Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الِاسْتِغْفَارَ مَلْجَأً لِلْخَائِفِينَ، وَرَحْمَةً لِلْمُذْنِبِينَ، وَسَبَبًا لِسَعَادَةِ الْمُتَّقِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنِ اسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَتَابَ إِلَيْهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: “وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mengawali khutbah siang ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu pintu ketakwaan dan jalan keluar dari segala kesulitan hidup adalah dengan memperbanyak Istighfar (memohon ampunan kepada Allah).

Seringkali kita menganggap istighfar hanyalah sekadar ucapan ketika kita melakukan dosa. Padahal, istighfar adalah kunci gudang rahmat Allah. Istighfar bukan hanya bagi pendosa, bahkan Baginda Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin surga dan terpelihara dari dosa pun beristighfar lebih dari 70 hingga 100 kali setiap harinya.

Jamaah yang Berbahagia,

Allah SWT telah berjanji di dalam Al-Qur’an tentang keajaiban istighfar melalui lisan Nabi Nuh AS dalam Surah Nuh ayat 10-12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu’. (QS. Nuh: 10-12)

Dari ayat ini, para ulama menjelaskan bahwa istighfar memiliki manfaat yang luar biasa:

  1. Menjadi sebab turunnya rizki dari langit.
  2. Menjadi wasilah dilapangkannya harta dan keturunan.
  3. Memberikan ketenangan hidup dan kesuburan bagi tanah yang gersang.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadits:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang melazimkan (merutinkan) istighfar, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelaparan (kesedihan) dari setiap kegalauan, dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. (HR. Abu Daud & Ahmad).

Jamaah yang Dirahmati Allah,
Ada sebuah kisah nyata yang sangat masyhur tentang keajaiban istighfar, mengutip buku Solusi Masalah dengan Qur’an. Kisah ini dialami oleh Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar pendiri Mazhab Hambali.

Suatu hari, Imam Ahmad merasa ingin sekali pergi ke Basrah, salah satu kota di Iraq, padahal beliau tidak memiliki janji atau keperluan mendesak di sana. Sesampainya di sana, waktu Isya tiba dan beliau salat di sebuah masjid. Setelah salat, beliau ingin beristirahat di dalam masjid, namun penjaga masjid melarangnya karena tidak tahu bahwa itu adalah Imam Ahmad yang agung.

Imam Ahmad pun keluar dan duduk di emperan masjid. Lagi-lagi penjaga masjid mengusirnya. Di saat itu, seorang tukang roti yang rumahnya berdekatan dengan masjid melihat kejadian itu dan menawarkan Imam Ahmad untuk menginap di rumahnya. Selama di rumah tukang roti tersebut, Imam Ahmad memperhatikan sesuatu yang unik. Tukang roti itu terus-menerus mengucap “Astaghfirullah” saat ia menguleni adonan, saat memecah telur, hingga saat memasukkan roti ke oven. Lisan dan hatinya tak berhenti beristighfar.

Imam Ahmad bertanya: “Wahai tuan, sudah berapa lama engkau mengamalkan ini?”
Tukang roti menjawab: “Sudah sangat lama.”

Imam Ahmad bertanya lagi: “Lalu apa buah yang kau dapati dari istighfarmu itu?”
Tukang roti itu menjawab: “Demi Allah, tidak ada satu doa pun yang aku panjatkan kecuali Allah telah mengabulkannya, kecuali satu doa saja yang sampai saat ini belum Allah kabulkan.

Imam Ahmad penasaran: “Doa apakah itu?

Tukang roti menjawab: “Aku berdoa agar Allah mempertemukan aku dengan ulama besar yang bernama Imam Ahmad bin Hanbal.”

Seketika itu pula Imam Ahmad bertakbir dan menangis, beliau berkata: “Allahu Akbar! Sungguh, istighfarmu inilah yang telah membuat Allah ‘menyeret’ saya ke kotamu, bahkan mengusir saya dari masjid hingga sampai ke rumahmu. Saya adalah Ahmad bin Hanbal!”


Jamaah Jumat yang Berbahagia,
Lihatlah bagaimana istighfar mampu menarik rahmat Allah, mendatangkan rizki yang tidak disangka, bahkan mampu menggerakkan hati manusia untuk mengabulkan keinginan kita. Jika kita merasa hidup sedang sempit, ekonomi sulit, anak-anak sulit diatur, atau hati tidak tenang, mungkin itu adalah sinyal bahwa kita kurang beristighfar.
Marilah kita jadikan “Astaghfirullah” sebagai napas kehidupan kita. Di saat macet, di saat bekerja, di saat sendiri, basahilah lisan kita dengan memohon ampun kepada Allah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: “إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”

Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan istighfar. Yakinlah bahwa tidak ada masalah yang tidak ada solusinya bagi mereka yang rajin beristighfar. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang.

Mari kita berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *