This is post 3 of 3 in the series “Akhir Zaman”

  1. Akhir Zaman: Suatu Renungan Eskatologis -Antara Tanda, Dalil, dan Arah Etis Umat
  2. Akhir Zaman: Tanda-Tanda Kubra dan Pandangan Ulama serta Tarjih Muhammadiyah
  3. Fitnah Dajjal, Turunnya Nabi Isa, dan Munculnya Ya’juj-Ma’juj

Perjalanan menuju akhir zaman tidak pernah terlepas dari fenomena besar yang telah diperingatkan Rasulullah ﷺ. Salah satu fitnah terbesar adalah munculnya Al-Masih Ad-Dajjal, sosok yang penuh tipu daya. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “إِنَّ الدَّجَّالَ خَارِجٌ وَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ” (رواه مسلم)

Dajjal akan keluar, ia buta pada mata kanannya, seakan-akan matanya seperti buah anggur yang menonjol. (HR. Muslim).

Hadits ini menggambarkan fisik Dajjal sekaligus peringatannya. Namun, lebih dari sekadar wujud lahir, yang paling berbahaya adalah fitnahnya: ia membawa tipu daya luar biasa, menampilkan seolah-olah ia mampu menghidupkan orang mati, menurunkan hujan, bahkan menguasai harta benda. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ menekankan agar umat Islam memperbanyak doa perlindungan.

Fitnah Dajjal, Turunnya Nabi Isa, dan Munculnya Ya’juj-Ma’juj

Dalam sebuah doa ma’tsur, Rasulullah ﷺ mengajarkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه مسلم)

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. (HR. Muslim).

Setelah fitnah Dajjal, Allah ﷻ menjanjikan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalām sebagai pembawa keadilan. Firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

وَإِن مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِۦ قَبْلَ مَوْتِهِۦ ۗ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ‎﴿النساء: ١٥٩﴾

Dan tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi atas mereka. (QS. An-Nisā’ 4: 159)

Dari ayat ini, para mufassir seperti Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Nabi Isa akan kembali turun ke bumi sebelum kiamat, untuk meluruskan fitnah Dajjal dan menegakkan keadilan. Rasulullah ﷺ pun bersabda:

وَاللَّهِ لَيَنْزِلَنَّ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا، فَيَكْسِرُ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنزِيرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ، وَيُفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ (رواه البخاري)

Demi Allah, sungguh akan turun Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan harta akan melimpah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya. (HR. Bukhari)

Turunnya Nabi Isa bukan hanya peneguhan kebenaran, tetapi juga penghiburan bagi umat beriman. Ia datang untuk menghentikan kekuasaan Dajjal dan membawa perdamaian. Namun, perjalanan akhir zaman belum berakhir di sini.

Setelah itu akan muncul Ya’juj dan Ma’juj, dua kaum yang sangat destruktif. Firman Allah ﷻ:

حَتَّىٰٓ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ ‎﴿الأنبياء: ٩٦﴾

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiyā’ 21: 96)

Ayat ini menegaskan kedahsyatan Ya’juj dan Ma’juj yang akan muncul secara masif. Mereka tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga melambangkan kerusakan moral dan sosial. Dalam sejarah tafsir, para ulama memahami fenomena ini sebagai tanda besar kehancuran dunia.

Pandangan Tarjih Muhammadiyah tentang Fenomena Ini

Dalam penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, sebagaimana dikutip dari website muhammadiyah.or.id, ditegaskan bahwa perkara gaib seperti Dajjal, turunnya Nabi Isa, dan munculnya Ya’juj-Ma’juj harus diterima dengan iman kepada hal-hal gaib tanpa melampaui batas takwil. Tarjih Muhammadiyah menekankan prinsip tawassuth (jalan tengah), yakni menerima nash sebagaimana adanya, mengimani kebenarannya, serta menghindari spekulasi berlebihan yang tidak memiliki dasar.

Tanda-Tanda Besar Lainnya Menjelang Kiamat

Selain Dajjal, Nabi Isa, dan Ya’juj-Ma’juj, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan adanya tanda-tanda besar lainnya menjelang kiamat. Dalam hadits sahih disebutkan:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ، فَذَلِكَ حِينَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا (رواه البخاري)

Tidak akan terjadi kiamat hingga matahari terbit dari barat. Maka ketika manusia melihatnya, mereka semua beriman. Tetapi pada saat itu, iman tidak lagi bermanfaat bagi seseorang. (HR. Bukhari)

Fenomena kosmik ini merupakan penutup pintu taubat. Selama matahari masih terbit dari timur, pintu ampunan terbuka luas. Namun, jika ia muncul dari barat, berakhirlah kesempatan manusia untuk kembali.

Selain itu, hadits lain menyebutkan tanda-tanda besar seperti: keluarnya hewan besar (dabbah) yang berbicara kepada manusia, asap (dukhan) yang menyelimuti bumi, serta api besar yang menggiring manusia menuju mahsyar. Allah ﷻ berfirman:

فَٱرْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍۭ مُّبِينٍ ‎﴿الدخان: ١٠﴾

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut (asap) yang nyata. (QS. Ad-Dukhān 44: 10)

Pandangan Tarjih Muhammadiyah tentang Tanda-Tanda Besar

Majelis Tarjih Muhammadiyah memberikan penegasan bahwa tanda-tanda besar kiamat merupakan bagian dari akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, Muhammadiyah juga menekankan agar umat Islam tidak terjebak pada sikap sensasional atau menebak-nebak waktu kiamat. Sebagaimana dikutip dari muhammadiyah.or.id, Tarjih Muhammadiyah menekankan pentingnya memaknai tanda-tanda kiamat sebagai pengingat untuk memperkuat iman, amal shalih, dan kontribusi sosial, bukan sebagai bahan menakut-nakuti.

Hikmah di Balik Akhir Zaman

Membicarakan akhir zaman seringkali menimbulkan ketakutan. Namun, jika direnungi, di balik ngeri dan dahsyatnya peristiwa itu terdapat hikmah yang mendalam. Allah ﷻ berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ‎﴿المؤمنون: ١١٥﴾

Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al-Mu’minūn 23: 115).

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ (رواه مسلم)

Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian). (HR. Muslim)

Menghadirkan kesadaran akan kiamat menjadikan seorang Muslim lebih rendah hati, tidak terbuai dunia, serta lebih bersemangat dalam beramal shalih. Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, sebagaimana dikutip dari muhammadiyah.or.id, mengingat kiamat seharusnya menumbuhkan etika sosial: memperkuat keimanan, menegakkan keadilan, dan menghindarkan diri dari sikap apatis.

Sikap Seorang Muslim dalam Menyongsong Hari Akhir

Islam tidak mendorong umatnya hanya berdiam diri menanti kehancuran. Sebaliknya, Nabi ﷺ menekankan optimisme dan amal nyata. Beliau bersabda:

إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمُ الْقِيَامَةُ وَفِي يَدِهِ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ (رواه أحمد)

Apabila kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya, hendaklah ia tanam. (HR. Ahmad)

Allah ﷻ pun mengingatkan:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ ‎﴿الشعراء: ٨٩﴾

(Yaitu) hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu‘arā’ 26: 88–89).

Dalam perspektif Tarjih Muhammadiyah, seperti tercatat dalam laman muhammadiyah.or.id, sikap seorang Muslim menghadapi akhir zaman adalah beramal shaleh yang berdampak sosial: mendidik generasi, mengembangkan ilmu, membangun masyarakat adil makmur, serta menjaga lingkungan. 

Penutup

Fenomena Dajjal, turunnya Nabi Isa, munculnya Ya’juj-Ma’juj, hingga tanda-tanda kosmik lainnya adalah bagian dari perjalanan akhir zaman. Namun, di balik kedahsyatannya, Allah ﷻ menyelipkan pelajaran: agar manusia tidak lalai, agar hati tetap tertambat pada-Nya, dan agar amal kebaikan terus mengalir.

Al-Qur’an telah menegaskan, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan, dan Tarjih Muhammadiyah telah memberikan panduan: janganlah sibuk menebak-nebak kiamat, tapi sibuklah mempersiapkan diri menghadapinya.

Semoga dengan pemahaman yang benar, kita menjadi hamba-hamba yang siap menghadapi hari akhir, berbekal iman, amal shalih, dan hati yang bersih.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *