Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita memohon pertolongan, ampunan, dan perlindungan dari-Nya. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh-Nya, maka tak ada yang bisa memberi petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Amma ba’du,
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama, mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah. Takwa bukan sekadar rasa takut, tapi juga cinta, harapan, dan ketaatan. Allah memerintahkan takwa kepada seluruh umat manusia, sebagaimana firman-Nya:
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu: ‘Bertakwalah kepada Allah(QS An-Nisa: 131)
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita akan merenungkan satu ibadah yang sering kita lakukan, tapi kadang kita lewatkan maknanya: sujud.
Sujud bukan hanya gerakan dalam shalat. Ia adalah simbol kehinaan kita di hadapan Allah, dan sekaligus bentuk cinta dan tunduk total kepada-Nya. Sujud adalah saat di mana kita benar-benar “meletakkan ego” dan mengakui bahwa kita hanyalah hamba.
Allah berfirman:
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu (kepada Allah) (QS Al-‘Alaq: 19)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ رواه مسلم
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa (HR. Muslim, no. 482)
Bayangkan, saat kita sujud, kita berada di titik terendah secara fisik, tapi justru di titik tertinggi secara spiritual. Di sanalah kita bisa menangis, memohon, dan mencurahkan isi hati kepada Allah.
Sujud bukan hanya untuk orang yang sedang shalat. Ia juga bisa menjadi tempat pelarian bagi hati yang lelah, jiwa yang gelisah, dan pikiran yang buntu. Di tengah kesibukan dunia, sujud adalah ruang sunyi yang penuh cahaya.
Dalam sujud, kita ucapkan:
“Subhāna Rabbiyal A‘lā” — Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi.
Kalimat ini bukan sekadar pujian, tapi pengakuan bahwa kita ini kecil, lemah, dan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Maka, mari kita renungkan: apakah selama ini kita benar-benar sujud dengan hati? Ataukah hanya tubuh kita yang bergerak, sementara hati kita sibuk dengan urusan dunia?
Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata,
” كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي : سَلْ ، فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “. رواه مسلم في ” صحيحه“(489).
Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489)
Sujud bukan hanya ibadah, tapi juga pembeda antara orang beriman dan orang yang ingkar. Allah berfirman:
أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ
Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka (QS Al-Muthaffifin: 15)
Kenapa mereka terhalang? Karena di dunia mereka enggan bersujud. Maka di akhirat, mereka tidak diberi kesempatan memandang Allah. Na‘ūdzu billāh.
Saudaraku, mari kita koreksi kembali kualitas sujud kita. Apakah hati kita ikut sujud bersama tubuh kita? Ataukah hanya dahi yang menyentuh sajadah, sementara hati tetap berdiri angkuh? Sujud adalah tempat terbaik untuk menangis, memohon ampun, dan memperbaiki diri. Di sana, tidak ada status sosial, tidak ada jabatan, tidak ada pujian manusia. Yang ada hanyalah kita dan Allah. Maka, perbanyaklah sujud. Di rumah, di masjid, dalam shalat wajib maupun sunnah. Jadikan sujud sebagai tempat kita kembali kepada Allah.
Mari kita berdoa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْخَاشِعِينَ، وَمِنَ السَّاجِدِينَ لَكَ وَحْدَكَ، الَّذِينَ يَرْجُونَ رَحْمَتَكَ وَيَخَافُونَ عَذَابَكَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
Kemudian, bershalawatlah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana Allah memerintahkan:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا ٥٦
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab: 56)
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Tinggalkan Balasan