Tidak ada pendidik yang mendidik anak hal keburukan. Orangtua adalah pendidik utama bagi buah hati mereka. Mendidik bukan saja merupakan konsekuensi logis dalam status sebagai orangtua, yang lebih esensial adalah menjalankan amanah Allah SWT sehingga tugas mendidik pada dasarnya adalah tugas keTuhanan.

10 Kesalahan Yang Sering Dilakukan dalam Mendidik Anak
Ibu berdarah Turki sedang berdiskusi dengan anak

Namun, selalu saja timbul masalah dalam proses mendidik, terutama hasil didikannya tidak selalu sama dengan niat dan keinginan pendidiknya. Mengeluh dan menimpakan kesalahan pada lingkungan di luar keluarga adalah jalan pintas bagi orangtua untuk menenangkan hati, diri, dan pikirannya sementara waktu. Kondisi putra-putri tercinta perlu kearifan dalam menerima karena siapa tahu tanpa disadari para orangtua telah terjebak pada kesalahan dalam mendidik.

1. Tidak Menjadi Contoh yang Baik

Orang tua merupakan sekolah pertama bagi anak. Benar. Mengingat orang tualah yang menjadi teman sekaligus guru sebelum anak terjun ke lingkungannya. Dari sini jelas, orang tua berperan besar pada baik buruknya kepribadian anak. Karena itu, sebagai orang tua penting bagi Anda untuk memperhatikan perilaku. Sekalipun untuk perilaku sepele seperti memerintah, menasehati, cara berkomunikasi, atau perilaku lainnya.

2. Menanam Ranjau Mental.

Ranjau mental yaitu pesan-pesan tidak sehat yang disampaikan orangtua kepada anak-anaknya yang dapat berdampak negatif dan destruktif sepanjang masa pertumbuhan anak menjadi dewasa. Ranjau mental tersebut berupa:

  1. Menjadi yang terbaik dalam segala hal vs melakukan hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Banyak orangtua mendorong anak-anaknya ke satu bidang dengan berbagai alasan. Mungkin si orangtua memiliki keunggulan di bidang tertentu dan ingin anaknya menjadi jiplakan dirinya. Mungkin juga orangtua memiliki kekurangan di bidang tertentu sehingga ingin anaknya mengimbangi kekurangan itu;
  2. Diri saya adalah prestasi saya. Antara sukses dan gagal, yang terpenting adalah anak tahu bahwa mereka dicintai dan diinginkan;
  3. Emosi negatif adalah buruk. Sebenarnya bukan emosi negatifnya yang buruk tetapi bagaimana cara mengekspresikan emosi negatif tersebut. Banyak orangtua yang tidak bisa menerima bila anak mengekspresikan emosi negatif mereka karena faktor orangtua, tetapi akan mendukung berlebihan bila disebabkan oleh faktor dari luar orangtua. Dengan alasan tidak ingin anaknya bersedih, kecewa, atau marah banyak orangtua yang justru menanamkan pesan bahwa anak tidak boleh memiliki emosi negatif;
  4. Semua orang harus menyukai saya. Seorang anak yang dikondisikan untuk berada pada wilayah menyesuaikan dengan standar orang lain akan tertekan bila mendapati dirinya tidak memenuhi standar tersebut;
  5. Jangan melakukan kesalahan dan meminta pertolongan adalah salah. Tidak ada kesalahan, maka tidak akan ditemukan kebenaran. Masalahnya bukan hanya pada berusaha tidak membuat kesalahan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana solusi, cara memperbaiki kesalahan, memetik pelajaran dari kesalahan yang menyebabkan kegagalan

3. Menuntut dengan Ekspektasi Terlalu Tinggi

    Mengarahkan anak agar memiliki kemampuan hebat, jelas penting dilakukan. Namun akan salah, jika arahan tersebut berubah menjadi sebuah ekspektasi yang terlalu tinggi. Akibatnya, jika ekspektasi tak sesuai, orang tua tanpa sadar menuntut hingga membuat anak merasa tertekan. Dalam pembentukan kepribadian, cara ini tentu salah. Sebab akan membuat anak menjadi pribadi yang tidak percaya akan kemampuan dirinya.

    4. Menunggu Anak Berperilaku Buruk

    Banyak orangtua terlalu sibuk sehingga lupa memberikan pujian, atau memberikannya dengan tidak tulus. Anak tidak suka diabaikan dan ingin diperhatikan. Tetapi dengan alasan terlalu sibuk, justru orangtua baru memperhatikan saat anak sudah berperilaku buruk dan sudah melakukan kesalahan. Sehingga banyak anak justru merasa dengan berperilaku buruklah mereka akan mendapatkan perhatian orangtua. 

    Banyak orangtua lebih memperhatikan hal-hal negatif dari anaknya dan bukan pada hal-hal positifnya. Hal positif menjadi sesuatu yang langka karena kita selalu mengabaikannya, dan baru mencari-carinya bila perilaku buruk muncul.

    5. Tidak Konsisten

    Konsistensi adalah cara penting untuk menolong anak mengembangkan rasa aman dan terjamin. Banyak alasan yang digunakan orangtua, mulai terbatasnya waktu, kesibukan, stres, tidak tega, atau dengan teori-teori yang bisa membenarkan inkonsistensi itu.  

    (1) Rutinitas yang konsisten; (2) disiplin yang konsisten

    6. Tidak Menginginkan Komunikasi Terbuka

    Banyak orangtua yang menikmati menjadi orangtua yang (1) otoriter; (2) penceramah; (3) suka menyalahkan; (4) suka menggampangkan. Kemampuan berkomunikasi dengan anak seharusnya diawali dengan kemauan untuk mendengarkan. Komunikasi terbuka akan meminimalisir adu kekuatan antara orangtua dan anak.

    7. Mengkritik dengan Cara yang Salah

    Sebuah kritikan dilakukan untuk membuat anak tahu mengenai kesalahan yang dilakukan. Namun bukan berarti kritikan diberikan dengan cara yang salah. Misalnya, dengan kalimat memojokkan, membentak, atau bahkan memukulnya. Alih-alih tahu kesalahannya, kritikan tersebut justru akan mengalirkan sikap buruk pada kepribadian anak.

    8. Sering Membandingkan

    Dalam bentuk apapun, membandingkan kemampuan anak Anda dengan anak lainnya jelas salah. Sebab setiap anak sesungguhnya memiliki tingkat kemampuan berbeda. Pemberian motivasi dengan cara membandingkan bukan satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Anda tetap bisa memberikan motivasi melalui cara yang baik seperti membakar semangat dengan kalimat yang halus dan memotivasi.

    9. Memainkan Peran sebagai Pemberes Masalah

    Orangtua merasa harus selalu hadir menjadi pemberes masalah yang dihadapi anak. Hal ini justru akan menumpulkan keterampilan pemecahan masalah secara mandiri pada diri anak. Biarkan anak belajar konsekuensi logis, tanpa harus memecahkan masalah untuk mereka, kecuali yang menyangkut masalah keamanan.

    10. Terlalu Sering Memuji

    Sesekali pujian memang perlu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan anak. Namun jangan berlebihan, seringnya kesalahan dalam mendidik anak pada poin ini dilakukan justru karena pemberian pujian terlalu berlebihan. Padahal, bukan berefek baik,cara ini justru akan membuat anak menjadi pribadi yang cepat puas akan kemampuan yang mereka miliki.

     


    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *