Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ تُرَابٍ، ثُمَّ جَعَلَهُ سَمِيعًا بَصِيرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

 

أَمَّا بَعْدُ — يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ الْمُهْتَدِينَ، وَسَبَبُ نَجَاةِ الْعَالَمِينَ.

 

 

 

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh…

 

Renungkanlah sejenak dari mana asal kita, ke mana langkah kita, dan di mana kita akan kembali.

Manusia sering berjalan di atas tanah dengan sombong, padahal dari tanahlah ia diciptakan, dan ke dalam tanah pula ia akan dikuburkan.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ

 

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah liat.”

(QS Al-Mu’minūn [23]: 12)

 

 

 

Dari tanah yang hina, Allah menciptakan makhluk yang dimuliakan dengan akal, ilmu, dan ruh.

Namun sering kali manusia lupa asalnya, lalu berbangga diri di atas bumi yang suatu saat akan menelannya kembali.

 

 

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

 

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الأَرْضِ…

 

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh permukaan bumi; maka anak-anak Adam datang sesuai dengan kadar tanah itu; ada yang lembut dan keras, baik dan buruk.”

(HR Abū Dāwūd no. 4693)

 

 

 

Maka jangan bangga dengan warna kulitmu, suku, atau kedudukanmu — sebab semuanya akan luruh menjadi tanah yang sama.

Yang membedakan hanyalah ketakwaan.

 

 

 

Wahai hamba Allah…

Perjalanan kita di dunia hanyalah sekejap di antara dua tanah.

Dari tanah kita diciptakan, di atas tanah kita berjalan, dan ke dalam tanah kita dikembalikan.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

 

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

 

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”

(QS Ṭāhā [20]: 55)

 

 

 

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

 

 

“Antara dua tanah itu terdapat ujian panjang yang menentukan tempat kembalinya manusia; apakah ke surga yang kekal atau ke neraka yang menyala.”

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

 

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian.”

(HR Tirmiżī no. 2307)

 

 

Yā akhī…

Satu napas yang keluar, belum tentu kembali.

Satu langkah keluar rumah, belum tentu pulang lagi.

Dan satu panggilan dari Allah sudah cukup untuk memutus semua cita-cita dunia.

Allah ﷻ berfirman:

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami kamu akan dikembalikan.”

(QS Al-Anbiyā’ [21]: 35)

 

 

 

Kematian bukan akhir perjalanan, tapi awal pertanggungjawaban.

Yang menemaninya bukan keluarga, bukan harta, bukan jabatan, melainkan amal yang tulus karena Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ…

 

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR Muslim no. 1631)

 

Maka siapkanlah amal yang tidak mati saat jasadmu dimakan tanah.

Hidupkan sedekah, wariskan ilmu, dan didik anak agar kelak sujud dan mendoakanmu di malam sunyi.

 

Ma‘āsyiral Muslimīn…

Hari itu pasti datang.

Tanah yang diam akan bergetar, bumi yang sepi akan berteriak.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ ۝ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ۝ قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ ۝ أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

 

“Pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, disusul tiupan kedua; hati manusia pada hari itu bergetar ketakutan, dan pandangan mereka tunduk hina.”

(QS An-Nāzi‘āt [79]: 6–9)

 

Dari tanah kita keluar lagi, dengan tubuh telanjang dan wajah pucat.

Tak ada nama besar, tak ada pangkat. Hanya amal yang berbicara.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 

يَبْلَى كُلُّ عُضْوٍ مِنَ الإِنسَانِ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ، فِيهِ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

“Seluruh tubuh manusia akan hancur kecuali tulang ekor; darinya manusia akan disusun kembali pada hari kiamat.”

(HR Bukhārī no. 4814)

 

Subḥānallāh… dari sebutir tulang sekecil itu Allah bangkitkan manusia.

Betapa mudah bagi-Nya untuk menghidupkan yang mati.

Maka bersiaplah, wahai hamba Allah, untuk hari kebangkitan dari tanah.

 

(Khatib duduk sejenak)

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

 

Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh…

 

Ketahuilah, sesungguhnya kita ini hanyalah tamu di atas tanah.

Setiap langkah meninggalkan jejak amal, setiap napas mengikis umur.

Dan setiap detik mendekatkan kita kepada tanah yang akan memeluk tubuh kita.

 

Allah ﷻ berfirman:

 

 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.”

(QS Al-Baqarah [2]: 156)

 

 

 

Kita tidak memiliki apa pun di dunia ini;

Bahkan tubuh yang kita bawa pun bukan milik kita, melainkan titipan yang akan dikembalikan.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barang siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya.”

(HR Bukhārī no. 6507)

 

 

 

Maka bahagiakanlah hatimu dengan kerinduan bertemu Allah.

Persiapkan pertemuan itu dengan taubat, dzikir, amal, dan air mata penyesalan.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُبُورَنَا رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَلَا تَجْعَلْهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النَّارِ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُبْعَثُونَ مِنَ التُّرَابِ وَقُلُوبُهُمْ تَتَلَأْلَأُ بِنُورِ الإِيمَانِ.

اللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، وَلَا تَخْتِمْ لَنَا بِالسُّوءِ، وَاجْمَعْنَا بِأَحِبَّتِنَا فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

 

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

.

 

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *