SYUKUR: MENGIKAT NIKMAT, MENJEMPUT TAMBAHAN KARUNIA

Manusia sering kali hidup dalam paradoks yang melelahkan. Kita bekerja keras mengejar apa yang belum ada, namun sering kali lupa menikmati apa yang sudah ada dalam genggaman. Mata kita terlalu tajam menatap ke atas, melihat pencapaian orang lain, hingga lupa menunduk melihat betapa berlimpahnya karunia yang telah membasahi kehidupan kita sendiri. Akibatnya, hati menjadi gersang, gelisah, dan merasa selalu kekurangan.

Di tengah kegersangan spiritual inilah, Islam menawarkan konsep “Syukur” sebagai oase yang menyejukkan. Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih seremonial. Ia adalah sebuah mekanisme spiritual yang canggih, sebuah kunci rahasia yang jika diputar dengan benar, tidak hanya akan menjaga nikmat yang ada, tetapi juga mendatangkan nikmat-nikmat baru yang tak terduga.

Allah SWT meletakkan “Proklamasi Syukur” ini dengan sangat megah dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7. Ayat ini adalah janji agung, sekaligus peringatan keras yang menjadi hukum kausalitas (sebab-akibat) dalam interaksi antara hamba dan Penciptanya.

Membedah Janji Allah dalam Surah Ibrahim Ayat 7

Mari sejenak kita tadaburi firman Allah SWT yang sangat populer namun sering kali terlewatkan kedalaman maknanya ini:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini dibuka dengan kata “Ta’azzana”, yang berarti memaklumkan atau mengumumkan dengan pengumuman yang tegas dan penting. Allah tidak sekadar berbisik, tetapi memproklamirkan sebuah undang-undang kehidupan.

Poin sentral dari ayat ini terletak pada kalimat “La’in syakartum la’azidannakum” (Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu). Para ahli tafsir bahasa Arab menyoroti penggunaan Lam Taukid (huruf Lam penegas) dan Nun Taukid (huruf Nun bertasydid di akhir kata) pada kata la’azidannakum. Ini menunjukkan penekanan yang berlapis-lapis. Seolah Allah berkata: “Sungguh, benar-benar, pasti, Aku akan tambah untuk kalian.” Tidak ada keraguan sedikit pun dalam janji ini.

Namun, janji manis ini disandingkan dengan ancaman yang menggetarkan: “Wa la’in kafartum” (Dan jika kamu mengingkari). Kata yang digunakan adalah Kufur. Dalam konteks akidah, kufur berarti tidak beriman. Namun dalam konteks nikmat, ini disebut Kufur Nikmat—yaitu sikap menyembunyikan kebaikan Allah, menganggap kesuksesan semata-mata karena usaha diri sendiri, atau menggunakan nikmat untuk bermaksiat. Balasannya tidak main-main: “Inna ‘azabi lasyadid” (Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih). Azab di sini bisa berupa dicabutnya nikmat tersebut, atau nikmatnya tetap ada namun keberkahannya hilang, sehingga nikmat itu justru menjadi sumber bencana (istidraj).

Hakikat “Ziyadah” (Tambahan)

Banyak orang salah kaprah mengartikan “tambahan” dalam ayat tersebut semata-mata sebagai penambahan kuantitas materi. Jika bersyukur punya uang satu juta, maka akan ditambah menjadi dua juta. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, namun terlalu dangkal.

Para ulama menjelaskan bahwa Ziyadah (tambahan) yang dijanjikan Allah bentuknya sangat luas. Tambahan itu bisa berupa:

  1. Ketenangan Hati (Sakinah): Harta tetap sama, tapi hati menjadi lapang dan cukup.
  2. Keberkahan: Umur yang sama tapi produktif dalam kebaikan, atau uang yang sedikit tapi cukup untuk segala kebutuhan.
  3. Kesehatan dan Kesempatan: Tubuh yang kuat untuk beribadah.
  4. Nikmat Spiritual: Ditambahnya kemudahan untuk melakukan ketaatan lain. Ini adalah tambahan tertinggi, ketika satu kebaikan (syukur) membuka pintu kebaikan lainnya.

Jadi, syukur adalah alat untuk “mengikat” nikmat yang sudah ada agar tidak lepas, dan “memancing” nikmat yang belum datang agar segera tiba.

Tiga Rukun Syukur yang Hakiki

Mengapa banyak orang merasa sudah mengucapkan “Alhamdulillah” ribuan kali, tapi hidupnya tetap sempit? Mungkin karena syukurnya baru sebatas di lisan, belum menjadi sebuah kesadaran utuh. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa syukur bangunan yang berdiri di atas tiga tiang (rukun):

  1. Syukur dengan Hati (Bi-Qalbi): Yaitu kesadaran penuh dan pengakuan tulus bahwa segala fasilitas hidup yang kita nikmati—mulai dari kedipan mata hingga detak jantung—semata-mata bersumber dari Allah SWT. Bukan karena kepintaran kita, bukan karena warisan orang tua, tapi murni Fadhlullah (karunia Allah).
  2. Syukur dengan Lisan (Bil-Lisan): Membasahi lidah dengan pujian kepada Allah (Tahmid) dan menceritakan nikmat tersebut sebagai bentuk pengakuan (Tahadduts bin-Ni’mah), bukan untuk pamer.
  3. Syukur dengan Anggota Badan (Bil-Jawarih): Inilah tingkatan syukur yang paling nyata. Menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan Pemberinya. Mata digunakan untuk melihat yang baik, tangan untuk memberi, harta untuk zakat dan sedekah. Jika seseorang diberi kesehatan tapi digunakan untuk bermaksiat, pada hakikatnya ia sedang melakukan Kufur Nikmat meskipun lisannya fasih berdzikir.

Korelasi dengan Ayat Lain: Sedikit yang Bersyukur

Allah SWT memberikan peringatan dalam ayat lain bahwa manusia yang benar-benar mampu bersyukur itu jumlahnya minoritas. Dalam Surah Saba’ ayat 13, Allah berfirman:

“…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

Ayat ini berkorelasi erat dengan Surah Al-Baqarah ayat 152, di mana Allah mensejajarkan syukur dengan ingatan kepada-Nya:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Korelasi ayat-ayat ini menunjukkan bahwa syukur adalah indikator kualitas keimanan. Setan sangat tahu dahsyatnya kekuatan syukur, sehingga salah satu misi utamanya adalah membuat manusia lupa bersyukur. Iblis pernah bersumpah, sebagaimana terekam dalam Surah Al-A’raf ayat 17, “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

Jadi, ketika kita memilih untuk bersyukur, sejatinya kita sedang memenangkan pertarungan melawan tipu daya setan.

Keutamaan Syukur dalam Timbangan Hadits

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling pandai bersyukur. Beliau sholat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah RA mengapa beliau melakukan itu padahal dosanya yang lalu dan akan datang sudah diampuni, beliau menjawab dengan retorika yang indah: “Afala akunu ‘abdan syakura?” (Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?).

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan betapa ajaibnya hidup seorang mukmin yang diwarnai syukur:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan (nikmat), ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa kesusahan (musibah), ia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa syukur adalah “katup pengaman” mental. Syukur membuat seorang mukmin tidak sombong saat jaya, dan sabar membuat ia tidak putus asa saat terpuruk.

Rasulullah SAW juga memberikan tips praktis agar kita mudah bersyukur, yaitu dengan mengatur arah pandangan hidup. Beliau bersabda:

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyakit modernitas adalah kita terlalu sering melihat ke atas dalam urusan dunia (rumah mewah, mobil baru, jabatan tinggi), sehingga nikmat “sederhana” seperti bisa bernapas tanpa tabung oksigen, bisa berjalan tanpa kursi roda, atau bisa makan dengan selera, menjadi tidak berharga di mata kita. Padahal, bagi orang yang sedang sakit keras, nikmat-nikmat “sederhana” itu rela mereka tukar dengan seluruh harta mereka.

Penutup: Mengubah Keluhan Menjadi Kekuatan

Sebagai penutup, mari kita kembali merenungi Surah Ibrahim ayat 7. Hidup ini memang tidak sempurna. Ada masalah, ada kekurangan, ada tantangan. Namun, fokus pada apa yang hilang tidak akan mengembalikannya. Sebaliknya, fokus pada apa yang masih tersisa dan mensyukurinya akan mengundang pertolongan Allah.

Syukur bukan berarti pasrah dan tidak mau berusaha maju. Justru syukur adalah energi positif. Orang yang bersyukur memiliki mentalitas kelimpahan (abundance mentality). Ia yakin bahwa Allah Maha Kaya, sehingga ia bekerja dan beribadah dengan perasaan optimis, bukan dengan ketakutan akan kemiskinan.

Jangan menunggu bahagia baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka kamu akan bahagia. Jangan menunggu kaya baru bersedekah (sebagai bukti syukur), tapi bersedekahlah maka Allah akan kayakan.

Mari kita ikat nikmat yang ada agar tidak lari, dan kita ketuk pintu langit untuk nikmat yang belum turun, dengan kunci ajaib bernama Syukur. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang sedikit (Qalil), yaitu hamba-hamba-Nya yang pandai berterima kasih.

Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.
(Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: [Satria Bintang Ramadhan, S.Pd.] Rubrik: Sekolah Tabligh PDM Sragen


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *