اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
Setiap perjalanan pasti memiliki tujuan, dan tujuan akhir dari perjalanan hidup seorang mukmin adalah kematian yang indah (husnul khatimah). Namun, mencapai garis finis dengan membawa iman bukanlah hal yang mudah. Ia membutuhkan sebuah ketahanan mental dan spiritual yang dalam agama kita disebut sebagai Istiqomah.
Secara bahasa, istiqomah berasal dari kata istaqoma-yastaqimu yang berarti tegak lurus atau berkesinambungan. Dalam budaya Jawa, sikap ini dikenal dengan istilah “ajeg”. Lawan dari istiqomah adalah sikap yang hangat-hangat tahi ayam atau “obor blarak”—menyala hebat di awal, namun cepat padam kemudian. Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadi hamba musiman, melainkan hamba yang setia hingga akhir hayat.
Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Hamba Ramadhani
Ujian terbesar istiqomah sering kali datang setelah musim ibadah berlalu, seperti pasca bulan Ramadan. Syekh Fauzan bin Abdullah Ats-Tsaqafi mengingatkan kita agar menjadi “Hamba Rabbani” (hamba Allah yang beribadah sepanjang masa), bukan sekadar “Hamba Ramadhani” (hamba yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadan).
Sikap konsisten inilah yang paling dicintai Allah, meskipun amalan tersebut terlihat sederhana. Rasulullah ﷺ bersabda:
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Tetaplah terus beramal dan bersikaplah tidak berlebihan. Ketahuilah, bahwasanya amalan seseorang tidak dapat memasukkannya ke surga. Bahwasanya amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun hanya ringan. (HR. Bukhari: 6464)
Segalanya Tergantung pada Akhir
Mengapa kita harus memaksakan diri untuk istiqomah? Karena nasib seorang hamba di akhirat sangat ditentukan oleh kondisi terakhirnya di dunia. Rasulullah ﷺ menegaskan:
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada akhirnya. (HR. Bukhari)
Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi seseorang terlihat buruk amalnya sepanjang hidup, namun bertaubat di akhir hayatnya. Sebaliknya, ada yang terlihat ahli ibadah, namun tergelincir di ujung usianya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ melarang keras kita mencela orang yang berbuat dosa, karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidupnya kelak. Kesombongan merasa diri paling suci justru bisa menjadi sebab tergelincir.
Manisnya “Madu” Menjelang Ajal
Ada sebuah tanda indah bagi mereka yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, yaitu mereka akan “diberi madu” (‘assalahu). Sahabat bertanya, “Apa artinya?” Rasulullah ﷺ menjelaskan:
Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah menjadikan semanis madu. Allah memberinya taufik untuk beramal shalih sebelum kematiannya, sehingga orang-orang di sekelilingnya ridha kepadanya. (HR. Ahmad)
Inilah track record terbaik—sebuah husnul khatimah—di mana seseorang wafat dalam keadaan sedang melakukan kebaikan atau telah bertaubat.
Perisai Doa: Memohon Akhir yang Baik
Selain berusaha keras menjaga amal, senjata utama seorang mukmin adalah doa. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengajarkan sebuah doa yang sangat indah untuk memohon husnul khatimah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِي آخِرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ
Allāhummaj’al khayra ‘umurī ākhirahu, wa khayra ‘amalī khawātimahu, wa khayra ayyāmī yawma alqāka.
“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya, dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu.”
Selain itu, kita juga dianjurkan untuk lazim membaca doa agar diwafatkan dalam keadaan Islam, sebagaimana doa para Nabi dan orang shalih dalam Al-Qur’an:
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Tawaffanī musliman wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn.
Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku bersama orang yang shalih. (QS. Yusuf 12: 101)
Kematian adalah kepastian, namun kondisi saat mati adalah pilihan yang harus diperjuangkan. Istiqomah adalah jembatan yang menghubungkan niat baik kita hari ini dengan akhir yang bahagia nanti.
Mari kita hiasi sisa umur ini dengan kebaikan, sekecil apapun itu, asalkan dilakukan dengan hati yang ajeg dan tulus. Semoga Allah menutup usia kita dengan kalimat Laa ilaaha illallah dan memasukkan kita ke dalam golongan husnul khatimah. Aamiin.
نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِن
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه


Tinggalkan Balasan