Menjemput Berkah di Tengah Perjalanan: Seni Tamasya dalam Islam
Liburan sering kali dianggap sebagai waktu untuk “melarikan diri” dari rutinitas. Kita mengepak koper, memesan tiket, dan mencari pemandangan hijau untuk mendinginkan kepala. Namun, pernahkah kita bertanya, bagaimana Islam memandang aktivitas jalan-jalan ini? Apakah sekadar menghabiskan uang, atau ada nilai ibadah di dalamnya?
Dalam Islam, tamasya bukan sekadar pindah tidur dari rumah ke hotel. Ia adalah aktivitas spiritual yang dibungkus dengan kegembiraan. Mari kita bedah bagaimana menjadikan liburan kita lebih bermakna.
1. Safar: Sarana Mengenal Kebesaran Sang Pencipta
Dalam literatur Islam, bepergian disebut dengan Safar. Al-Qur’an sering kali menantang manusia untuk keluar dari zona nyamannya dan melihat dunia. Tujuannya satu: agar kita sadar betapa kecilnya kita dan betapa besarnya Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 20:
قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَاَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللّٰهُ يُنْشِئُ النَّشْاَةَ الْاٰخِرَةَ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’”

Saat kita melihat megahnya pegunungan atau jernihnya air laut, lisan kita bukan hanya berucap “Wah, bagus ya!”, melainkan “Subhanallah, betapa hebat penciptaan-Mu.” Inilah yang mengubah tamasya menjadi Tadabbur Alam.
2. Refreshing untuk Jiwa yang Lelah
Islam adalah agama yang sangat manusiawi. Rasulullah SAW memahami bahwa hati manusia bisa merasa bosan dan jenuh. Jika mesin butuh pelumas, maka jiwa manusia butuh hiburan yang halal agar bisa kembali semangat beribadah.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً
“Wahai Hanzhalah, (berikanlah waktu) sesaat demi sesaat (untuk urusan duniawi/istirahat dan urusan akhirat).”

Hadis ini mengajarkan keseimbangan. Kita tidak dituntut untuk sujud 24 jam nonstop tanpa henti. Ada waktu di mana kita perlu bercengkerama dengan keluarga, menikmati semilir angin, dan tertawa bahagia. Liburan adalah cara kita “menyetrum” ulang energi yang habis setelah berbulan-bulan bekerja.
3. Fikih Musafir: Keringanan di Balik Perjalanan
Salah satu bukti bahwa Islam mendukung aktivitas bepergian adalah adanya konsep Rukhshah (keringanan). Allah tidak ingin membebani hamba-Nya yang sedang dalam perjalanan.
A. Shalat Jamak dan Qashar
Bagi seorang musafir, Allah memberikan diskon luar biasa. Shalat yang empat rakaat boleh diringkas menjadi dua (Qashar), dan dua waktu shalat boleh digabung (Jamak). Ini menunjukkan bahwa traveling adalah aktivitas yang diakui dan dihargai dalam agama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah suka jika kemudahan-kemudahan (rukhsah)-Nya dilaksanakan, sebagaimana Dia benci jika kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.” (HR. Ahmad).

B. Puasa Ramadan
Bahkan dalam ibadah wajib seperti puasa Ramadan, seorang musafir diberikan pilihan untuk berbuka dan menggantinya di hari lain jika perjalanan tersebut memberatkannya.
4. Adab dan Etika Tamasya ala Muslim
Agar liburan tidak menjadi sia-sia, ada beberapa etika yang perlu diperhatikan:
✓Meluruskan Niat: Pastikan niat kita pergi adalah untuk menyambung silaturahmi, menyenangkan keluarga, atau tadabbur alam. Hindari niat untuk pamer (riya) di media sosial.
✓Menjaga Lingkungan: Seorang muslim adalah khalifah di bumi. Jangan sampai kedatangan kita ke tempat wisata justru meninggalkan tumpukan sampah. Keindahan alam adalah amanah.
✓Menjaga Pandangan dan Perilaku: Liburan bukan alasan untuk melanggar batas-batas moral. Tetap jaga kesopanan dan aturan agama di mana pun kita berada.
5. Manfaat Sosial dan Kekeluargaan
Liburan keluarga adalah momen emas untuk memperbaiki komunikasi. Di rumah, mungkin ayah sibuk dengan pekerjaan dan ibu sibuk di dapur. Namun saat tamasya, semua berada dalam satu kendaraan dan menghadapi tantangan perjalanan bersama.
Ini selaras dengan perintah untuk menjaga keharmonisan keluarga:
قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
‘Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Membangun kedekatan emosional melalui liburan adalah salah satu cara menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan anggota keluarga, yang merupakan fondasi rumah tangga islami.

Tamasya dalam Islam bukan sekadar hura-hura atau pemborosan. Ia adalah bentuk syukur atas keindahan dunia, sarana mempererat tali kasih sayang, dan metode untuk menyegarkan iman melalui pengamatan terhadap alam semesta. Selama kita tetap menjaga batasan syariat—seperti tetap menjaga shalat dan menutup aurat—maka setiap langkah kaki kita di tempat wisata bisa bernilai pahala.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *