Antara Keceriaan dan Kesucian: Menyikapi Fenomena “Tepuk Pok” Anak di Masjid
Belakangan ini, suasana masjid di berbagai daerah di Indonesia diramaikan oleh sebuah tren unik di kalangan anak-anak. Jika dulu kita terbiasa mendengar suara tawa atau lari-larian, kini ada bunyi spesifik yang mendominasi: “Pok! Pok! Pok!”. Bunyi ini dihasilkan dari telapak tangan anak-anak yang menepuk lantai masjid dengan teknik tertentu saat bermain kartu gambar atau sekadar adu ketangkasan tepuk tangan.
Bagi sebagian jamaah, suara ini dianggap sebagai gangguan kekhusyukan. Namun bagi anak-anak, ini adalah bentuk kegembiraan. Bagaimana kita sebagai orang dewasa dan pengurus masjid menyikapi fenomena ini dengan bijak, tanpa mengusir mereka dari rumah Allah?
1. Masjid: Baitullah yang Ramah Anak
Masjid bukan sekadar bangunan kaku tempat bersujud, melainkan pusat peradaban dan pendidikan. Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang luar biasa dalam menyambut anak-anak di masjid. Kita tentu ingat kisah beliau yang memperlama sujudnya karena punggungnya dijadikan “kuda-kudaan” oleh cucunya, Hasan dan Husain.
Fenomena anak bermain gambar dengan bunyi “Pok” sebenarnya adalah indikasi bahwa anak-anak merasa nyaman berada di masjid. Ini adalah modal besar untuk menanamkan kecintaan mereka pada ibadah. Namun, kenyamanan ini perlu dibarengi dengan edukasi mengenai adab al-masjid (etika di dalam masjid).
2. Belajar dari Kalamullah: Pena dan Karakter
Dalam memandang perilaku anak-anak, kita bisa mengambil ibrah dari Surah Al-Qalam. Allah SWT berfirman:
> نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
“Nun. Demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1)
Ayat ini merupakan sumpah Allah atas nama pena dan tulisan. Apa hubungannya dengan anak-anak bermain gambar? Secara filosofis, anak-anak adalah “lembaran putih” dan pengalaman mereka di masjid adalah “tulisan” yang akan membekas sepanjang hayat.
Jika kita merespons permainan mereka dengan bentakan atau pengusiran, maka tulisan yang terukir di hati mereka tentang masjid adalah tempat yang galak, kaku, dan tidak menyenangkan. Sebaliknya, jika kita menggunakan pendekatan “pena” (edukasi dan bimbingan), kita sedang menuliskan memori indah bahwa masjid adalah tempat yang aman dan penuh kasih sayang.
3. Meneladani Kesabaran Rasulullah ﷺ
Terkait gangguan suara di dalam masjid, kita perlu merujuk pada hadits shahih yang menunjukkan betapa lembutnya Rasulullah ﷺ kepada anak-anak.
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan:
“Rasulullah ﷺ keluar menemui kami dengan membawa Hasan atau Husain, lalu beliau maju dan mengimami shalat. Beliau pun sujud dengan sangat lama. Aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil di atas punggung beliau…” (HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Al-Albani).
Rasulullah ﷺ tidak memarahi anak tersebut, tidak pula menyuruh orang lain menjauhkannya. Beliau memilih menyesuaikan ibadahnya demi kenyamanan sang anak. Hal ini mengajarkan bahwa kekhusyukan tidak boleh dijadikan alasan untuk bertindak kasar kepada anak-anak yang belum mengerti sempurnanya adab.
4. Memahami Fenomena “Pok” secara Proporsional
Permainan menepuk tangan ke lantai hingga berbunyi nyaring memang bisa mengganggu saat shalat berjamaah berlangsung. Namun, di luar waktu shalat, suara itu adalah suara kehidupan. Berikut adalah beberapa langkah bijak untuk menyikapinya:
✓Edukasi, Bukan Eksekusi: Beritahu anak-anak dengan bahasa yang lembut bahwa lantai masjid adalah tempat sujud yang suci. Tepukan yang terlalu keras dikhawatirkan mengotori lantai atau mengganggu orang yang sedang berdzikir.
✓Zonasi Masjid: Pengurus masjid bisa menyediakan area khusus di teras atau pojok tertentu agar anak-anak tetap bisa bermain tanpa mengganggu area utama shalat.
✓Apresiasi Kehadiran: Alih-alih melarang bermain gambar, cobalah sesekali dekati mereka. Berikan hadiah kecil jika mereka bisa tenang saat adzan berkumandang. Ini akan membuat mereka merasa dihargai.
5. Menanamkan Adab Tanpa Menghilangkan Keceriaan
Tujuan akhir kita adalah mencetak generasi yang “hatinya terpaut pada masjid”. Jika hari ini mereka datang untuk bermain gambar dan ber- “Pok-pok” ria, tugas kita adalah mengarahkan energi itu agar esok hari mereka datang untuk bersujud dengan penuh kesadaran.
Kembali ke pesan Surah Al-Qalam ayat 4:
> وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Ayat ini memuji akhlak Rasulullah ﷺ. Sebagai pengikut beliau, akhlak kitalah yang harus dikedepankan saat menghadapi riuhnya anak-anak. Kesabaran kita menghadapi suara “Pok” mereka adalah cerminan dari kematangan iman kita.
Anak-anak dan suaranya di masjid bukanlah musuh bagi kekhusyukan. Mereka adalah masa depan umat. Biarlah bunyi “Pok” itu menjadi musik latar bagi proses mereka mengenal Tuhannya, selama kita sebagai orang dewasa mampu membimbing mereka dengan pena kasih sayang, bukan dengan lisan yang tajam.
Jangan sampai masjid menjadi sunyi dari suara anak-anak, karena kesunyian itu bisa jadi adalah pertanda matinya generasi di masa depan. Mari kita jadikan masjid tempat yang paling dirindukan oleh anak-anak, tempat di mana mereka bisa bermain, belajar, dan akhirnya bersujud dengan cinta.

Tinggalkan Balasan