MEMBANGUN JIWA YANG QANA’AH DAN MENJAUHI SIFAT TAMAK MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang mengejar kekayaan, jabatan, dan kedudukan sampai lupa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Padahal, ketenteraman jiwa tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada sifat qana’ah — yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah dan ridha terhadap ketentuan-Nya. Melalui berbagai ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, dan nasihat para ulama, Islam mengajarkan konsep qana’ah sebagai pondasi jiwa yang tenang, bersih, dan bebas dari sifat tamak.
Artikel ini menguraikan makna qana’ah, dalil-dalilnya, manfaatnya, serta cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Pengertian Qana’ah Menurut Para Ulama
Secara bahasa, qana’ah berarti merasa cukup dan menerima dengan lapang dada setiap rezeki yang telah Allah tetapkan. Ibnu Batththol menjelaskan:
الرِّضَا بِقَضَاءِ اللهِ تَعَالَى وَالتَّسْلِيمُ لِأَمْرِهِ لِأَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ لِلْعِبَادِ
“Ridha terhadap ketetapan Allah Ta‘ala dan berserah diri terhadap keputusan-Nya, karena ia yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah yang terbaik bagi hamba.”
Menurut Imam Al-Hujwiri, qana’ah ialah menerima sesuatu dalam keadaan lapang dada, baik rezeki yang banyak maupun sedikit.
Sedangkan Imam Abu Abdullah bin Khafif mendefinisikan qana’ah sebagai meninggalkan ketamakan terhadap dunia dan menerima rezeki sesuai kadar yang telah Allah tetapkan.
- Dalil-Dalil Tentang Qana’ah
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kekayaan yang sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan hati:
لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya itu bukan banyaknya harta benda, tetapi kaya adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:
لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
“Tidak mengapa seseorang kaya asalkan ia bertakwa. Sehat bagi orang bertakwa lebih baik daripada kaya, dan kebahagiaan hati termasuk nikmat.”
(HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Doa Nabi ﷺ yang terkenal juga menunjukkan pentingnya qana’ah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sifat menjaga diri, dan hati yang merasa cukup.”
(HR. Muslim)
- Nasihat Rasulullah ﷺ kepada Abu Dzar
Nabi ﷺ pernah memberikan nasihat panjang kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang sangat berkaitan dengan qana’ah dan menjauhi tamak. Di antaranya:
وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ تَحْتِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي
“…dan engkau hendaknya melihat kepada orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia), dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasmu…”
Ini adalah resep utama ketenangan jiwa: melihat orang yang lebih sedikit hartanya agar mudah bersyukur.
Nabi ﷺ juga berwasiat kepada Abu Dzar:
وَأَنْ لَا أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا
“…dan agar aku tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia.”
(HR. Ahmad dan Thabrani)
Ini adalah bentuk kemuliaan jiwa dan kebebasan dari sifat bergantung kepada manusia.
- Bahaya Sifat Tamak dan Rakus
Setan akan selalu menggoda manusia agar tidak merasa cukup dan selalu menginginkan lebih. Dalam penjelasan Al-Ghazali rahimahullah:
“Setan membisiki manusia: Mengapa dirimu merasa rendah dan hina? Si fulan masih lebih berlimpah hartanya darimu.”
Bisikan ini membuat seseorang tidak bersyukur dan cenderung iri, dengki, serta tidak ridha kepada ketentuan Allah.
Karena itu Allah memperingatkan:
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Barang siapa dijaga dari sifat tamak dalam dirinya, maka mereka itulah orang yang beruntung.”
(QS. At-Taghabun: 16)
- Kelebihan dan Keutamaan Qana’ah
Sifat qana’ah membawa banyak manfaat, di antaranya:
- Hati menjadi tentram dan jauh dari stres
Orang yang qana’ah tidak sibuk membanding-bandingkan hartanya dengan orang lain.
- Menjauhkan diri dari dosa
Tamak sering kali menyeret orang kepada kecurangan, kedzaliman, dan korupsi.
- Mendekatkan diri kepada Allah
Orang yang ridha kepada Allah akan diridhai oleh Allah.
- Memperkuat ukhuwah
Orang yang qana’ah tidak iri terhadap rezeki saudaranya.
- Menumbuhkan rasa syukur
Qana’ah adalah pintu untuk menghitung nikmat-nikmat Allah.
Qana’ah merupakan sifat istimewa yang menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan sejati. Ia bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima ketentuan Allah setelah berjuang dengan sungguh-sungguh. Dengan qana’ah, manusia akan terhindar dari iri hati, tamak, dan tekanan hidup yang tak berkesudahan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu bersyukur, ridha terhadap ketentuan-Nya, dan merasa cukup dengan karunia-Nya. Amin.
نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِن
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Tinggalkan Balasan