This is post 2 of 3 in the series “Akhir Zaman”

  1. Akhir Zaman: Suatu Renungan Eskatologis -Antara Tanda, Dalil, dan Arah Etis Umat
  2. Akhir Zaman: Tanda-Tanda Kubra dan Pandangan Ulama serta Tarjih Muhammadiyah
  3. Fitnah Dajjal, Turunnya Nabi Isa, dan Munculnya Ya’juj-Ma’juj

Dalam bagian pertama dari pembahasan ini, kita telah menyingkap tanda-tanda kecil (ṣughrā) yang menyertai perjalanan panjang umat manusia menuju penghabisan. Kali ini, kita akan melangkah lebih dalam, menyingkap tabir tanda-tanda besar (kubrā) yang menjadi fase terakhir sebelum dunia ini benar-benar sirna.

Para ulama menggambarkannya sebagai peristiwa dahsyat yang menggetarkan langit dan bumi, peristiwa yang tidak lagi memberi ruang bagi spekulasi, melainkan kepastian bahwa kiamat sudah di ambang pintu.

Akhir zaman perspektif islam Tanda-Tanda Kubra dan Pandangan Ulama serta Tarjih Muhammadiyah

Tanda-Tanda Kubra: Peristiwa Kosmik dan Fitnah Besar

Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang jelas tentang tanda-tanda besar ini. Dalam sebuah riwayat yang sahih, Hudzaifah bin Asid al-Ghifari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى تَرَوْا عَشْرَ آيَاتٍ: طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالُ، وَالدَّابَّةُ، وَيَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ، وَنُزُولُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، وَثَلَاثَةُ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنَ تَسُوقُ النَّاسَ، أَوْ تَحْشُرُ النَّاسَ، فَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا، وَتَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا.

Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda: terbitnya matahari dari arah barat, munculnya Dajjal, keluarnya binatang melata (dabbah), keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam, tiga kali terjadi gempa besar (satu di timur, satu di barat, dan satu di Jazirah Arab), serta keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka. (HR. Muslim, no. 2901)

Hadits ini menjadi fondasi penting dalam memahami peristiwa besar akhir zaman. Setiap tanda memiliki bobotnya sendiri, dan bersama-sama ia menutup lembaran sejarah manusia.

Fitnah al-Masih al-Dajjal

Di antara tanda paling menakutkan adalah munculnya al-Masih al-Dajjal. Ia digambarkan sebagai makhluk bermata satu, membawa fitnah yang sangat besar. Rasulullah ﷺ telah berulang kali mengingatkan umatnya akan bahaya Dajjal, bahkan dalam doa beliau selalu memohon perlindungan darinya. Allah ﷻ berfirman sebagai pengingat:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢)

Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji? (QS. al-‘Ankabūt: 2)

Fitnah Dajjal adalah ujian terbesar bagi iman manusia. Ia mengaku sebagai tuhan, menipu dengan ilusi surga dan neraka, serta mengguncang keyakinan banyak orang. Rasulullah ﷺ menuntun kita untuk membaca ayat-ayat awal surah al-Kahfi sebagai pelindung dari fitnahnya.

Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalām

Setelah fitnah Dajjal memuncak, Allah akan menurunkan Nabi Isa sebagai penyelamat. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan turun kepada kalian Isa putra Maryam sebagai hakim yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan harta melimpah hingga tak seorang pun mau menerimanya. (HR. al-Bukhari, no. 2222; Muslim, no. 155)

Turunnya Isa bukanlah membawa agama baru, melainkan menegakkan kembali ajaran tauhid, meluruskan penyimpangan, dan menegakkan keadilan. Ini menegaskan bahwa kebenaran Islam akan menang pada akhirnya.

Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj

Allah ﷻ mengabadikan kisah tentang Ya’juj dan Ma’juj dalam al-Qur’an. Mereka adalah kaum yang penuh kerusakan, terhalang oleh dinding besar yang dibangun Dzulkarnain, hingga tiba waktu yang telah ditentukan. Allah ﷻ berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍۭ يَنسِلُونَ (٩٦)

Hingga apabila Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan, dan mereka berbondong-bondong turun dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. al-Anbiyā’: 96)

Keluarnya mereka akan membawa kehancuran besar, jumlah mereka melimpah, dan menjadi salah satu tanda besar dekatnya kiamat.

Tanda Kosmik dan Gempa Besar

Selain itu, hadits menyebutkan fenomena kosmik yang tak terbayangkan: matahari terbit dari barat, keluarnya binatang melata yang berbicara kepada manusia, gempa besar di tiga penjuru dunia, dan api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya. Semuanya adalah tanda pasti bahwa ruang untuk bertaubat telah tertutup. Allah ﷻ menegaskan:

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَٰنُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيٓ إِيمَٰنِهَا خَيْرًا ۗ

Pada hari ketika sebagian tanda Tuhanmu telah datang, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang sebelumnya belum beriman, atau belum memperoleh kebaikan melalui imannya. (QS. al-An‘ām: 158)

Inilah puncak tragedi kosmik: iman sudah tak lagi bisa ditambah, amal tak lagi bisa diperbaiki. 

Pandangan Ulama dan Tarjih Muhammadiyah

Perbincangan tentang tanda-tanda besar akhir zaman telah melahirkan beragam pandangan di kalangan ulama.

Ulama Klasik dan Ijma‘ tentang Kepastian

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat bahwa tanda-tanda besar ini adalah peristiwa nyata, bukan sekadar simbolis. Ibn Kathir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah menyatakan bahwa hadits-hadits tentang Dajjal, turunnya Isa, dan Ya’juj-Ma’juj mencapai derajat mutawatir. Karenanya, menolak keberadaan mereka berarti menolak berita mutawatir yang sudah pasti dalam agama. Al-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim juga menegaskan bahwa turunnya Isa adalah hakikat yang akan terjadi, bukan metafora.

Sikap Muhammadiyah: Iman Tanpa Spekulasi Berlebihan

Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, sebagai lembaga tarjih yang berpijak pada al-Qur’an dan Sunnah, mengambil posisi seimbang. Dikutip dari website muhammadiyah.or.id, Majelis Tarjih menegaskan bahwa urusan akhir zaman termasuk ranah sam‘iyyat — perkara ghaib yang hanya bisa diketahui melalui wahyu. Maka, kewajiban seorang muslim adalah beriman sebagaimana adanya, tanpa melampaui batas dengan spekulasi liar.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), disebutkan bahwa: “Iman kepada tanda-tanda kiamat adalah bagian dari akidah. Namun, mengaitkan tanda tersebut dengan fenomena kontemporer tanpa dasar dalil adalah sikap yang tidak dibenarkan.”

Pernyataan ini sekaligus meluruskan praktik sebagian orang yang dengan mudah menghubungkan bencana alam, pandemi, atau peristiwa politik global dengan nubuwat akhir zaman. Muhammadiyah mengingatkan, hal itu rawan menimbulkan ketakutan yang tidak sehat dan berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan politik atau kepentingan duniawi.

Relevansi Fiqhiyyah dan Akhlak

Jika ditinjau dari dimensi fiqhiyyah, masalah akhir zaman lebih dekat pada ranah aqidah dan akhlak ketimbang hukum praktis. Iman kepada akhir zaman seharusnya melahirkan perilaku yang lebih baik: memperkuat ibadah, menguatkan ukhuwah, serta menjauhi fitnah dan kerusakan moral. Dengan demikian, pembahasan akhir zaman bukan sekadar retorika teologis, melainkan juga dorongan etis bagi umat.

Pendekatan Tanwīr

Sebagai gerakan Islam yang berprinsip pada tajdīd (pembaruan), Muhammadiyah mengajak umat untuk menjadikan iman terhadap akhir zaman sebagai sumber pencerahan (tanwīr), bukan sumber ketakutan. Dikutip dari muhammadiyah.or.id, ditegaskan: “Meyakini datangnya akhir zaman seharusnya mendorong kita untuk beramal shalih, bekerja untuk kemaslahatan, dan menebar rahmat, bukan sebaliknya menjadi pasif dan penuh ketakutan.”

Allah ﷻ mengingatkan:

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣)

Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Āli ‘Imrān: 133)

Menghindari Tafsir Serampangan

Di era digital saat ini, banyak narasi viral tentang akhir zaman yang justru lebih mirip cerita horor ketimbang ilmu. Ada yang menghubungkan fenomena alam dengan Dajjal, atau teknologi modern dengan Ya’juj-Ma’juj. Padahal, sebagaimana ditegaskan Muhammadiyah, yang paling penting adalah mengimani nash sahih apa adanya dan fokus pada amal nyata.

Penutup bagian kedua

Tanda-tanda kubra akhir zaman merupakan penutup dari sejarah dunia. Ia adalah isyarat bahwa pintu tobat akan ditutup, iman tidak lagi bermanfaat bagi yang baru saja mengaku beriman, dan setiap manusia akan segera digiring menuju hari perhitungan.

Pandangan ulama klasik mempertegas bahwa semua tanda itu nyata dan harus diimani. Sementara itu, Tarjih Muhammadiyah mengingatkan agar umat bersikap proporsional: beriman tanpa spekulasi berlebihan, dan menjadikan isu akhir zaman sebagai dorongan untuk semakin beramal, bukan alasan untuk takut berlebihan atau berhenti berjuang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *