1. Pendahuluan dan Hakikat Kehidupan Dunia

Kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah sebuah tempat persinggahan yang sangat singkat dan sementara, namun bersifat krusial karena menjadi penentu utama nasib manusia kelak di kehidupan akhirat yang abadi. Mengutip pesan dakwah Ustaz Adi Hidayat, manusia di muka bumi ini tak ubahnya seorang tamu. Setiap tamu pada akhirnya pasti akan kembali ke rumah asalnya, sehingga setiap individu hendaknya menyiapkan dan membawa oleh-oleh terbaik berupa amal shalih untuk menyambut Sang Pencipta yang Maha Pemurah.

5 Alasan Jangan Lelah Beramal Sholeh
Ilustrasi: Keindahan Dunia

Kehidupan ini diibaratkan sebagai sebuah ladang tempat bercocok tanam. Apa pun yang ditanam oleh seseorang pada hari ini di dunia, itulah yang akan ia panen di akhirat kelak. Jika seseorang secara konsisten menanam benih-benih kebaikan, maka hasil panen yang akan ia nikmati di kemudian hari adalah berbagai bentuk kenikmatan dan kebahagiaan hakiki. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk merasa bosan atau lelah dalam berbuat kebaikan.

Prinsip utama dalam beramal shalih adalah perlombaan dalam kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan… (QS. Al Baqarah: 148)

Setiap detik dalam kehidupan dunia hendaknya diisi dengan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT dan Rasul-Nya agar perjalanan hidup manusia di akhirat kelak berakhir dengan indah, yaitu masuk ke dalam surga-Nya.

2. Konsep Istiqomah dan Tantangan dalam Beramal

Dalam kenyataan hidup, sering kali seseorang menunjukkan semangat yang sangat tinggi di awal melakukan kebaikan. Seseorang bisa sangat rajin bersedekah, giat menolong sesama, serta aktif dalam kegiatan dakwah. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak jarang timbul rasa lelah, jenuh, atau bahkan kecewa karena merasa kebaikan dan pengorbanannya tidak dihargai oleh manusia. Perasaan-perasaan negatif tersebut kerap menyebabkan seseorang memilih untuk berhenti berbuat baik.

Padahal, Allah SWT secara tegas memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa istiqomah (konsisten dan teguh) dalam kebaikan hingga akhir hayat, demi mencapai derajat keimanan tertinggi yaitu husnul khotimah. Allah SWT berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud: 112)

Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan yang dilakukan harus tetap berjalan di atas kebenaran, tidak melampaui batas, dan senantiasa didasari kesadaran bahwa Allah SWT Maha Melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Perhatian utama dalam beramal bukanlah penilaian atau penghargaan dari manusia, melainkan pengawasan dan keridhaan dari Allah SWT semata.

3. Menjadi Manusia yang Bermanfaat bagi Sesama

Selain berbuat baik untuk kemaslahatan diri sendiri, seorang muslim juga dituntut untuk menjadi pribadi yang berguna dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi orang banyak. Hal ini bertujuan agar manusia dapat memperoleh predikat sebagai manusia terbaik di sisi Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. (HR. Bukhari & Muslim)

Untuk mewujudkan pribadi yang bermanfaat, seseorang wajib senantiasa menjalankan seluruh perintah Allah SWT, menjauhi segala larangan-Nya, serta memelihara hubungan sosial yang harmonis dengan sesama manusia, baik dalam situasi suka maupun duka. Kebaikan yang ditanamkan tidak boleh hanya terhenti pada diri sendiri, melainkan harus memancar dan dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar.

4. Keutamaan dan Balasan Berbuat Baik Menurut Al-Qur’an

Walaupun kebaikan yang dilakukan tampak memberikan dampak langsung kepada orang lain, pada hakikatnya seluruh kebaikan tersebut akan kembali membuahkan hasil bagi orang yang melakukanya sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan berbagai keutamaan dan janji balasan bagi orang-orang yang senantiasa berbuat baik:

a. Setiap Kebaikan Pasti Membuahkan Kebaikan Kembali

Tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah selama kebaikan tersebut dilandasi oleh iman dan takwa. Hal ini sesuai dengan firman Allah ﷻ :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rahman: 60)

b. Kebaikan Menjadi Tabungan bagi Diri Sendiri

Segala perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya dirasakan oleh dirinya sendiri. Allah SWT berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri… (QS. Al-Isra’ (17): 7)

c. Mendapatkan Pahala Terbaik Berupa Surga dan Kenikmatan Melihat Allah

Bagi orang-orang yang senantiasa berbuat baik, Allah SWT menjanjikan balasan pahala terbaik, yaitu surga. Selain itu, Allah juga memberikan tambahan nikmat terbesar berupa kesempatan melihat wajah-Nya yang Maha Mulia. Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus (10) ayat 26:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus (10): 26)

Wajah orang-orang yang berbuat baik di akhirat kelak akan tampak berseri-seri, gembira, serta terbebas dari segala bentuk kesusahan dan kehinaan.

d. Menyertakan Pertolongan dan Perlindungan Allah

Allah SWT akan senantiasa bersama, melindungi, dan mendukung orang-orang yang bertakwa serta mereka yang senantiasa berbuat ihsan. Teguran dan janji ini termaktub dalam ayat berikut:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. An-Nahl (16): 128)

e. Mendekatkan Diri pada Rahmat Allah

Manusia dilarang keras berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah membenahinya. Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk berdoa dengan rasa takut dan harap. Rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang gemar berbuat baik, sebagaimana tertulis dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’raf (7): 56)

f. Kewajiban Membalas Kebaikan Allah dan Menggapai Akhirat

Manusia diimbau untuk menggunakan segala anugerah yang telah diberikan oleh Allah untuk menggapai kebahagiaan di akhirat, tanpa melupakan kenikmatan duniawi. Manusia juga dituntut berbuat baik kepada sesama sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qashash (28) ayat 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash (28): 77)

5. Menjadi Pribadi Unggul dan Beraksi Nyata

Seorang muslim dituntut untuk berusaha menjadi pribadi yang unggul (we must to be excellent). Pemberian nama yang baik dari orang tua merupakan bentuk doa dan cita-cita. Namun, nama yang baik tidak secara otomatis menjamin pemiliknya menjadi orang baik jika tidak diiringi dengan ikhtiar dan perbuatan nyata.yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

Sebagai contoh konkret dalam kehidupan:

  • Seseorang bernama “Slamet” belum tentu selamanya selamat.
  • Seseorang bernama “Sabar” belum tentu memiliki sifat penyabar.
  • Seseorang bernama “Syukur” belum tentu senantiasa bersyukur.
  • Seseorang bernama “Bejo” belum tentu selalu beruntung.

Oleh sebab itu, kebaikan harus diwujudkan melalui aksi dan kepedulian sosial yang nyata untuk membahagiakan orang lain :

  • Jika melihat orang yang kelaparan, berikanlah ia makanan.
  • Jika ada orang yang sakit, datanglah untuk menjenguknya.
  • Jika ada orang yang membutuhkan pakaian, berikanlah pakaian padanya.
  • Jika ada orang yang buta atau kesulitan, bantu dan datangilah mereka.

6. Lima Alasan Utama Mengapa Tidak Boleh Bosan Berbuat Baik

Terdapat lima alasan mendasar mengapa seorang muslim tidak boleh merasa jenuh dalam menebar kebaikan di dunia:

1. Kebaikan Adalah Tabungan Akhirat yang Abadi

Di dunia ini, kekayaan harta akan habis, jabatan akan hilang, dan teman-teman akan meninggalkan kita. Ketika seseorang meninggal dunia, seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal yang terus mengalirkan pahala. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim)

2. Allah Tidak Pernah Bosan Membalas Kebaikan Manusia

Allah SWT tidak akan pernah menzalimi atau menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Janji ini ditegaskan dalam ayat:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

…Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. At-Taubah (9) : 120)

3. Kebaikan Mengundang Kebaikan dan Rezeki Tak Terduga

Berlaku hukum alam dan syariat: “Barang siapa menanam, pasti ia akan mengetam (memanen)”. Orang yang baik akan dipertemukan oleh Allah dengan orang-orang baik pula. Ketaqwaan dan ketaatan akan membukakan jalan keluar dari segala permasalahan hidup serta membawa rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya… (QS. At-Thalaq (65): 2-3)

4. Kita Tidak Pernah Tahu Amal Mana yang Membawa ke Surga

Manusia tidak memiliki pengetahuan pasti tentang amal mana yang diterima dan menjadi penyebab utama dirinya dimasukkan ke dalam surga. Dalam riwayat dijelaskan bahwa ada seorang wanita pezina yang diampuni dan masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Ada pula orang yang masuk surga karena menyingkirkan ranting pohon di jalan yang mengganggu orang lewat, atau karena memberikan nasihat kebaikan. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan amal sekecil apa pun.

5. Kehidupan Dunia Hanya Sementara

Rasa lelah dalam berbuat baik di dunia hanya berlangsung sebentar, namun pahala yang diterima di akhirat bersifat abadi. Allah SWT mengingatkan hakikat kematian dan kehidupan dunia dalam ayat berikut:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali ‘Imran (3): 185)

7. Penutup dan Doa

Sebagai penutup, pepatah Arab mengingatkan: “Lakukanlah kebaikan walaupun tidak ada manusia yang melihatnya, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat.”

Teruskanlah menanam benih-benih kebaikan di mana pun berada, dan biarkan Allah SWT yang menumbuhkan serta menentukan waktu panen pahalanya. Ingatlah selalu firman-Nya: “Jika kamu berbuat baik, maka itu untuk dirimu sendiri” (QS. Al-Isra’: 7).

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan keistiqomahan kepada kita semua dalam berbuat kebaikan hingga akhir hayat.

نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (makin dekat). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.

Naskah oleh KH. Mustaqim, M.Ag, disampaikan pada 02 Agustus 2026


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *