هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَـٰنًۭا مَّعَ إِيمَـٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًۭا ٤

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana, (QS. Fath: 4)

Kebahagiaan dalam Islam meliputi kebahagiaan yang bersumber dari iman yang kokoh, hati yang bersih (qalbun salimun) , kedekatan dengan Allah melalui ketaatan dan ibadah, serta menjalani hidup sesuai ajaran agama Islam yang ada dalam Al Quran dan Sunnah. Kebahagiaan hakiki bersifat abstrak dan hanya bisa dirasakan oleh hati. Berbeda dengan dengan kebahagiaan duniawi yang bersifat sementara dan sering disalahartikan sebagai materi belaka.

Kebahagiaan adalah impian, dimana semua orang ingin memiliki dan mendambakannya, dan tidak ada seorangpun yang ingin menderita dalam hidupnya, namun belum tentu setiap orang memahami konsep kebahagiaan bagi seorang muslim. Seorang mukmin disebiut bahagia adalah apabila selalu taat memenuhi syariat Tuhannya dan memenuhi hak-hak antar sesama.

Hakikat Kebahagiaan Menurut Islam
Hakikat Kebahagiaan Menurut Islam

Kadar kebahagiaan itu berbeda beda nilainya antar manusia, seseorang tidak akan merasakan kebahagiaan apabila dalam dirinya selalu penuh keinginan dan dibarengi dengan nafsu. Ia lupa bersyukur dengan apa yang dimilikinya, orang yang seperti ini termasuk orang yang kufur nikmat, Ia tidak akan pernah puas akan nikmat yang didapatkannya karena Allah telah mencabut rahmat yang ada pada dirinya.

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌۭ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ٥٨

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Dari sikap manusia dalam menghadapi dunia ada empat golongan:

  1. Orang yang tidak/ kurang bahagia di dunia tetapi bahagia di Akherat
  2. Orang yang bahagia di dunia tetapi tidak bahagia di akhertat
  3. Orang yang tidak bahagia di dunia dan tidak bahagia di akherat
  4. Orang yang bahagia di dunia dan bahagia di akherat.

Sebagaimana Allah berfirman:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُوا۟ فَفِى ٱلنَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌۭ وَشَهِيقٌ ١٠٦ خَـٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌۭ لِّمَا يُرِيدُ ١٠٧ ۞ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُوا۟ فَفِى ٱلْجَنَّةِ خَـٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۖ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍۢ ١٠٨

Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tempatnya) di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya. (QS: Hud: 106-108)

Empat Kebahagiaan Dunia Akherat

Empat kebahagiaan dunia Akherat menurut perspektif Islam adalah istri sholihah, anak yang berbhakti, teman yang baik dan rezekinya halal dan negerinya sendiri. Sebagimana dalam hadits Riwayat Adailami.

اربع من سعادة المرء ان تكون زوجته صالحة واولاده ابرارا و خلطاءه صالحين وان يكون رزقه فى بلده

Empat macam dari kebahagiaan manusia, yaitu istri yang sholihah, anak yang berbhakti, teman temanya adalah orang orang yang baik, dan mata pencahariannya berada dalam negaranya sendiri. (HR. Dailami)

Istri sholihah bukan hanya penyejuk hati bagi suaminya tapi juga menjadi instrumen untuk mencetak generasi sholih karena seorang ibu, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak anaknya. Indikator istri yang sholihah menurut Rasulullah adalah “Jika dipandang suaminya menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara perkara yang dibencinya, baik dalam diri maupun harta“ ( HR. Ahmad)

Dan bagi seorang istri mendapatkan suami yang sholih juga merupakan kebahagiaan yang tak terhingga. Suami yang baik adalah suami yang bisa menjadi teladan bagi istri dan anak anaknya sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu majah yang artinya

“Sebaik baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian terhadap istriku”. (HR. Ibnu Majah).

Memiliki Anak anak yang berbhakti merupakan kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Kebahagiaanya tidak hanya dirasakan di dunia tapi sampai di akherat. Rasulullah mengajarkan bahwa doa anak sholih merupakan amalan yang tak terputus walaupun orang tuanya sudah meninggal.

Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara , yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya (HR. Muslim)

Teman yang baik adalah yang menjadi sahabat sejati baik dalam suka maupun duka, mereka tidak hanya menolong dalam kesusahan, tetapi juga menjadi pengingat kita salah, menjadi pendorong semangat dalam dalam melakukan ketaqwaan dan kebaikan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar kita selektif dalam memilih teman yang sholih yaitu hendaknya yang beriman dan bertaqwa dan berakhlak mulia.

Mata pencaharian merupakan sarana mencari nafkah, jika pekerjaan tidak jauh atau tidak sampai luar negeri , maka kita tetap bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari, maka akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, dan selain itu akan lebih dekat dan akrab dengan anggota keluarga.

Beberapa Kunci untuk Meraih Kebahagiaan Hidup

1. Keimanan yang kuat: keyakinan yang teguh kepada Allah SWT menjadi fondasi utama kebahagiayaan, karena orang yang beriman akan selalu merasa dekat dan berada dibawah naungannya.

2. Qalbun salimun: hati yang suci dan terbebas dari sifat sifat negative seperti dengki, sombong, marah akan menumbuhkan emosi yang positif. (QS. Al Fath : 4)

3. Bersyukur ketika mendapat nikmat: dengan sikap demikian setiap orang akan tetap mendapatkan tambahan nikmat dan keberkahan.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ ٧

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Sikap ini tidaklah mudah, kita baru bisa bersyukur jika kita merasa bahwa apa yang ada pada diri kita adalah pemberian Allah yang sudah banyak dan tak terhingga, sehingga kita tidak dapat menghitungnya. Dalam persoalan nikmat yang diberikan kepada kita agar kita dapat bersyukur maka lihatlah orang yang dibawahmu, sebagaimana Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi

“Lihatlah orang yang nikmatnya di bawah kalian , jangan melihat orang yang nikmatnya diatas kalian. Dengan ini akan lebih memungkinkan, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah pada diri kalian”

4. Bersabar Ketika mendapat ujian. Ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia, bahkan tidak ada manusia yang tidak pernah mendapatkan kehidupan. Tidak ada kenikmatan di dunia ini yang mutlak, sehebat apapun manusia , sekaya apapun kenikmatan yang kita terima pasti bercampur dengan ujian. Namun orang yang beriman bisa mengkondisikan keadaan yang sejatinya pahit ini sebagian dari kebahagiaan itulah sikap sabar dan berharap mendapat pahala dari Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala sepadan dengan besarnya ujian, sesungguhnya jika Allah mencintai hambanya, maka Allah akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan taqdir Allah, maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Siapa yang marah ( dengan taqdir Allah ) , maka dia akan mendapatkan murka Allah” (HR. Turmudzi & Ibnu Majah)

5. Memohon ampunan Ketika Berdosa. Sikap orang Mukmin yang bertaqwa jika punya dosa dia akan segera beristighfar dan bertaubat. Sebagaimana Allah berfirman

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ١٣٥

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135)

Demikianlah tabiat manusia yang tidak bisa dihindari, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana seorang mukmin bisa segera bertaubat ketika melakukan dosa.

6. Ketaatan dan Ibadah: melaksanakan perintah Allah dan melakukan amal sholih akan membantu meraih kebahagiaan dunia dan akherat.

7. Qanaah: menerima segala taqdir dan ketentuan Allah dengan hati yang lapang yang sejalan dengan rasa syukur dan ketengan hati.

8. Berbuat baik dan Silaturrahmi: Menolong sesame, bersikap ramah, serta menjaga hubungan baik dengan orang lain juga merupakan bagian dari meraih kebahagiaan.

Kesimpulan

Hakikat kebahagiaan hidup adalah ketentraman dan kedamaian hati dan jiwa, dan dalam Islam bisa dirasakan ketika hidup di dunia dan juga bisa di akherat, sebagaimana doa yang setiap hari panjatkan ke hadhirat Allah

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al Baqarah: 201)

Materi Ahad Pagi: Edisi 1181 | 17 Rabiul Awal 1447 H/07 September 2025


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *