Fenomena “Sore Santuy”: Menakar Adab Nongkrong dalam Timbangan Islam
Teman-teman sekalian, pernahkah kita memperhatikan jalanan, kafe, atau pinggir lapangan saat matahari mulai condong ke barat? Suasananya terasa hidup. Ada aroma kopi, gelak tawa, dan kepulan asap kendaraan (atau mungkin vape). Fenomena ini kita kenal dengan istilah nongkrong.
Bagi remaja, nongkrong di sore hari bukan sekadar duduk-duduk. Ini adalah momen melepas penat setelah seharian sekolah atau kuliah. Namun, sebagai seorang Muslim yang keren, kita perlu bertanya: Gimana sih pandangan Islam soal hobi nongkrong ini? Apakah dilarang total, atau ada “protokol” yang harus kita ikuti?
1. Islam Agama yang Tidak Kaku
Seringkali muncul anggapan bahwa Islam itu isinya hanya larangan. “Jangan ini, jangan itu.” Padahal, Islam sangat menghargai kebutuhan manusia untuk bersosialisasi. Rasulullah ﷺ sendiri sering duduk bersama para sahabat di masjid atau di tempat umum untuk berbincang.
Islam tidak melarang kita berkumpul. Yang menjadi perhatian Islam adalah tujuan, isi pembicaraan, dan dampak dari kumpul-kumpul tersebut.
2. Peringatan Rasulullah tentang “Duduk di Pinggir Jalan”
Ternyata, fenomena nongkrong ini sudah ada sejak zaman Nabi. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat relevan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا. فَقَالَ: إِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ.
Artinya:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami untuk berbincang-bincang.” Beliau bersabda: “Jika kalian tetap ingin duduk-duduk, maka berikanlah hak jalan tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
Para sahabat merasa butuh nongkrong untuk koordinasi dan silaturahmi. Rasulullah tidak melarang mutlak, tapi memberikan syarat yang berat.
3. “Etika Nongkrong” (Standard Operating Procedure)
Apa saja hak jalan yang dimaksud Nabi? Beliau merincinya dalam lanjutan hadits di atas:
✓Ghadhdhul Bashar (Menundukkan Pandangan): Jangan sampai tongkrongan jadi ajang cuci mata yang tidak halal. Melihat lawan jenis yang lewat dengan tatapan syahwat itu dilarang.
✓Kafful Adza (Menyingkirkan Gangguan): Jangan sampai keberadaan kita mengganggu orang lewat. Suara motor yang berisik, asap rokok yang mengganggu orang lain, atau menutupi jalan adalah dosa.
✓Raddus Salam (Menjawab Salam): Jika ada yang lewat dan mengucap salam, wajib dijawab. Ini menunjukkan keramahan.
✓Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar: Jika di tongkrongan mulai ada yang berbuat maksiat (misalnya mulai gibah, taruhan, atau minum miras), kita harus berani mengingatkan.
4. Bahaya Waktu Sore: Antara Syukur dan Kelalaian
Kenapa sore hari? Dalam Al-Qur’an, waktu sore (Al-Ashr) adalah waktu yang sakral. Allah sampai bersumpah atas nama waktu:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2)
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr: 1-2)
Sore hari adalah penutup lembaran amal harian kita. Alangkah ruginya jika lembaran hari itu ditutup dengan kesia-siaan (laghwu). Islam mengajarkan kita untuk waspada terhadap dua nikmat yang sering menipu: Kesehatan dan Waktu Luang.
5. Bagaimana Pemuda Zaman Nabi Berkumpul?
Mari kita lihat Mus’ab bin Umair atau Ar-Arqam bin Abi Arqam. Mereka adalah anak muda yang juga sering berkumpul. Bedanya, “tongkrongan” mereka di rumah Arqam memiliki visi yang jelas: memperkuat iman dan strategi dakwah.
Namun, bukan berarti mereka tidak bisa bercanda. Dalam riwayat yang shahih, para sahabat Nabi juga suka bersenda gurau.
Diriwayatkan dari Bakr bin Abdillah, ia berkata: “Dahulu para sahabat Nabi ﷺ saling melempar semangka (bercanda), namun jika tiba urusan yang serius, mereka adalah orang-orang yang paling perkasa.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).
Ini poin pentingnya: Boleh santai, asal tahu kapan harus serius.
6. Jebakan-Jebakan di Tongkrongan Sore
Teman-teman, kita harus jujur bahwa nongkrong sore seringkali menjadi pintu masuk beberapa hal negatif
✓Melalaikan Shalat Maghrib
Ini yang paling sering terjadi. Asyik ngobrol, tahu-tahu azan Maghrib berkumandang. Bukannya segera ke masjid, malah nanggung: “Bentar lagi, nunggu topik ini selesai.” Padahal Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Artinya:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
✓Gibah (Gosip)
Tongkrongan tanpa gibah itu seperti sayur tanpa garam—menurut setan. Padahal gibah adalah dosa besar yang diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).
7. Tips Menjadikan Nongkrong sebagai Ibadah
Gimana caranya supaya nongkrong kita nggak sia-sia dan malah dapat pahala?
✓Niatkan Silaturahmi: Niatkan untuk menyambung persaudaraan.
✓Pilih Teman yang Baik: Teman adalah cerminan agama kita. Jika teman nongkrong kita suka ngajak shalat, kita ikut baik.
✓Bawa Topik Bermanfaat: Sekali-kali bahas isu terkini dari sudut pandang Islam atau bahas rencana produktif.
✓Tahu Batas Waktu: Sebelum Maghrib, pastikan sudah bubar atau minimal sudah berada di area masjid.
Nongkrong di sore hari hukum asalnya Mubah (Boleh). Ia bisa menjadi Pahala jika diniatkan silaturahmi dan diisi hal baik. Namun, ia bisa menjadi Dosa jika melanggar hak jalan, melalaikan ibadah, dan diisi dengan maksiat lisan.
Jadilah pemuda yang asyik diajak bicara, tapi juga teguh dalam prinsip agama. Karena pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah adalah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti.
“Waktu adalah pedang. Jika kamu tidak memotongnya (menggunakannya untuk kebaikan), maka dialah yang akan memotongmu (membuatmu merugi).”

Tinggalkan Balasan