Naskah oleh Ustadz Drs. Ali Muhson, M.Pd, M.Ag, M.H (Ketua PDM Kab. Boyolali)

Allah Ta’alaa berfirman:
إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ ١ وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا ٢ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا ٣
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat (QS. An-Nashr: 1-3)
Allah ta’alaa juga berfirman:
إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا ١ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ٢ وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا ٣ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا ٤
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” Al-Quran. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lAyat ini menunjukkan bahwa kemenangan yang diraih umat Islam adalah atas izin dan kehendak Allah. dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Fath: 1-4)
Berbicara mengenai pertolongan dan kemenangan, Alqur’an membahas ini dalam satu surah khusus yang sarat perjuangan. Ia adalah surah an-Nashr. Dalam At-Tashiil li Ta’wil At-Tanzil Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah berkata, “Sebagian besar ulama berpendapat bahwa surah dalam Al Quran yang terakhir turun secara utuh adalah surah An-Nashr.
Hal ini sebagaimana hadits riwayat Muslim dari jalur ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah berkata bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepadanya,
“Apa engkau tahu surah yang terakhir turun dari Alquran secara utuh?” ‘Ubaidullah berkata, “Iya tahu, yaitu surah ‘Idza jaa-a nashrullahi wal fath’ (ketika pertolongan Allah itu datang dan kemenangan).” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Engkau benar.” (HR. Muslim, no. 3024).”
Peranan surah an-Nashr sebagai surah yang terakhir turun secara utuh, mengingatkan kita kembali tentang sejarah perjuangan Rasulullah Saw yang harus ikhlas meninggalkan tanah kelahirannya menuju kota Madinah. Beradaptasi secara perlahan hidup di bagian bumi Allah bagian lain dengan para sahabat yang juga turut berhijrah sambil terus mengatur strategi menyiapkan beberapa peperangan yang harus dihadapi. Sesuatu yang berat tentunya, namun memperjuangkan agama Allah adalah amanah.
Jika kita lihat fakta sejarah, kemenangan (fath) memasuki kota Makkah tidak diperoleh Rasulullah dan para sahabat secara instan. Kesabaran beliau dan para sahabat sangat diuji terlebih ketika kekurangan bahan makanan, juga saat mendengar kabar saudara di Makkah yang wafat.
Berpisah dengan orang yang dicinta selama bertahun-tahun lamanya, atau berusaha ikhlas melepas orang-orang yang dicinta, namun menolak memeluk agama Islam apalagi turut berhijrah. Dengan demikian, jika kita kembali pada teks ayat, ‘Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan,” yang disebut lebih dulu ialah nashr (pertolongan) yang sangat istimewa dan special langsung dari Allah. Lalu diikuti dengan fath (kemenangan). Syaikh Musthafa al-Adawi berpendapat bahwa makna An-Nashr (pertolongan) adalah pertolongan atas musuh ketika di medan perang, sementara Al-fath (kemenangan) adalah buah (hasil) dari pertolongan tadi.
Pada ayat berikutnya, Allah mendeskripsikan bahwa kemenangan itu terlihat dari banyaknya (orang maupun golongan) yang berbondong-bondong masuk ke kota Makkah untuk memeluk agama Islam. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah memaknai ayat ini sebagai bentuk pertolongan nyata dari Allah, juga berkat kesabaran Rasulullah, yang berakhir dengan buah yang manis. Banyak kaum-kaum yang datang hadir menyatakan keislamannya ke hadapan Rasulullah. Bahkan, tak dapat dibendung, para sahabat merasa berbangga-bangga dan mengucapkan ‘haadza yaumul malhamah’ (ini adalah hari balas dendam). Namun Rasulullah Saw menjawab, “Laa, haadza yaumul marhamah,” yang bermakna tidak, ini adalah hari berkasih sayang. Sehingga, Rasululah membebaskan semua tawanan dan memberi mereka kebebasan, ingin memeluk Islam atau tetap bertahan pada agama mereka.
Pada ayat akhir surah an-Nashr, Allah memberikan pengajaran pada Rasulullah secara khusus, juga umat Islam secara umum untuk senantiasa berdzikir menyebut asma’ Allah dengan bertasbih dan beristighfar. Mengapa? Seringkali, manusia lupa bahwa apa yang dicapai dan diraihnya sungguh bukan karena kuasa dan kekuatan fisiknya semata, ada sesuatu yang melampaui itu semua yakni nashrullah—pertolongan Allah. Sehingga, tulis Quraish Shihab, Allah ingin menjaga hati beliau dari sikap sombong dan berbangga-bangga diri atas kemenangan besar yang terwujud hanya seizin dan karena Allah. Peristiwa yang tercatat sepanjang sejarah itu ialah fathu Makkah.
Kemenangan (Al-Fath) dalam Al-Quran, khususnya dalam surah Al-Fath, memiliki makna yang mendalam dan tidak hanya terbatas pada kemenangan militer, tetapi juga mencakup kemenangan spiritual dan moral. Dalam konteks perjanjian Hudaibiyah, kemenangan ini dilihat sebagai anugerah Allah SWT yang memberikan ampunan, hidayah, dan pertolongan yang kuat bagi Nabi Muhammad SAW dan umat Muslim.
Berikut adalah beberapa aspek penting terkait hakekat kemenangan Al-Fath:
- Kemenangan Strategis: Perjanjian Hudaibiyah, meskipun pada awalnya tampak merugikan bagi umat Islam, ternyata menjadi kemenangan strategis yang membuka jalan bagi penyebaran Islam yang lebih luas di masa depan.
- Ampunan dan Hidayah: Allah SWT memberikan ampunan atas dosa-dosa Nabi Muhammad SAW, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta memberikan petunjuk ke jalan yang lurus.
- Pertolongan Allah: Kemenangan Al-Fath juga ditandai dengan pertolongan Allah SWT yang kuat, yang membantu Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi musuh-musuhnya.
- Kemenangan Spiritual dan Moral: Kemenangan Al-Fath bukan hanya kemenangan fisik, tetapi juga kemenangan spiritual dan moral, yaitu kemenangan dalam menjalankan ajaran Islam dan memperoleh keridhaan Allah SWT.
- Kemenangan Kemanusiaan: bahwa kemenangan Islam adalah kemenangan kemanusiaan, yaitu kemenangan untuk semua umat manusia dalam memperoleh hidayah Allah SWT.
Tugas kita sejatinya hanyalah mengokohkan iman, bersatu, dan berjuang. Kemudian menetapkan setiap gerak langkah dengan ats-tsabat yaitu istiqamah dan konsisten. Surat At-Taubah ayat 25-26:
لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ٢٥ ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودٗا لَّمۡ تَرَوۡهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦
“Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. (QS. At-Taubah: 25-26)
Dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah dijelaskan bahwa karena sebagian orang beriman tertipu dengan jumlah sehingga menjadikannya lalai dari tanda-tanda kekuasaan Allah, maka Dia menyebutkan kisah yang menjadi dalil kekuasaan-Nya, sehingga Dia dapat memberi kenikmatan kepada orang-orang beriman:
“Hai orang-orang beriman, Sungguh Allah telah menolong kalian di banyak tempat peperangan yang kalian tinggali untuk bertempur melawan musuh, dan menolong kalian di banyak pertempuran antara kalian dengan musuh demi memenangkan agama-Nya; Allah juga telah menolong kalian pada parang Hunain, yaitu ketika kalian tertipu dengan jumlah kalian 12.000 pasukan, sedangkan jumlah orang-orang kafir hanya 4.000 pasukan saja. Sehingga seseorang dari kalian berkata, ‘Kita tidak akan terkalahkan akibat kekurangan pasukan’. Akan tetapi jumlah kalian itu tidak dapat memberi kalian manfaat, sehingga kalian dapat dikalahkan musuh pada awal peperangan, dan bumi yang luas ini terasa sempit bagi kalian, sehingga kalian tidak dapat menemukan tempat berlindung, dan sebagian dari kalian melarikan diri.”
Kemudian Allah menurunkan ketentraman kepada RasulNya dan kepada kaum mukminin sehingga mereka bertahan kuat, dan Dia mengirimkan bantuan dengan bala tentara dari malaikat yang belum pernah mereka saksikan, kemudian mereka memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka dengan menyiksa orang-orang kafir. Itulah hukuman Allah bagi orang yang menghalangi (orang lain) dari agamaNya lagi mendustakan RasulNya.


Tinggalkan Balasan