Setiap orang pasti ingin meraih kebahagiaan. Ada yang mencarinya pada harta, yang lain pada takhta, namun tak kunjung menemukan ketenangan sejati.

Bahagia, sesungguhnya, bukanlah tujuan, melainkan buah dari cara kita menjalani hidup.
Seorang alim besar, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib, mewariskan sebuah resep agung. Beliau menulis bahwa ada tiga pilar yang menjadi tanda kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat.
- Pertama, saat nikmat menghampiri, ia bersyukur. Ia sadar sepenuhnya bahwa setiap kebaikan adalah anugerah dari Yang Maha Pemberi, lalu lisannya memuji-Nya.
- Kedua, kala uji mendera, ia bersabar. Ia menahan hati dari keluh kesah dan amarah, yakin bahwa setiap kesulitan adalah cara Tuhan menempa imannya.
- Ketiga, ketika khilaf menjerumus, ia beristighfar. Ia tidak membiarkan dosa mengeraskan hatinya, melainkan segera kembali, memohon ampun dengan penuh penyesalan.
Tiga sikap hati inilah kompas seorang mukmin. Syukur akan mengundang nikmat lebih banyak, sebagaimana janji-Nya,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ ٧
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 14)
Sabar menjadi perisai, dan istighfar menjadi penyucian.
Maka, bahagia bukanlah tentang ketiadaan masalah, melainkan tentang keelokan respons hati pada setiap takdir-Nya. Inilah denyut nadi seorang hamba yang hidupnya terhubung mesra dengan Sang Pencipta. Habéb


Tinggalkan Balasan