اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ سَبَبًا لِمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَرَفْعِ الدَّرَجَاتِ، وَكَفَّارَةِ السَّيِّئَاتِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ الْمُذْنِبَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ
وقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۖ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
“مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Bersyukur kita panjatkan kepada Allah swt. Berkah nikmat yang dicurahkah kepada kita, saat ini, di tempat yang mulia ini. Kita masih mampu menjalankan kewajiban sebagai umat Islam. Yaitu shalat jum’at. Semoga Allah ridha dan menerima ibadah kita semua.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan yang mulia. Rasulullah muhammad saw. yang telah membawa manusia ke jalan yang benar dengan cara membacakan dan menjelaskan alqur’an kepada manusia. Dan alhamdulillah kita termasuk orang yang mengimani kitab suci itu.

Selanjutanya sebagai khatib. Kami wasiatkan kepada kita semua. Mari kita mantabkan iman dan taqwa kepada Allah. Dengan ihtiar terus mempelajari dan mentadabburi alqur’an setiap hari.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Bekerja adalah bagian dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti berusaha mencari rezeki dengan berbagai cara; ada yang bertani, berdagang, menjadi pegawai, hingga berwirausaha. Namun, sering kali orang hanya memandang kerja sebatas urusan dunia: mencari uang, mencukupi kebutuhan keluarga, atau menambah tabungan. Padahal dalam pandangan Islam, kerja bukan hanya soal dunia, tapi juga bisa menjadi jalan penghapus dosa dan perantara menuju ampunan Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

صحيح البخارى – (ج 7 / ص 464)
عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنِ الْمِقْدَامِ – رضى الله عنه – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Dari Khalid bin Ma‘dan, dari al-Miqdām –raḍiyallāhu ‘anhu– dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada (makanan) yang dimakan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud ‘alaihissalām dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (Shahih Bukhari: Juz 7 Hal 464)

Hadis ini menegaskan bahwa bekerja dengan tangan sendiri adalah pekerjaan mulia. Bahkan para nabi pun bekerja. Nabi Daud ‘alaihissalam membuat baju besi, Nabi Nuh membangun kapal, dan Nabi Muhammad ﷺ berdagang. Semua pekerjaan mereka bukan sekadar untuk hidup, tapi juga untuk menunaikan ibadah dan menjadi wasilah ampunan dosa.

Banyak orang tidak menyadari bahwa kerja yang halal bisa menjadi kaffarah (penghapus dosa). Bagaimana bisa?
Rasulullah ﷺ bersabda:

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ “مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ

Dari Ibnu ‘Abbās berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa di waktu sore dalam keadaan letih karena kerja dari kedua tangannya, maka ia memasuki sore hari dalam keadaan diampuni dosanya.” (HR. Tabrani)

Menelantarkan keluarga itu dosa. Tidak memberi nafkah kepada anak dan istri adalah dosa. Jenis dosa ini tidak hilang hanya dengan membaca istighfar dan meminta maaf. Tetapi harus bekerja agar mendapat uang untuk menafkahi mereka.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menulis bahwa ada dosa yang hanya terhapus dengan berpayah-payah mencari nafkah. Beliau berkata:

مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبٌ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الْغَمُّ بِالْعِيَال – إحياء علوم الدين – (ج 1 / ص 410)

Di antara dosa-dosa itu ada dosa-dosa yang tidak dapat dihapuskan kecuali dengan kepayahan dan keletihan karena menanggung keluarga. (Ihya Ulumuddin: Juz 1, Hal. 410)

Bekerja untuk mencari nafkah bukan hanya dapat menghapus dosa akan tetapi juga dinilai sebagai pahala bagi pelakunya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ.

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ – صحيح البخارى – (ج 1 / ص 107)

Dari Sa‘d bin Abī Waqqāṣ, bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah yang engkau maksudkan dengannya mencari ridha Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan termasuk makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (Shahih Bukhari: Juz 1 Hal 107)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga menegaskan bahwa amal duniawi yang diniatkan untuk Allah bisa berubah menjadi amal ukhrawi. Seorang petani yang menanam dengan niat memberi makan orang-orang, hewan, dan memakmurkan bumi, akan mendapatkan pahala dan diampuni dosa-dosanya.

Orang yang malas bekerja dan lebih suka bergantung pada orang lain akan sulit mendapat keberkahan hidup. Bahkan, kemalasan bisa menyeretnya pada dosa, seperti mencuri, menipu, atau meminta-minta tanpa kebutuhan. Rasulullah ﷺ melarang umatnya hidup dari mengemis.

Kerja justru mendidik jiwa menjadi sabar, ikhlas, dan qana’ah. Ketika seseorang mencangkul sawah di bawah terik matahari, mengangkat barang di pasar, atau lembur di kantor demi menafkahi keluarga, semua keringatnya bisa menjadi saksi amal penghapus dosa.

Kunci utama agar kerja menjadi penghapus dosa adalah niat. Jika kerja hanya untuk dunia, maka nilainya sebatas dunia. Tetapi jika diniatkan untuk: menunaikan kewajiban nafkah, menjaga diri dari yang haram, membantu sesama, dan mencari ridha Allah, maka setiap langkah kerja menjadi ibadah dan penghapus dosa.

Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mengingatkan: “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya.” Jadi, meskipun pekerjaannya sederhana, jika niatnya lurus, bisa lebih besar nilainya di sisi Allah.
Bekerja bukan hanya soal perut dan harta. Dalam Islam, kerja adalah ibadah, jihad, dan jalan menuju ampunan Allah ﷻ. Dengan niat yang benar, kerja menjadi penghapus dosa, penghalang maksiat, dan pembuka pintu surga.

Jamaah jum’at yang kami hormati

Apapun profesi kita hari ini. Jangan pernah kecil hati. Karena yang dinilai Allah adalah ihtiar dan usaha bukan hasil yang ada di depan mata. Hasil adalah anugerah Allah sedangkan bekerja adalah salah satu cara Allah menghapus dosa-dosa kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ
وَالنَّهَارُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْمُقَصِّرَةَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قال الله تعالى في كتابه الكريم:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ،
أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا فِيهِ رِضَاكَ، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِعِبَادِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ عَادَاكَ وَعَادَاهُمْ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *