This is post 1 of 3 in the series “Akhir Zaman”

  1. Akhir Zaman: Suatu Renungan Eskatologis -Antara Tanda, Dalil, dan Arah Etis Umat
  2. Akhir Zaman: Tanda-Tanda Kubra dan Pandangan Ulama serta Tarjih Muhammadiyah
  3. Fitnah Dajjal, Turunnya Nabi Isa, dan Munculnya Ya’juj-Ma’juj

Muqaddimah – Lamat-lamat, Gema Sang Hari

Sejak manusia pertama diciptakan, ada satu pertanyaan besar yang selalu bersemayam di dalam hati: “Bagaimanakah akhir perjalanan ini?” Kehidupan di dunia, betapapun panjang atau singkat, hanyalah sebuah persinggahan. Akhir zaman — atau dalam istilah al-Qur’an disebut dengan as-sā‘ah (الساعة) — bukan sekadar cerita menakutkan yang diwariskan turun-temurun, melainkan janji Allah yang pasti akan datang.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sementara kampung akhirat adalah tempat kembali yang hakiki. Pertanyaan tentang akhir zaman tidak dimaksudkan untuk menebak-nebak waktu, karena hal itu hanya Allah yang mengetahuinya. Sebaliknya, ia adalah panggilan moral dan spiritual agar manusia sadar, berhati-hati, dan selalu memperbaiki diri.

Dunai Hancur di Akhir Zaman
Kehancuran dunia di Akhir Zaman

Setiap umat memiliki cerita tentang akhir. Dalam tradisi Islam, kiamat tidak dipandang sebagai “akhir” belaka, melainkan juga “awal” — awal dari kehidupan yang abadi, awal dari keadilan yang sempurna, awal dari penghitungan amal yang tidak terlewat sedikit pun. Maka, membicarakan akhir zaman bukan sekadar melukis ketakutan, tetapi juga menyalakan kesadaran agar setiap langkah kita di dunia ini memiliki makna di hadapan Allah.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri menekankan betapa dekatnya hari kiamat dengan kehidupan manusia. Dalam salah satu sabdanya beliau mengisyaratkan jarak beliau diutus hingga kiamat seperti jarak antara dua jari yang dirapatkan. Ungkapan ini bukan untuk menghitung waktu, melainkan untuk mengingatkan umat bahwa kiamat itu dekat, dan setiap jiwa harus selalu siap.

Di tengah derasnya arus informasi, isu-isu tentang tanda-tanda kiamat seringkali beredar di media sosial dengan narasi yang sensasional. Ada yang menautkan bencana alam dengan kiamat, ada pula yang mengaitkan peristiwa politik global dengan tanda akhir zaman. Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam beberapa pengajian menegaskan bahwa umat Islam perlu berhati-hati dalam menyikapi informasi semacam itu. Dikutip dari website muhammadiyah.or.id bahwa klaim tentang “rundown hari kiamat” yang beredar tidak boleh ditelan mentah-mentah, sebab hal tersebut sering bersandar pada hadits-hadits lemah atau tafsiran yang tidak tepat. Fokus utama umat adalah memperkuat iman, memperbanyak amal shalih, dan memaknai tanda-tanda itu sebagai peringatan untuk berbenah diri.

Dengan demikian, pembahasan akhir zaman haruslah dilandasi oleh dua hal: pertama, dalil yang kokoh dari al-Qur’an dan hadits shahih; kedua, sikap etis yang membimbing umat agar semakin dekat dengan Allah, bukan malah larut dalam ketakutan tanpa arah.

Dalil-dalil Qur’an tentang Hari Kiamat

Al-Qur’an berbicara tentang kiamat dalam banyak ayat. Ada ayat yang menekankan kepastian datangnya kiamat, ada yang melukiskan dahsyatnya peristiwa, dan ada pula yang menggambarkan keadaan manusia ketika hari itu tiba. Berikut lima ayat pokok yang menjadi fondasi teologis mengenai akhir zaman.

يَسْـَٔلُ أَيَّانَ يَوْمُ ٱلْقِيَـٰمَةِ ٦ فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ ٧ وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ ٨ وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ٩ يَقُولُ ٱلْإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ ٱلْمَفَرُّ ١٠ كَلَّا لَا وَزَرَ ١١ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمُسْتَقَرُّ ١٢

Manusia bertanya: ‘Kapan datangnya hari kiamat itu?’ Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan bulan pun hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: ‘Kemana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah tempat kembali pada hari itu. (QS. Al-Qiyāmah 75: 6–12)

Ayat ini menekankan ketidakmungkinan manusia mengetahui waktu kiamat. Pertanyaan “kapan” tidak akan dijawab, sebab hakikatnya bukan pada waktunya, melainkan pada persiapannya. Pesan Qur’ani ini sejalan dengan peringatan Nabi bahwa tugas manusia bukanlah meramal, melainkan mempersiapkan diri dengan iman dan amal.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka seketika itu mereka bangun menunggu (keputusan Allah). (QS. Az-Zumar 39: 68)

Ayat ini menjelaskan peristiwa kosmik: tiupan sangkakala yang memutus kehidupan seluruh makhluk, lalu kebangkitan kembali pada tiupan berikutnya. Konsep ini menegaskan kekuasaan Allah atas hidup dan mati, serta kepastian adanya kebangkitan.

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran tulisan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. Al-Anbiyā’ 21: 104)

Penggambaran “langit digulung” adalah simbol perubahan total realitas kosmik. Ini menegaskan bahwa alam semesta memiliki awal dan akhir, dan Allah-lah yang mengaturnya. Ayat ini sekaligus menolak pandangan yang menganggap alam ini abadi tanpa akhir.

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا ﴿١﴾ وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا ﴿٢﴾

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. (QS. Az-Zalzalah 99: 1–2)

Ayat ini melukiskan guncangan bumi sebagai tanda nyata kiamat. Gambaran ini mengingatkan manusia bahwa bumi yang selama ini menjadi tempat berpijak pun akan bergetar dan mengeluarkan apa yang tersimpan di dalamnya. Tafsir klasik menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “beban” adalah jasad manusia yang terkubur, yang akan dikeluarkan kembali untuk dibangkitkan.

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ ﴿١٠﴾ يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١١﴾

Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (QS. Ad-Dukhān 44: 10–11)

Ayat ini menyinggung tanda berupa “dukhan” atau asap yang nyata. Para mufassir berbeda pendapat tentang maknanya: ada yang menafsirkannya sebagai asap yang menutupi manusia pada masa tertentu, ada pula yang melihatnya sebagai tanda besar menjelang kiamat. Terlepas dari perbedaan tafsir, ayat ini menegaskan bahwa fenomena kosmik tertentu akan menjadi peringatan keras bagi manusia. 

Penutup

Lima ayat di atas menjadi fondasi eskatologi Qur’ani. Semuanya mengajarkan tiga hal pokok:

  1. Kepastian kiamat — ia bukan sekadar ancaman, melainkan janji Allah yang pasti.
  2. Ketidakpastian waktu — manusia tidak mungkin mengetahuinya, maka fokuslah pada persiapan.
  3. Gambaran dahsyat — kosmos akan berubah total, bumi bergoncang, langit tergulung, sangkakala ditiup, dan asap meliputi.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Tarjih Muhammadiyah, umat Islam diminta untuk tidak terjebak dalam ramalan-ramalan kiamat yang tidak bersandar pada dalil sahih. Yang lebih penting adalah menjadikan ayat-ayat ini sebagai cermin untuk memperbaiki iman dan amal shalih, serta menegakkan keadilan di bumi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *