Pada artikel sebelumnya, telah merenungi diagnosis universal dari Surah Al-‘Ashr: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” Diagnosis ini, terdengar pesimistis dan menghakimi. Namun, keagungan Al-Qur’an terletak pada sifatnya sebagai penyembuh (syifā’) dan petunjuk (hudan). Setelah memaparkan sebuah masalah, Al-Qur’an selalu memberikan solusinya. Allah SWT tidak meninggalkan manusia tenggelam dalam kerugiannya. Sebaliknya, Allah SWT membentangkan sebuah jalan keluar yang jelas, sebuah resep ilahi yang terangkum dalam satu ayat yang menjadi jantung dari surah Al-‘Ashr.

Ayat ketiga Surah Al-‘Ashr adalah pengecualian dari kaidah umum kerugian tersebut. Ayat ketiga Surah Al-‘Ashr adalah cetak biru (blueprint) bagi manusia dan masyarakat yang ingin mengubah takdir kerugian menjadi keuntungan abadi. Artikel ini akan membedah empat pilar keselamatan menurut Ayat ketiga Surah Al-‘Ashr melalui tafsir para ulama, relevansinya dengan psikologi humanistik, dan urgensinya dalam menjawab tantangan nyata yang dihadapi bangsa Indonesia.

Empat Pilar Keselamatan: Resep Ilahi yang Komprehensif

Allah SWT berfirman:

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)

Ayat ini menyajikan empat syarat mutlak yang tak terpisahkan untuk terhindar dari kerugian. Keempatnya harus hadir secara simultan; gugurnya satu pilar akan meruntuhkan seluruh bangunan keselamatan.

Menurut Imam Ibnu Katsir: Dalam tafsirnya, beliau merinci keempat pilar yaitu. (a) Alladzīna āmanū (Orang-orang yang beriman): Iman bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang mengakar di dalam hati akan keesaan Allah SWT dan semua rukun iman. (b) Wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt (dan mengerjakan kebajikan): Kebajiak adalah buah dari iman. Iman yang benar secara otomatis akan mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sejalan dengan syariat. (c) Wa tawāṣau bil-ḥaqq (dan saling menasihati untuk kebenaran): Saling menasihati untuk kebenaran adalah dimensi sosial dari iman. Yaitu menjalankan perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar, saling memberikan wasiat untuk mengikuti kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhi kebatilan. (d) Wa tawāṣau biṣ-ṣabr (dan saling menasihati untuk kesabaran): Kesabaran adalah pilar penopang. Yaitu saling menguatkan untuk bersabar dalam tiga hal: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir Allah SWT yang mungkin terasa pahit.

Menurut KH. Ahmad Dahlan: Pendiri Muhammadiyah ini menerjemahkan empat pilar ini menjadi sebuah gerakan nyata. Iman dan Amal Saleh adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam “Teologi Al-‘Ashr” yang diusungnya. Iman, bagi beliau, harus produktif dan solutif. Iman harus turun dari menara gading teologi ke realitas sosial, mewujud dalam bentuk amal saleh berupa pendirian sekolah untuk memberantas kebodohan, rumah sakit untuk mengobati yang sakit, dan panti asuhan untuk menyantuni yang lemah.

Sementara itu, Tawashau bil-ḥaqq dan Tawashau biṣ-ṣabr adalah ruh dari organisasi (persyarikatan). Muhammadiyah didirikan sebagai wadah formal untuk “saling menasihati” secara terstruktur. Organisasi Muhammadiyah bukan lagi sekadar nasihat antarindividu, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk menegakkan kebenaran dan saling menguatkan dalam kesabaran menghadapi tantangan dakwah dan modernisasi. Bagi KH. Ahmad Dahlan, umat tidak akan bangkit hanya dengan kesalehan individu, tetapi melalui kesalehan sosial yang terorganisir.

Psikologi humanistik, dengan fokusnya pada pertumbuhan dan pemenuhan potensi manusia, memberikan perspektif yang menarik untuk memahami keempat pilar ini dalam bahasa modern.

Iman sebagai Sumber Makna (Meaning)

Psikolog humanis seperti Victor Frankl, dalam “Logotherapy”-nya, menyatakan bahwa dorongan utama manusia adalah pencarian makna hidup. Tanpa makna, manusia akan jatuh ke dalam “kekosongan eksistensial”. Iman dalam Islam menyediakan kerangka makna yang paling ultimat. Iman menjawab pertanyaan fundamental: Siapa saya? Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Dan ke mana saya akan kembali? Iman memberikan kompas internal yang mengarahkan semua tindakan dan aspirasi, sebuah syarat mutlak untuk kehidupan psikologis yang sehat.

Amal Saleh sebagai Aktualisasi Diri (Self-Actualization)

Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri di puncak hierarki kebutuhan manusia. Orang yang teraktualisasi adalah mereka yang mampu menggunakan seluruh potensi, bakat, dan kapasitasnya untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Amal Saleh adalah medium Islam untuk mencapai aktualisasi diri. Amal saleh adalah proses mengubah potensi (iman) menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi diri sendiri dan alam semesta. Melalui amal saleh, seseorang tidak hanya beribadah, tetapi juga mengekspresikan potensi kreatif, intelektual, dan sosialnya secara konstruktif.

Tawashau bil-Haqq sebagai Hubungan Otentik (Authentic Relationship)

Carl Rogers menekankan pentingnya hubungan yang tulus, empatik, dan terbuka untuk pertumbuhan pribadi. Tawashau bil-ḥaqq adalah manifestasi dari hubungan otentik dalam sebuah komunitas. Saling menasehati untuk kebenaran adalah keberanian untuk memberi dan menerima umpan balik yang jujur demi kebaikan bersama, berdasarkan standar kebenaran yang objektif. Saling menasehati untuk kebenaran menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis di mana manusia dapat tumbuh tanpa kepura-puraan, karena mereka mengetahui bahwa komunitasnya peduli pada perkembangan mereka menuju kebenaran.

Tawashau biṣ-Ṣabr sebagai Resiliensi Kolektif (Collective Resilience)

Psikologi modern banyak berbicara tentang pentingnya “grit” dan resiliensi (daya lenting) dalam menghadapi kesulitan. Tawashau biṣ-ṣabr mengangkat konsep saling menasihati untuk kesabaran dari level individu ke level kolektif. Saling menasihati adalah proses di mana anggota komunitas saling menjadi “support system”, saling menguatkan ketika ada yang lelah, dan saling mengingatkan untuk bertahan ketika ada yang ingin menyerah. Saling menasihati membangun resiliensi kolektif yang jauh lebih kuat daripada daya tahan individu semata.

Urgensi empat pilar di tengah tantangan bangsa. Jika kita memotret kondisi Indonesia saat ini, resep dari Surah Al-‘Ashr menjadi luar biasa relevan. Beberapa penelitian dan fenomena sosial menunjukkan adanya tantangan serius yang secara langsung dapat dijawab oleh keempat pilar.

Relevansi Al-‘Ashr dengan Kondisi Indonesia

Jika jujur memotret kondisi bangsa Indonesia, kita akan menemukan bahwa banyak masalah kronis kita berakar dari rapuhnya salah satu atau lebih dari empat pilar.

Krisis Kebenaran (al-haqq): Merebaknya hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian di media sosial adalah gejala dari runtuhnya pilar tawāṣau bil-ḥaqq. Masyarakat lebih sering saling menyebarkan kebohongan daripada saling menasihati dalam kebenaran. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta jika ia menceritakan semua apa yang ia dengar.” (HR. Muslim). Kegagalan melakukan tabayyun (klarifikasi) telah menciptakan polarisasi dan ketidakpercayaan sosial yang akut.

Krisis Integritas (Amal Shaleh): Korupsi yang masih merajalela adalah bukti paling nyata dari terpisahnya antara “iman” dan “amal saleh”. Banyak pelaku korupsi adalah orang yang secara ritual taat beragama, namun perbuatannya justru mengkhianati nilai-nilai agama itu sendiri. Korupsi adalah amal thaleh (perbuatan buruk) yang menghancurkan sendi-sendi negara. Hadits Nabi mengingatkan, “Setiap tubuh yang tumbuh dari (harta) yang haram, maka api neraka lebih pantas untuknya.” (HR. At-Tirmidzi).

Krisis Solidaritas dan Kepedulian: Individualisme dan apatisme sosial menggerus pilar tawāṣau. Semangat gotong royong, yang merupakan warisan luhur bangsa dan cerminan dari “saling menasihati”, terkikis oleh sikap “yang penting urusan saya aman”. Spirit KH. Ahmad Dahlan yang mengubah iman menjadi aksi sosial harus kembali digelorakan untuk mengatasi ketimpangan dan kemiskinan.

Krisis Kesabaran (aṣ-ṣabr): Bangsa kita tampak semakin “bersumbu pendek”. Masyarakat mudah tersulut amarah karena perbedaan sepele, tidak sabar dalam proses, dan menginginkan hasil instan. Padahal, membangun bangsa adalah pekerjaan jangka panjang yang menuntut kesabaran revolusioner. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya… Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim). Mentalitas sabar dan syukur inilah yang perlu kita pupuk secara kolektif.

Jalan Pulang Menuju Keberuntungan

Surah Al-‘Ashr ayat 3 bukanlah sekadar daftar kebajikan individual. Surah Al-‘Ashr adalah sebuah sistem, sebuah formula holistik untuk membangun manusia paripurna (insān kāmil) dalam sebuah masyarakat yang sehat (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr).

Iman memberikan akar dan tujuan. Amal saleh adalah batang dan buahnya. Saling menasihati dalam kebenaran adalah pagar yang meluruskan pertumbuhannya. Dan saling menasihati dalam kesabaran adalah pupuk dan air yang membuatnya kokoh bertahan dalam badai kehidupan.

Bagi kita di Indonesia, ayat ini adalah panggilan. Panggilan untuk melawan polarisasi dengan dialog kebenaran. Panggilan untuk melawan krisis kesehatan mental dengan jaring pengaman kesabaran kolektif. Panggilan untuk melawan individualisme dengan gelombang amal saleh yang terorganisir. Surah Al-‘Ashr ayat (3) adalah resep yang telah teruji selama 14 abad, dan hari ini, relevansinya justru semakin mendesak untuk kita hayati dan kita wujudkan bersama.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *