply), tapi juga soal distribusi yang adil dan perilaku konsumsi yang bijak. Allah melarang keras sikap berlebih-lebihan (israf) dan menyia-nyiakan makanan (mubazir).
Allah SWT berfirman:
وكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“…Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Dalam aspek sosial, ketahanan pangan sebuah masyarakat diukur dari kepeduliannya terhadap sesama. Islam tidak membenarkan seseorang kenyang sendirian sementara tetangganya kelaparan. Rasulullah SAW memperingatkan:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
“Bukanlah mukmin yang sempurna, orang yang kenyang sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (HR. Al-Hakim)
Membangun ketahanan pangan dalam perspektif Islam adalah perpaduan antara ikhtiar lahiriah (bekerja di sektor pertanian, mengelola lumbung pangan, dan riset teknologi pangan) dengan ikhtiar batiniah (bersyukur dan menjauhi sifat boros).
Dengan menghidupkan lahan-lahan tidur, melakukan diversifikasi pangan, serta memperkuat zakat dan sedekah makanan, umat Islam dapat menjadi pelopor dalam menciptakan kedaulatan pangan. Ketahanan pangan adalah kunci stabilitas bangsa dan salah satu jalan menuju kemuliaan umat.


Tinggalkan Balasan